Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 23 Sikap Aneh Zahra


__ADS_3

Masa kehamilan Zahra sedikit mengalami morning sick, hal itu membuat Zidan sedikit khawatir.


“Kamu nggak usah khawatir Zi, yang penting Zahra mau makan” Zidan ingat ucapan mamanya.


Zidan harus terbiasa setiap pagi mendengarkan suara Zahra muntah di kamar mandi. Tapi dia jadi tidak tega karena setelah muntah badan Zahra terlihat lemas dan pucat. Seperti pagi ini sudah berapa kali Zahra bolak-balik ke kamar mandi.


“Mas mau ke kantor, ya?” tanya Zahra keluar dari kamar mandi melihat Zidan sudah berpakaian rapi, tinggal memakai jas lagi.


“Iya, Sayang. Kamu nggak apa, kan?” Zidan melihat Zahra yang sedang mengambilkan jas untuknya.


“Mas, bisa nggak hari ini Mas tidak pergi ke kantor” Zahra tiba-tiba menghambur kepelukan Zidan. Dia selalu ingin berada di dekat suaminya itu. Rencananya Zahra mau ke kampus minta ditemani Zidan.


“Sayang, Mas hari ini ada rapat direksi” ujar Zidan mengelus kepala Zahra.


Dia heran dengan sikap manja Zahra pagi ini. Pasti ini bawaan hamilnya. Pikir Zidan.


“Mas...jangan pergi” rengek Zahra mengeratkan pelukannya.


“Sayang, Mas minta maaf. Mas nggak bisa memenuhi permintaan kamu. Mas harus memimpin rapat hari ini” jelas Zidan melepaskan pelukan Zahra. Muka Zahra ditekuk karena Zidan menolak permintaannya.


“Aku emang nggak penting dalam hidup Mas” gumam Zahra memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Sayang, bisa nggak tidak membuat Mas jadi serba salah begini. Udah ya, Mas mau ke kantor, nanti telat” pamit Zidan.


Cup. Zidan mengecup pipi Zahra. Tapi Zahra sedikit pun tidak tersenyum melihatnya.


“Ayolah, Sayang, jangan cemberut kayak gitu dong. Besok Mas nggak ngantor, deh. Mas akan menemani kemana pun kamu mau pergi” janji Zidan menowel pipi Zahra.


“Basi, aku maunya hari ini” tolak Zahra.


Zidan bisa kehabisan waktu jika dia terus meladeni istrinya akibatnya nanti dia akan datang terlambat. Dia segera pamit keluar kamar meninggalkan Zahra yang masih ngambek.


Tiba di kantor Zidan teringat dengan sikap Zahra yang tidak biasanya. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa meninggalkan rapat hari ini.


***


"Zi, angkat dulu siapa tahu telpon penting" ujar Adam yang duduk di sebelah kanan Zidan.


Zidan melihat layar ponsel yang menunjukkan adanya panggilan lagi. Zidan yang tengah memimpin rapat terpaksa mengangkat ponselnya yang sudah berapa kali berbunyi. Rupanya mamanya yang menelpon dengan suara terisak. Membuat jantungnya berdebar ketika mamanya menyebut nama Zahra.


[Zi ... Zahra ... Zi ] isak mamanya menelpon Zidan.


[Iya, Zahra kenapa, Ma?] tanya Zidan pelan.

__ADS_1


[Zahra kecelakaan, Zi. Sekarang dia di rumah sakit. Zahra koma, Zi] jawab mamanya.


Bagai disambar petir Zidan mendengarkan kabar dari mamanya. Ponsel yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Rasanya seperti mimpi. Baru pagi tadi Zidan mendengarkan rengekan manja istrinya itu. Zidan merasa seluruh sendi-sendinya lemas.


"Tidak mungkin, pagi tadi dia baik-baik saja" gumam Zidan masih tidak percaya.


“Zidan, ada apa?” tanya Adam cemas melihat wajah Zidan yang begitu tegang.


“Zahra kecelakaan, Dam. Tolong lanjutkan rapatnya. Aku mau ke rumah sakit” ucap Zidan, pikirannya sudah tidak karuan lagi.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Adam lagi.


“Dam, istri ku koma”


Zidan bangkit dari tempat duduknya dan meminta maaf kepada peserta rapat karena tidak dapat memimpin rapat sampai selesai. Rapat pun terpaksa dihentikan. Zidan lalu bergegas ke rumah sakit tidak sabar lagi untuk melihat kondisi Zahra.


Tiba di rumah sakit, Zidan segera menemui mamanya.


"Zi, Zahra!!"


Zidan memeluk mamanya yang menangis terisak. Wajah papa juga begitu sendu berdiri di samping mama.

__ADS_1


"Ternyata ini bukan mimpi" gumam Zidan berkaca.


__ADS_2