
Keadaan Mas Zidan sudah membaik. Luka lebamnya juga berangsur menghilang. Alhamdulillah hasil sidang ku memuaskan. Aku mendapatkan nilai A. Mama dan papa ikut bahagia. Mas Zidan? Tentu saja dia ikut bahagia juga. Dia mengantar ku ke kampus dan menunggu ku sampai sidang selesai. Sampai teman-teman ku heran melihatnya. Begitu juga dengan Monica, dia kaget bukan main melihat kehadiran Mas Zidan. Aku terpaksa menceritakan yang sebenarnya hingga membuatnya melongo tak percaya sama seperti Omnya, Pak Adam.
"Ochi!! Jadi sewaktu kita makan di restoran itu kalian pura-pura nggak kenal, ya" ujar Monica kesal lalu memukul bahu ku. Aku tertawa geli kalau teringat itu.
"Iya, maaf. Soalnya sudah kesepakatan dari Mas Zidan kalau pernikahan kami dirahasiakan dulu" jelas ku memberi alasan.
"Ayo, pulang. Sudah selesai, kan?" ajak Mas Zidan.
"Hm pantesan ya, Om Zidan ngeliatin Ochi terus waktu di restoran. Kalian berdua pintar akting juga, ya" pelotot Monica kepada Zidan.
Zidan yang baru sadar apa yang dibicarakan Monica hanya menyunggingkan senyuman.
"Aku pulang dulu ya, Mon" pamit ku kepada Monica. Aku nggak enak karena Mas Zidan udah lama menunggu ku.
Selain Monica, mama dan papa mertua ku juga terkejut kalau selama ini aku kuliah di kedokteran. Mereka mengomeli ku kenapa tidak memberitahu mereka. Apalagi setelah tahu aku bekerja sebagai Office Girl di perusahaan papa untuk menambah biaya kuliah ku, papa sangat marah. Aku menjelaskan ke mereka soal itu aku sudah bekerja sebagai Office Girl sebelum bertemu dengan mama dan papa. Jadi mana aku tahu.
Acara resepsi pernikahan aku dan Mas Zidan juga tidak lama lagi. Aku juga sudah tidak bekerja di perusahaan papa. Hmm, bagaimana sikap Pak Adam dengan Mas Zidan setelah kejadian itu, ya?.
Semakin lama jantung ku semakin berdegup kencang ketika bertatap muka dengan Mas Zidan. Ah, aku seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta saja. Ya, aku sudah jatuh cinta dengannya. Wajah Mas Zidan juga tidak sedingin dulu, bahkan senyum kecil di bibirnya sering terlihat oleh ku.
“Za, kasih tahu Zidan. Besok ambil baju pengantin kalian di butik tante Siska, ya” panggil mama setelah aku menyiapkan perlengkapan makan di meja untuk kami makan malam.
__ADS_1
“Iya, Mas Zidannya di mana, Ma?” tanya ku karena aku belum bertemu dengannya walaupun suara mobilnya ketika pulang kerja sudah terdengar oleh ku. Aku sibuk membantu mama membuat menu untuk makan malam.
“Kayaknya di kamar” jawab mama.
“Iya, Ma. Za mau menemui Mas Zidan dulu, Ma” kata ku meninggalkan mama yang sedang menyiapkan makan malam.
Aku masuk ke kamar dan menghampiri Mas Zidan yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Saking semangatnya tanpa aku sadari kaki ku tersandung ambal dan menabrak badan jangkung Mas Zidan. Posisi yang memalukan sekali, aku berada tepat di atas badan Mas Zidan. Mata kami bertemu. Mas Zidan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ku. Ku harap dia tidak mendengarkan detak jantung ku yang sudah berbunyi seperti genderang.
“Mas, a ... aku”
Aku sedikit mengangkat badan ku agar tidak menyentuh badannya. Tiba-tiba Mas Zidan membalik badan ku, kini justru posisinya ada di atas ku.
“Aku apa?” tanyanya menatap ku lekat. Hembusan napasnya dapat ku rasakan menyapu wajah ku.
Aku tidak bisa melanjutkan ucapan ku lagi karena Mas Zidan sudah mencium ku. Aku memejamkan mata tidak kuasa untuk menolaknya. Ini pertama kalinya dia mencium ku. Ciuman pertama ku.
Tok.Tok.Tok.
Terdengar suara pintu kamar kami diketuk. Aku dan Mas Zidan membuka mata dan saling tatap. Dia lantas melepaskan ciumannya kemudian berdiri. Mas Zidan tersenyum salah tingkah. Aku juga berdiri merapikan jilbab ku yang sedikit berantakan.
“Zidan, Zahra. Makan malam dulu” panggil mama dari luar pintu. Mas Zidan berjalan membukakan pintu kamar menemui mama.
__ADS_1
“Iya, Ma” sahut Mas Zidan.
“Apa mama mengganggu kalian berdua?” selidik mama dengan tatapan curiga. Mungkin karena mama melihat wajah ku merona karena malu.
“Hmm, sedikit” gumam Zidan salah tingkah. Aku yang berdiri tidak jauh di belakangnya hanya tersenyum kecil.
“Oh...maaf kalau begitu. Kita makan dulu, setelah makan bisa kalian lanjutkan lagi” kedip mama.
Mas Zidan memegang tengkuknya sambil menyunggingkan senyuman.
Ah mama, beliau seolah-olah tahu apa yang sedang terjadi di antara kami barusan. Mama sudah berlalu meninggalkan kamar kami.
"Hm, ayo kita makan" ajak Mas Zidan. Namun aku bergeming karena masih terbayang ciuman Mas Zidan tadi.
"Zahra!!" teriak Mas Zidan membuyarkan lamunan sekilas ku.
"Eh...iya, Mas" sahut ku gelagapan.
"Ngapain bengong disitu. Hm, mau ku cium lagi" godanya memandang ku.
Ucapannya sukses membuat wajah ku merah seperti kepiting rebus. Aku lalu berjalan cepat melewatinya tanpa permisi keluar dari kamar.
__ADS_1
"Lho, kok malah aku yang ditinggal" gumam Mas Zidan lalu menyusul ku ke meja makan.
Mas Zidan kini terang-terangan berani menggoda ku. Aku hanya tersenyum kecil, meliriknya yang mengekor di belakang ku.