
Resepsi pernikahan Zahra dan Zidan yang dilaksanakan di hotel mewah membuat para tamu undangan berdecak kagum. Padahal Zahra menginginkan resepsi yang sederhana saja tidak perlu bermewah-mewah namun dia kalah suara karena ketiga orang yang dicintainya bersih keras dengan keinginan mereka. Bagaimana pun papa mertuanya dari keluarga terpandang mereka tidak mau malu dengan rekan bisnisnya. Begitu juga dengan Zidan memiliki banyak teman. Rekan kerja Zahra sesama Office Girl dan Office Boy juga diundangnya. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Ochi, teman mereka selama ini adalah istri anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Om Zidan, selamat ya semoga Samara” ucap Monica bahagia menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Mon, jangan panggil aku, Om dong kesannya kayak tua banget. Kamu kan temen istri ku jadi panggil Mas aja, yah” tolak Zaidan.
“Ah...iya, deh. Mas Zidan. Ochi, Sayang. Selamat, ya” Monica menoleh ke arah Zahra lalu memeluknya.
“Makasih, Mon. Cepet nyusul, ya” bisik Zahra.
“Aaaa!!! Nanti deh mau coas dulu” elak Monica terkekeh.
“Zi, selamat, ya” jabat Adam lalu memeluk Zidan.
“Lupakan semua yang terjadi di antara kita” bisiknya menepuk pundak Zidan. Lalu Adam melihat Zahra yang tersenyum di samping Zidan.
“Ochi, semoga samara” ucap Adam tersenyum kecil.
“Makasih, Pak Adam. Terima kasih atas kebaikan Pak Adam selama aku menjadi karyawan Bapak” balas Zahra.
Adam hanya mengangguk lalu pamit pulang mengikuti langkah keponakannya yang sudah berjalan duluan.
***
__ADS_1
Selesai resepsi Zahra dan Zidan tidak ikut pulang bersama Dirga dan Nancy. Mereka berdua akan menginap di hotel tersebut.
“Za, kok kamu masih betah pakai gaun itu?” tanya Zidan melihat Zahra belum mengganti pakaian pengantinnya. Sementara Zidan sudah santai memakai kaos oblong dan celana pendek.
Zahra sudah membersihkan make up tipis di wajahnya. Tapi dia belum juga membuka jilbab dan gaunnya.
“I ... itu Mas ... a ... anu ... anu ... a ... aku” Zahra salah tingkah sampai ngomong aja susah banget.
“Itu ... anu apa?” tatap Zidan tersenyum. Ih, kalau senyum begitu kok kamu tambah ganteng si Mas.
“Aku ... aku nggak bisa membuka kancing gaun di bagian belakang” ujar Zahra malu lalu menundukkan kepalanya tidak berani menatap Zidan.
“Ya Allah, Za. Kenapa nggak bilang dari tadi” geleng Zidan lalu berjalan mendekati Zahra.
“Iya, Mas” Zahra menunduk.
Jantungnya berdegup kencang karena malam ini Zidan akan melihat auratnya untuk pertama kalinya. Rambut lurus dan halus Zahra tergerai setelah Zidan membuka jilbabnya. Cukup lama Zidan memandang wajah Zahra yang sudah tidak memakai jilbab lagi. Zidan membelai rambut Zahra dan menyibakkannya ke samping, dia lalu beralih ke belakang badan Zahra. Pantas saja Zahra tidak bisa membuka pakaiannya. Kancing gaun ini tersusun rapi hingga ke pinggangnya.
"Sepertinya gaun ini sengaja dirancang agar suami mempelai wanita membantu membukakannya" gumam Zidan di dalam hatinya.
Zidan tersenyum kecil sambil membuka satu persatu kancing di gaun Zahra. Zidan terlena menatap punggung Zahra, tangannya tanpa sadar menurunkan gaun yang melekat di pundak Zahra.
“Mas, aku mau mandi dulu” ujar Zahra pelan ingin menghindari Zidan.
__ADS_1
Zidan tidak meresponnya, kini detak jantung Zahra sudah tidak beraturan lagi karena Zidan telah memeluknya dari belakang dengan mata terpejam sambil menikmati aroma melati di badan Zahra.
“Nanti saja. Kamu masih wangi begini” bisik Zidan membuat darah Zahra berdesir. Zidan tiba-tiba membalik badan Zahra agar menghadap ke arahnya.
“Mas .... a ... aku mau man ...” Zahra tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Zidan sudah menciumnya.
Pertahanan Zahra runtuh, dia tidak sanggup menolak sikap Zidan yang menuntut lebih. Malam ini Zidan menginginkan haknya sebagai suami. Zahra dan Zidan pun larut dalam kehangatan cinta mereka sebagai suami istri. Mereka menghabiskan malam pengantin di hotel tempat resepsi pernikahan mereka dilaksanakan.
***
"Mas, bangun!" panggil Zahra sambil menggoyang pundak Zidan. Adzan subuh sudah berkumandang. Zahra sudah mandi duluan, sementara Zidan masih terlelap tidur.
"Hmm"
Zidan mengerjapkan matanya dan melihat Zahra berada di dekatnya. Zidan menarik tangan Zahra hingga dia jatuh ke pelukan Zidan.
"Mas!! Aku udah mandi" teriak Zahra melihat Zidan mengendus lehernya. Zidan terkekeh melihat wajah kesal Zahra. Padahal dia hanya ingin menggoda Zahra saja.
"Kan bisa mandi lagi, apa susahnya, sih" tatap Zidan mengangkat badannya dari tempat tidur lalu melepaskan pelukannya kepada Zahra.
"Tapi kalau cium boleh, kan?" sebelum berdiri tiba-tiba Zidan mencium pipi Zahra lalu menuju kamar mandi.
"Mas Zidan!!" teriak Zahra manja. Zidan pun terkekeh sambil menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1