
Zahra yang sedang duduk di tepi ranjang menatap suaminya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Zidan yang merasa sedang diperhatikan oleh Zahra menjadi salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Zidan heran mendekati Zahra.
"Sexy" jawab Zahra singkat sambil menyunggingkan senyum. Zidan terkekeh mendengarkan ucapan Zahra.
"Kamu itu yang makin hari makin sexy di mataku" balas Zidan.
Memang benar, di mata Zidan ketika Zahra hamil dia terlihat begitu cantik dan keibuan dan tentu saja sexy dengan perut yang semakin membesar.
"Ihh, bilang aja kalau aku tambah gemuk Mas. Pakai bilang sexy segala" ujar Zahra cemberut.
Zidan sudah selesai memakai kemeja dan jasnya. Zidan menarik tangan Zahra agar berdiri dari tepi ranjang.
"Mas, nggak bohong, kok" ucap Zidan pelan.
Zahra tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke leher Zidan. Perut buncitnya menjadi penghalangnya untuk memeluk Zidan.
"Mas, hari ini nggak usah ke kantor, ya" pinta Zahra manja.
"Hari ini Mas ada meeting, Sayang" ada gurat kecewa di wajah Zahra ketika mendengarkan penolakan dari Zidan.
Zahra melepaskan rangkulan tangannya dan berbalik memunggungi Zidan. Sekilas bayangan peristiwa lalu di mana Zidan pernah menolak keinginan Zahra untuk tidak pergi ke kantor terlintas di pikirannya. Karena itulah Zahra mengalami kecelakaan dan hampir kehilangan nyawanya. Zidan tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Zidan segera melepas jas serta kemejanya dan hanya menyisakan kaos dalamnya.
Zahra merasa heran kenapa pintu kamar belum terbuka juga.
"Bukannya Mas Zidan ada meeting. Apa dia tidak takut terlambat?" batin Zahra.
Zahra pun berbalik dan terkejut melihat suaminya bertelanjang dada rupanya kaos dalam juga dilepaskannya.
"Mas!!" pekik Zahra. "Katanya ada meeting? Kenapa..."
"Kan kamu yang minta agar Mas tidak usah ke kantor" jawab Zidan santai.
Zidan sudah menghubungi sekretarisnya agar meeting dicancel karena alasan istrinya persiapan mau melahirkan.
Zahra tersenyum bahagia. "Jadi Mas nggak ke kantor?" tanya Zahra kurang yakin. Zidan mengangguk.
"Dek, hari ini kita sama ayah seharian" ujar Zahra mengelus perut besarnya sambil tersenyum lebar.
Zidan lalu berjongkok dan mencium perut Zahra. "Bunda, dedek seneng banget ya, ayah nggak kerja."
__ADS_1
Zahra tertawa geli. "Iya, soalnya ayah dedek sibuk sekali, sih" guyon Zahra mengusap rambut Zidan. Alhasilnya rambut Zidan yang sudah disisir rapi menjadi berantakan.
"Memangnya kamu mau ke mana hari ini?" tanya Zidan lalu berdiri.
"Mas, kandungan ku udah jalan sembilan bulan. Kita periksa ke dokter lagi, ya?"
"Hm, kenapa kamu ada keluhan?" Zidan balik bertanya.
"Nggak ada, Mas. Si dedek aktif banget nih nendangin Bundanya" jawab Zahra meringis kaget merasakan gerakan baby boy mereka.
Zidan begitu takjub melihat perut Zahra begerak-gerak di balik baju gamisnya.
"Masya Allah, anak ayah aktif banget"
Zidan mengelus perut Zahra lagi. Kali ini elusan Zidan untuk menenangkan gerakan janin di dalam kandungan Zahra.
"Anak ayah jangan nendangin Bunda terus, ya. Kasihan Bunda dedek jadi kesakitan" gumam Zidan di perut Zahra.
"Mas, dedeknya nurut sama Mas, nih. Sekarang jadi lebih tenang" bisik Zahra.
"Iya, dong. Kan ayahnya" ujar Zidan bangga. Zahra memanyunkan bibirnya.
***
"Masya Allah. Mas!!!!" teriak Zahra memanggil Zidan.
Zidan yang merasakan tangannya dicengkram cukup kuat dan mendengarkan teriakan Zahra spontan duduk dan melihat ke arah Zahra yang sudah meringgis kesakitan.
"Ya Allah, Za. Kenapa, Sayang?" tanya Zidan sangat panik.
"Mas, sakiiit!!" jerit Zahra.
"Iya...iya. Terus Mas harus bagaimana?" tanya Zidan gelabakan. Dia belum pengalaman jadi tampangnya sudah kayak orang linglung.
"Sepertinya aaaku mauu melahirkan. Allahuakbar. Ya Allah!!" jerit Zahra memegangi perutnya. Bukannya HPLnya tiga hari lagi. Kenapa jadi maju begini?
"Iya, Sayang. Mas bangunin mama dulu, ya" Zidan segera berlari panik memanggil mamanya.
"Zi, kok HPL Zahra maju? Bukannya tiga hari lagi?" tanya Nancy keluar kamar diiringi Dirga menuju kamar Zidan.
"Nggak tahu, Ma. Zahra udah kesakitan begitu" jawab Zidan.
"Ya, udah. Pa, keluarkan mobil dan Zidan siapkan beberapa pakaian Zahra dan bayi kalian" perintah Nancy.
__ADS_1
"Udah, Ma. Pakaian emang udah kami siapkan jauh-jauh hari" balas Zidan.
"Ya udah. Tasnya langsung kasih ke papa dan kamu cepat bawa Zahra ke mobil" instruksi Nancy. Zidan mengangguk.
"Mass" panggil Zahra lemah, tenaganya melemah. Kini sakit yang dirasakannya hampir tiap sepuluh menit sekali.
"Iya, Sayang, sabar. Tahan, ya, sampai di rumah sakit" ujar Zidan menggenggam tangan Zahra.
"Za, jangan ngeden, ya. Bentar lagi kita sampai" ingat Nancy bisa berabe kalau Zahra sampe brojol di dalam mobil.
Zahra hanya mengangguk lemah. Kepalanya bersandar di pundak Zidan. Ketika sakit mulai terasa lagi Zahra menggenggam erat tangan Zidan hingga Zidan pun menahan sakit karena tangan Zahra yang lain mencengkram kuat paha Zidan.
***
"Mas temani aku, ya" pinta Zahra.
Zidan mengangguk. Dokter pun mengizinkan Zidan untuk menemani Zahra melahirkan.
Zahra sudah sekuat tenaga mengedan dan dengan pekikan takbir bayi laki-laki yang mereka tunggu akhirnya keluar juga ke dunia.
Zahra menarik napas, peluh membanjiri dahinya. Bahkan terasa di punggungnya pun basah oleh keringat. Zidan mengelap dahi Zahra dengan tisu. Zidan masih membisu karena telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Zahra telah berjuang melahirkan buah cinta mereka berdua.
Setelah Zahra masuk ke kamar inap, Zidan mengabari kelahiran anak mereka kepada Monica dan Adam.
"Ochi, selamat, ya. Wah, gantengnya baby boy Ochi" ucap Monica riang.
"Kayak ayahnya" sela Zidan tersenyum melirik bayinya yang sedang digendong Nancy.
"Hahaha. Mas Zidan nggak mau kalah" balas Monica.
Tak lama Adam dan istrinya datang membesuk. Adam menjabat tangan Zidan dan mengucapkan selamat.
"Senangnya yang dapat baby boy" ucap Adam tersenyum.
"Iyalah, Dam. Aku bakal ada temen main" ujar Zidan tertawa kecil.
"Doain, Zi. Semoga aku juga mendapatkan baby boy kayak kamu" bisik Adam.
"Lho...istrimu?"
"Iya, Tante Fanny sedang hamil Mas Zidan" sela Monica.
"Oh...selamat kalau gitu" ucap Zidan ikut bahagia.
__ADS_1
"Selamat, ya, Pak Adam dan Mba Fanny" Zahra yang mendengarkan pembicaraan mereka juga ikut bahagia.