
Zidan Pov
Aku terduduk lemas menatap Zahra yang terbaring dengan bantuan alat pernapasan. Belum lagi aku mendapatkan kabar dari dokter bahwa anak yang dikandung Zahra tidak bisa diselamatkan. Hati ku benar-benar hancur. Masih teringat sikap manjanya pagi tadi yang meminta ku untuk tidak pergi. Tapi aku mengabaikan permintaannya.
“Aaagrh!!” jerit ku frustasi sambil memegang rambut ku.
Zahra ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku menggenggam tangannya.
“Zi” papa memegang pundak ku. Aku menoleh melihat papa. Mungkin tampang dan penampilan ku sudah tidak karuan lagi.
“Pa, Zahra akan baik-baik saja kan?” tanya ku melihat papa.
“Kita berdoa saja, Zi. Kamu jangan terpuruk seperti itu. Kita harus memberi semangat untuk Zahra agar dia sadar"
Aku tak kuasa melihat kondisi Zahra. Aku menangis dan memeluk papa. Aku belum pernah merasa kehilangan seperti ini.
“Bagaimana ini bisa terjadi, Pa?” tanya Zidan sembari menghapus air matanya.
“Zahra sebenarnya mau meminta kamu menemaninya ke kampus untuk mengurus pendaftaran wisudanya. Tapi katanya kamu sibuk di kantor, Zi. Jadi dia memaksa untuk pergi sendiri” jawab mama.
__ADS_1
“Kecelakaan itu terjadi di depan kampusnya ketika dia mau menyebrang. Dari saksi mata yang melihat kejadian di tempat motor yang menabrak Zahra melarikan diri. Zahra banyak kehilangan darah sebelum dilarikan ke rumah sakit” sambung papa.
Aku tertunduk mendengarkan cerita mama dan papa. Kalau saja aku menuruti permintaannya untuk tetap di rumah dan mengantarnya ke kampus, kecelakaan ini tidak akan terjadi. Aku menatap Zahra yang terbaring tak berdaya dengan rasa bersalah.
***
Hari keempat
Kondisi Zahra belum ada perubahan. Dokter hanya pasrah mereka sudah melakukan yang terbaik. Zahra seakan tertidur pulas dan tidak peduli dengan perasaan ku yang sekarang hancur berkeping-keping. Ku tinggalkan pekerjaan di kantor. Percuma aku di sana, tapi pikiran ku ada di rumah sakit.
“Sayang, bangunlah. Mas berjanji akan menuruti semua permintaan mu” gumam ku mengelus pipi Zahra.
Tidak ada respon dari Zahra meskipun aku sudah mengajaknya bicara. Aku sudah seperti orang gila dengan berbicara sendiri di samping Zahra berharap Zahra akan mendengarkan suara ku.
“Zi, kamu makan dulu” ingat mama ku setelah pulang sebentar ke rumah.
“Bagaimana aku bisa makan, Ma, jika Zahra seperti ini”
“Mama tau perasaan kamu, Zi. Tapi kalau kamu sakit lalu siapa nanti yang akan menjaga Zahra” ingat mama.
__ADS_1
“Iya, Ma”
"Benar kata mama. Aku tidak boleh sakit" batin ku
***
"Mama pulang saja, aku nggak apa menjaga Zahra sendirian" ujar ku. Mama pasti capek sudah ikut menjaga Zahra seharian.
"Zi, kapan Zahra bangun? Sampai kapan Zahra tertidur seperti ini?" tanya mama yang kini terisak lagi melihat kondisi Zahra.
"Aku juga nggak tahu, Ma. Aku sangat takut Ma, jika Zahra akan meninggalkan kita" mama menggenggam tangan ku.
"Hush, kamu jangan sampai berpikiran jelek begitu" tegur mama.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak melihat Zahra begini, Ma"
Aku melepas genggaman tangan mama ku dan meraih tangan Zahra. Tangan itu masih terasa hangat.
"Kamu nggak boleh begitu. Badan mu juga harus diperhatikan. Makanya lebih baik mama di sini jadi bisa bergantian bergadangnya" ujar mama.
__ADS_1
"Nggak usah, Ma. Insya Allah aku kuat, kok" tolak ku.