Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 16 Saling Diam


__ADS_3

Paginya di meja makan hanya ada suara sendok yang berbunyi di atas piring. Mama dan papa Zidan saling pandang melihat wajah anak dan menantunya terlihat tidak ceria.


“Kalian berdua kenapa sariawan semua, ya?” tanya Nancy memecah keheningan.


Zahra memaksakan diri tersenyum kecil. Zidan hanya diam membisu sambil menikmati sarapannya.


“Za, Zidan mau mengadakan resepsi pernikahan kalian bulan depan. Gimana kamu setujukan?” tanya mama lagi.


Zahra terkejut mendengarkan ucapan Nancy karena suaminya belum menceritakan tentang itu. Hatinya merasa berbunga karena Zidan mau mengumumkan pernikahan mereka. Itu artinya semua orang di kantornya nanti akan tahu kalau dia adalah istri Zidan. Zahra lalu mengangguk setuju.


“Aku ke kantor dulu Ma, Pa. Masalah itu nanti saja dibahas” pamit Zidan meninggalkan meja makan.


Zahra terpaku. Rupanya Zidan masih marah dengannya. Zahra kemudian membereskan meja makan lalu ke dapur.


“Za, mama dengar sepertinya kalian bertengkar kemarin. Ada masalah apa?” tanya Nancy menyusul Zahra ke dapur.


“Hanya salah paham aja, Ma” jawab Zahra singkat. Dia tidak mau sampai mertuanya tahu kalau dia menjadi Office Girl di perusahaan mereka sendiri.


“Sepertinya Zidan sedang cemburu” tebak mama Nancy tersenyum.


Anaknya ternyata mulai jatuh cinta dengan Zahra. Nancy mendengar ada nama laki-laki lain dalam pertengkaran mereka. Nancy menyimpulkan kalau anaknya terbakar api cemburu.


“Oya, Ma. Lusa nanti Za akan sidang skripsi” kata Zahra mengalihkan pembicaraan. Dia sedang tidak mau membahas tentang Zidan.


“Benarkah, Alhamdulillah. Berarti pas banget, kamu wisuda nanti bisa ditemani Zidan kan semua orang udah tahu kalau dia adalah suami mu” ujar mama bahagia.


Zahra hanya tersenyum menanggapi mertuanya. "Semoga saja keputusan Mas Zidan tidak berubah" Batin Zahra.


***

__ADS_1


"Chi, Pak Zidan kemarin bicara apa sama kamu? Kita semua jadi penasaran karena melihat wajahnya dingin seperti itu" tanya Yeyen.


"Aduh, gara-gara Mas Zidan kemarin teman-teman ku jadi kepo" batin Zahra.


"Iya, Chi. Kamu dimarah oleh Pak Zidan, yah?" tebak Lina.


"Nggak kok, Pak Zidan meminta aku untuk membuatkan kopi juga untuknya" jawab Zahra asal.


Dia bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab rasa penasaran Yeyen dan Lina. Karena setahu mereka dirinya masih gadis dan tidak ada hubungan dengan Zidan.


"Wah, selain Pak Adam, rupanya big bos kita ngefans juga sama Ochi" celetuk Lina tertawa kecil.


"Mulai, deh!!" balas Zahra geleng kepala.


Zahra menyunggingkan senyum di bibirnya. "Apa benar Mas Zidan cemburu dengan Pak Adam?" tanya batinnya.


Zahra dan Zidan masih saling diam bahkan ketika berpapasan di kantor Zidan seolah-olah tidak melihatnya.


Aku menolak keinginan Mas Zidan untuk berhenti dari Office Girl. Tinggal beberapa hari lagi di bulan ini mana mungkin tiba-tiba aku langsung menghilang. Bulan depan baru aku akan memutuskan untuk berhenti.


Ketika Pak Adam meminta dibuatkan kopi, aku menyuruh Lina yang mengantarkan ke ruangannya. Dan aku akan mengantarkan kopi ke ruangan Mas Zidan. Sebelumnya mana aku tahu kalau dia ternyata big bos di perusahaan ini. Anehnya selama aku bekerja di sini, aku tidak pernah bertemu dengan Mas Zidan. Ya, iyalah dia kan orang sibuk. Aku mengetuk pintu ruangan Mas Zidan.


“Masuk” teriaknya dari dalam.


Aku masuk dan astaga ada Pak Adam juga di sana. Aduh bagaimana ini? Pak Adam melihat ku heran. Mungkin dia berpikir sejak kapan aku mengantarkan kopi ke ruangan Mas Zidan.


“Untuk ku, Chi?” tanya Pak Adam melihat kopi yang ku bawa.


“Mm, punya Pak Adam sudah dibawakan oleh Lina. Ini untuk Mas ... eh Pak Zidan” kata ku gugup lalu menutup mulut ku dengan tangan. Pak Adam menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Sejak kapan kau suka kopi, Zi?” tanya Pak Adam melirik curiga Mas Zaidan.


“Aku kan juga mau menikmati kopi buatan ... Ochi” tatap Mas Zidan tajam ke arah ku. Dia menyindir ku. Huh, ternyata benar dia masih marah.


“Baiklah, Zi. Aku kembali ke ruangan ku dulu” pamit Pak Adam dengan nada datar lalu meninggalkan ruangan Mas Zidan.


Sepertinya Pak Adam tidak suka dengan kalimat Mas Zidan barusan. Mas Zidan lalu berdiri dari kursi kerjanya.


“Kau lihat sendirikan bagaimana ekspresinya” kata Mas Zidan menatap ku tajam. Hati ku menciut ditatap seperti itu. Mas Zidan kemudian berjalan mendekati ku.


“DIA menyukai mu” bisik Mas Zidan ke telinga ku.


Entah bagaimana lagi aku harus menjelaskan kepada Mas Zidan. Urusan Pak Adam mau menyukai ku, yang penting aku kan tidak membalas perasaannya.


“Tapi apa yang sudah menjadi milik ku tidak akan ku lepaskan begitu saja” lanjut Mas Zidan.


Jantung ku berdetak kencang mendengarkan ucapannya...Miliknya? Dia mengakui ku sebagai miliknya. Benarkah?


Ada semburat bahagia menyusup ke dalam hati ku saat Mas Zidan mengakui ku sebagai miliknya.


“Mas, aku akan bekerja sampai akhir bulan saja. Bulan depan aku berhenti” janji ku. Aku tidak akan bekerja lagi sesuai permintaannya.


"Oke. Aku tunggu janji mu" balas Mas Zidan lalu duduk lagi di kursi kerjanya.


Aku tidak mau membuatnya marah lagi. “Aku mau kembali ke dapur” ucap ku lalu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu.


“Pulang nanti ku tunggu di parkiran” katanya datar.


Aku berbalik lagi ke arahnya. “Iya, Mas” aku lalu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Huft. Aku menutup rapat pintu ruangan Mas Zidan sambil memegangi dada ku. Ku rasakan jantung ku berdetak kencang seperti habis lari marathon saja.


__ADS_2