
Aku memijat kepalaku yang sedikit sakit karena mengetahui fakta bahwa Zahra dan Ochi adalah orang yang sama. Aku mengingat-ingat ucapan Adam belakangan ini. Ya Tuhan, jadi laptop baru Zahra yang ku lihat itu ternyata hasil dari mencicil dengan Adam dan dibayar dengan memotong gajinya setiap bulan. Jadi Zahra sama sekali tidak menggunakan ATM yang ku berikan kepadanya. Zahra benar-benar tidak menganggapku. Ah, tentu saja dia bersikap begitu karena aku juga tidak menghiraukannya. Aaaargh. Zidan kau benar-benar bodoh menyia-yiakan gadis seperti Zahra.
Sungguh pandai dia menyimpan rahasia tentang kuliahnya di fakultas kedokteran itu bahkan mama dan papaku pun tidak tahu. Aku tidak menyangka dia begitu mandiri bahkan dia tidak memanfaatkan semua fasilitas yang aku dan mama papa berikan. Aku tersenyum mengingat wajahnya di restoran tadi. Wajahnya manis juga. Ah, Zidan kenapa kau baru menyadari bahwa istrimu begitu mempesona. Tapi apakah dia menyukaiku? Aku mengingat ucapan Monica tentang tipe pria yang disukai Zahra dan ada seniornya yang menyukai Zahra. Kemudian Adam yang juga terindikasi juga menyukai Zahra. Apa mungkin Zahra juga menyukai Adam karena Adam mau berubah demi dia. Ah tidak...tidak. Tidak akan ku biarkan Zahra menyukainya.
Aku berjalan ke luar kantor dan menuju ke pantry tempat Office Girl dan Office Boy berkumpul. Aku memundurkan langkahku ketika melihat Zahra keluar dari pantry membawa secangkir kopi. Aku sudah pasti tahu ke mana kopi itu akan dibawa. Aaargh. Dia saja tidak pernah membuatkanku kopi di rumah. Ini setiap hari dia melayani permintaan Adam. Hei, apa aku cemburu?. Huh, tidak mungkin. Tapi kenapa dadaku terasa panas sekali.
“Pak Zaidan” ucap Office Girl, Yeyen kaget melihatku. Ku lihat di seragamnya begitulah namanya.
“Apa ada Office Girl baru di sini?” tanyaku pura-pura belum mengetahuinya.
“Iya, Pak. Mba Ochi. Tapi hanya part time, Pak” jelas Andi, kepala Office Boy.
__ADS_1
“Kenapa aku sampai tidak tahu” tanyaku tegas.
Mereka tampak pucat pasi. Mungkin heran ngapain pimpinan teratas di perusahaan ini sampai mau ngurusin masalah Office Girl baru segala.
“Ng...i...itu Pak Adam yang membawanya, Pak” jawab Andi gugup.
Aku langsung keluar tanpa kata-kata membuat mereka ketakutan karena masih terdengar olehku mereka kasak-kusuk di belakangku.
Kenapa selama ini aku sampai tidak tahu kalau Zahra bekerja sebagai Office Girl di sini?. Bahkan sebelum kami menikah ternyata Zahra sudah bekerja part time di perusahaan ini.
***
__ADS_1
"Pa, gimana ini? Kok, nggak ada perkembangan sama sekali hubungan Zidan dan Zahra. Kasihan Zahra, Pa. Udah menikah, tapi seperti tidak punya suami saja" ujar Nancy setelah melihat Zidan yang pergi lagi dari rumah.
"Iya, Ma. Papa juga merasakan begitu. Mungkin papa terlalu egois sehingga Zidan terpaksa menikahi Zahra" balas Dirga sendu.
"Tapi setidaknya Zidan bisa bersikap manis dengan Zahra walaupun sedikit saja" Nancy sedih melihat sikap dingin anaknya terhadap Zahra.
"Ma, gimana kalau kita minta Zidan dan Zahra saja yang mewakili undangan pernikahan anak Pak Yasir" usul Nancy tersenyum. Pak Yasir adalah salah satu rekan bisnis Dirga yang akan menikahkan anak bungsunya.
"Boleh juga, Ma. Tempatnya juga cukup jauh, jadi mereka bisa menginap di hotel, kan" ujar Dirga menyetujui usul istrinya.
"Siapa tahu ada perkembangan pulang dari sana" kerling Nancy.
__ADS_1
Dirga terkekeh melihat tingkah istrinya. "Papa akan menyiapkan tiket PP untuk mereka jadi Zidan tidak bisa menolak lagi" ucap Dirga.
Nancy tersenyum mendengarkan rencana suaminya itu. Semoga saja rencana mereka berhasil.