Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 6 Menginap Di Rumah Ayah


__ADS_3

Kepalaku mulai pusing lagi. Skripsiku belum kelar juga padahal sudah berapa kali revisi. Pak Koriq benar-benar dosen yang perfect. Aku mau nangis aja, deh. Setiap menghadap beliau untuk bimbingan ada aja bagian yang salah.


“Bapak nggak mau hasil skripsi kamu jelek Za, kalau dosen bimbingan lain mungkin asal Acc saja, tapi Bapak nggak mau asal-asalan untuk mahasiswa bimbingan Bapak” masih terngiang-ngiang olehku kalimat Pak Koriq tadi pagi.


Ya, Tuhan semester depan udah dekat. Kalau skripsiku belum kelar juga, aku bakalan ikut wisuda di semester depan, artinya aku harus bayar SPP lagi, dong. Aagrh. Banyak sekali uang yang harusku siapkan.


Aku terbaring di ranjang karena kepalaku mulai sakit memikirkannya. Tenang, Chi Insya Allah ada jalan keluarnya. Aku melihat ATM yang pernah diberikan Mas Zidan kepadaku. Apa ku gunakan saja ATM itu, ya? Ah tidak. Lebih baik aku gunakan uangku sendiri. Dia tidak pernah menganggapku sebagai istrinya jadi untuk apa aku memakai uang pemberiannya.


Kalau aku cerita ke Monica gimana, ya? Kira-kira dia cerita nggak dengan Pak Adam. Pak Adam pasti turun tangan untuk membantuku kalau dia sampai tahu, tapi lama-lama nggak enak juga selalu mendapat bantuan darinya. Aku takut nanti Pak Adam berpikiran yang macam-macam. Ku dengar dari Monica dia udah putus dengan pacarnya yang bernama Linda itu.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mas Zidan rupanya sudah pulang.


“Mas udah pulang, ya?” Aku sedikit terkejut tumben pulangnya agak cepat.


“Hmm” itu saja responnya.


Sudah lama aku tidak pulang ke rumah orang tuaku. Kangen dengan suasana di sana. Aku juga ke sana sekaligus mau mengerjakan skripsiku dengan leluasa.


“Mas, besok aku mau tidur di rumah orang tuaku sekalian bersih-bersih, boleh?” tanyaku memberanikan diri meminta izin dengannya.


“Hmm”


“Lho, kok jawabnya cuma hmm saja, sih” gumamku pelan.


“Aku mau jawab apa? Nggak boleh? Kamu juga pasti akan ke sana, kan ?” ketusnya tanpa melihat ke arahku. Dia membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang tempat.


“Ya, kalau Mas nggak mengizinkan, aku juga nggak akan pergi, Mas” balasku kesal lalu mengambil jasnya tadi dan menaruhnya di keranjang baju kotor.


“Terserah!” bentaknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Aku hanya mengelus dada. Sabar Chi. Akhirnya ku putuskan untuk pergi juga karena melihat sikapnya yang menyebalkan seperti itu. Orang ngomong baik-baik kok responnya begitu.


Setelah izin dengan mertuaku, besok paginya dan pulang dari kerja aku akan langsung ke rumah ayah yang sudah lama tidakku kunjungi. Pasti sudah berdebu.

__ADS_1


***


“Berapa hari Za kamu mau menginap?” tanya mama mertuaku disela kami sarapan pagi.


“Tiga hari aja, Ma. Mau ziarah, sekalian bersih-bersih rumah” jawabku.


“Kamu pulang dulu ke rumah kan, Za?” tanya papa. “Biar nanti papa yang antar ke sana kalau kamu pulang dulu ke rumah” ujar papa sambil melirik ke arah Mas Zidan.


“Nggak usah, Pa. Dari kampus Za langsung ke sana aja” tolakku halus.


Mas Zidan sedikit pun tak bersuara sampai sarapan paginya selesai. Pasti dia senanglah tidak melihatku ada di rumah ini.


Tiba di kampus, aku hanya menemui pembimbingku kemudian mampir ke perpustakaan sebentar.


“Chi ... Ochi” panggil seseorang pelan. Aku menoleh ke sumber suara.


“Lho, Mon. Ngapain kamu di sini?” tanyaku kaget.


“Ssst, aku mau bicara dengan kamu” Monica menarik tanganku agar keluar dari perpustakaan. Nih, anak kenapa lagi?


“Chi, tadi aku bertemu senior kita, Mas Agung yang ganteng itu” ujar Monica.


“Lha, terus apa hubungannya dengan aku?” ujarku sambil mengarahkan jari telunjuk ke dadaku.


“Ya Allah, Ochi. Mas Agung nanyain kamu. Hadeh, ternyata dia selama ini suka larak-lirik eh ternyata suka sama sahabatku ini. Patah hati deh aku” jelas Monica lebay.


Aku tersenyum geli. Mas Agung itu emang senior kami, dia baru di wisuda beberapa bulan yang lalu. Orangnya emang ganteng, sih. Wajar kalau Monica klepek-klepek.


“Emang dia nanyain apa?” tanyaku.


“Nah kan kepo juga kamu, Chi” ledek Monica menyenggol pundakku dengan pundaknya. Aku tertawa kecil.


“Mas Agung nanyai kamu, udah sidang apa belum? Duh kok Mas Agung mantengin kamu, Chi. Jangan-jangan udah sidang kamu bakal dilamar Mas Agung” jawab Monica manyun.

__ADS_1


“Eleh, belum tentu juga kali, Mon. Jangan berasumsi sendiri, deh” balasku tersenyum sendiri.


“Eh, Chi. Kenapa ya kalau dokter itu kok sukanya sama dokter juga?” tanya Monica mengedipkan matanya ke arahku.


“Tau!!”


Aku berjalan meninggalkan Monica masuk lagi ke dalam perpustakaan.


Terdengar suara tawa Monica di luar perpustakaan. Karena aku tidak mau menjawab pertanyaan konyolnya itu.


***


Pulang kerja aku langsung menuju ke rumah orang tuaku. Suasananya tetap sama tidak ada yang berubah hanya rumput di halaman sudah agak panjang.


“Chi, apa kabar?” Bu Nissa memelukku ketika aku sampai di halaman rumah.


“Alhamdulillah baik, Bu” aku melihat halaman rumah begitu bersih dan rapi.


“Ibu dan Andika yang membersihkannya, Chi” jelas Bu Nisa yang melihat keherananku.


“Makasih, Bu. Jadi merepotkan Ibu” kataku tidak enak.


“Nggak apa, kita kan sebagai tetangga dan keluarga. Kamu nginap di sini, Chi? Oya, mana suamimu?” tanya Bu Nissa.


“Iya, Bu. Aku nginap di sini. Suamiku nggak bisa ikut karena dia lagi sibuk” jawabku mencari alasan apa saja agar Bu Nissa tidak tahu tentang rumah tanggaku yang tidak normal seperti layaknya pengantin baru.


Aku pamit kepada Bu Nissa untuk masuk ke dalam rumah karena seluruh badanku rasanya capek sekali.


Ku pandangi isi ruangan yang tidak berubah sedikit pun sejak ayah dan ibu tiada. Tak ada pigura foto di dinding rumah. Ayah tidak suka memajang foto dalam bentuk apa pun di dalam rumah apalagi kalau foto manusia.


Sebagai guru agama di madrasah, ayah banyak mengajarkan banyak hal kepada ku di rumah. Untuk apa pintar jika tak paham tentang agamanya sendiri. Itu pesan ayah yang akan selalu ku ingat. Kelak jika aku diberi keturunan, aku akan membekali mereka dengan ilmu agama agar mereka selamat dunia akhirat.


Tapi sekarang aku tidak berani bermimpi kapan bisa memiliki keturunan sampai sekarang saja aku belum disentuh oleh mas Zidan.

__ADS_1


Ochi ... Ochi, kamu hanyalah manusia biasa. Jalani saja skenario dari Yang Maha Kuasa. Aku berbaring di kamarku, karena mata sudah berat dalam sekejap aku sudah terlelap.


__ADS_2