Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 22 Kabar Bahagia


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Hoek.Hoek.Hoek.Hoek. Zahra memuntahkan semua isi perutnya setelah sarapan tadi pagi. Zidan yang sedang memakai kemejanya mengeryitkan keningnya karena mendengarkan suara Zahra muntah di kamar mandi. Sudah lima menit lebih Zahra di dalam kamar mandi.


“Sayang, kamu kenapa?” Zidan khawatir lalu mengetuk pintu kamar mandi.


Tak lama Zahra keluar dengan mata berair karena semua isi perutnya sudah keluar bahkan masih terasa ingin muntah dan itu pun hanya cairan yang keluar.


“Nggak tahu, Mas. Perut ku terasa diaduk-aduk” Zidan memapah Zahra ke tempat tidur.


“Wajah kamu pucat. Mas ambilkan air hangat kuku, ya” Zahra hanya mengangguk dan berbaring di atas tempat tidur.


“Lho, Zi, belum berangkat kerja?” tanya mamanya heran melihat Zidan hendak ke dapur.


“Kayaknya Zi nggak jadi ke kantor, Zahra kurang sehat, Ma” jawab Zidan.


“Zahra kenapa, Sayang?” tanya mamanya cemas.


“Dia memuntahkan semua sarapan pagi tadi” jawab Zidan.


“Muntah?” gumam mamanya tersenyum. Jangan-jangan Zahra...


“Zi, kamu kerja aja. Biar Zahra mama yang jaga”


“Tapi, Ma...”


“Udah nggak usah cemas, ada mama”


“Baiklah, Ma. Kalau ada apa-apa cepat kabari Zi” mamanya hanya mengangguk.


"Ayo, diminum airnya" ujar Zidan sambil membantu Zahra bersandar di kepala ranjang.


"Makasih, Mas" ucap Zahra pelan setelah menghabis air hangat kuku yang dibawakan Zidan.


"Mas tinggal ke kantor nggak apa, kan?" tanya Zidan mengelus puncak kepala Zahra. Zahra tersenyum mengangguk.


"Mas pergi, ya" pamit Zidan lalu mengecup kening Zahra. Zahra pun menarik tangan Zidan dan mencium punggung tangannya.


"Udah sana ke kantor" ucap Nancy yang tiba-tiba berdiri di muka pintu kamar yang sengaja tidak ditutup Zidan.


"Iya mama Sayang" toleh Zidan.


"Mas pergi, ya. Assalamualaikum" pamit Zidan lalu keluar kamar.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" balas Nancy dan Zahra serempak.


***


“Gimana sayang hasilnya?” tanya Nancy tak sabaran setelah memberikan tespack kepada Zahra.


Mama mertuanya mengambil tespack setelah Zidan pergi kerja dan memberikannya kepada Zahra. Nancy duduk di tepi ranjang menunggu Zahra. Sementara Zahra masih di dalam kamar mandi harap-harap cemas melihat tespack yang di pegangnya apakah hasilnya segaris atau dua garis. Nancy sudah feeling kalau muntah-muntah di pagi hari itu salah satu tanda wanita hamil muda. Makanya dia mengambil tespack yang sudah dibelinya beberapa hari yang lalu untuk persiapan kalau nanti Zahra membutuhkan.


Beberapa menit kemudian Zahra keluar dari kamar mandi. Zahra tersenyum menghampiri mama mertuanya.


”Gimana? Berapa garis?” tanya Nancy tak sabaran.


“Alhamdulillah dua garis, Ma” jawab Zahra tersenyum bahagia.


“Zahra!!” peluk Nancy.


“Selamat, ya. Mama bentar lagi punya cucu” ujar Nancy lagi, dia tidak dapat membendung rasa bahagianya.


[Ada apa, Ma?] tanya Zidan cemas kenapa mamanya tiba-tiba menelpon. Apakah telah terjadi sesuatu dengan Zahra.


[Mama ganggu kamu nggak?] tanya Nancy takut telpon darinya mengganggu kerja Zidan.


[Nggak kok, Ma. Zi sedang membaca laporan aja] jawab Zidan lalu menutup berkas laporan yang diberikan oleh Adam.


[Iyalah, Ma. Kalau kami nanti punya anak ya mama akan menjadi nenek] balas Zidan biasa saja.


Zidan lalu diam sejenak mencerna kalimat mamanya. Ya Tuhan. Zidan baru sadar apa maksud mamanya. Sementara mamanya menggelengkan kepala ternyata Zidan belum nyambung.


[Ma, maksud mama Zahra hamil?"] tanya Zidan memastikan.


[Iya, Sayang. Zahra kamu hamil. Kok nggak nyambung, sih] jawab Nancy gemas.


[Alhamdulillah] Zidan tersenyum bahagia.


***


Setelah ditelpon mamanya, Zidan jadi tidak sabaran untuk segera pulang. Zidan akhirnya pulang agak cepat dari biasanya. Dia ingin segera memeluk Zahra. Sepanjang jalan wajah Zidan selalu tersenyum setelah mendengarkan kabar dari mamanya bahwa Zahra tidak apa-apa, dia muntah-muntah karena hamil muda.


“Assalamualaikum”


Zidan membuka pintu kamarnya. Zahra yang sedang tiduran di atas ranjang segera bangun menghampiri Zidan.


“Mas, kok pulang cepat?” tanya Zahra heran. Zahra membuka jas yang melekat di badan suaminya.

__ADS_1


“Kangen sama kamu” jawab Zidan tersenyum.


Aku suka banget lihat senyum kamu, Mas. Zahra menatap mata suaminya sembari tangannya melepaskan ikatan dasi Zidan.


“Sayang, Mas bahagia sekali mendengar kamu hamil” Zidan melingkarkan tangannya di pinggang Zahra.


Zahra memeluk suaminya. “Pasti mama yang kasih tau, padahal aku mau kasih surprise buat Mas” ujar Zahra pelan. Zidan mengecup kening Zahra dan membalas pelukan istrinya itu.


"Kamu nggak muntah-muntah lagi, kan?" tanya Zidan mengelus pipi Zahra.


"Nggak lagi, kayaknya hanya pagi aja mualnya" jawab Zahra.


"Syukurlah kalau begitu. Sayang, Mas mau mandi dulu, ya" ujar Zidan ingin melepaskan pelukannya, namun Zahra justru mengeratkan pelukannya kepada Zidan.


"Nanti aja, Mas" rengek Zahra.


"Nggak bau apa?" tanya Zidan heran melihat Zahra nempel banget dengannya.


"Aku suka aroma Mas Zidan, kok" jawab Zahra.


Walaupun Zidan belum mandi, aroma parfum yang Zidan pakai di kemejanya tetap awet meskipun seharian beraktivitas.


Zidan tersenyum mendengarkan jawaban Zahra lalu mengecup puncak kepala Zahra.


"Aku buka ya, Mas"


Zidan merenggangkan pelukannya dan membiarkan Zahra membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Za, kamu nggak sedang menggoda Mas, kan?" tatap Zidan nakal.


"Apa sih, Mas. Orang cuma mau bantuin Mas buka baju aja" jawab Zahra tersipu malu.


Zidan menunduk lalu menciumi leher Zahra.


"Sepertinya Mas yang tergoda" bisik Zidan dengan suara serak.


Zahra menggeliat menghindari serangan Zidan yang menciuminya.


"Mas, udah dong. Geli tau nggak" ronta Zahra malu dengan sikapnta tadi yang akhirnya membuat Zidan menginginkannya.


"Nggak bisa. Salah siapa coba" tolak Zidan kemudian menghentikan aksinya sejenak menatap Zahra.


"Biar mandi sorenya nggak sia-sia dan kita bisa mandi bareng" kedip Zidan meminta persetujuan Zahra.

__ADS_1


Zahra hanya pasrah karena Zidan sudah menggendong badannya dan membawanya ke atas ranjang.


__ADS_2