
“Aaargh”
Adam memukul meja kerjanya kesal.
Apa Zidan juga menyukai Ochi? Oh mungkin ini maksudnya mengancam ku.
'Jangan coba-coba mendekati Ochi agar dia sendiri leluasa mendekati Ochi'
Shit!! Sialan kau Zidan. Rupanya mau menikung ku dari belakang. Aku tidak akan membiarkan mu. Kita bersaing secara sehat saja, jangan main tikung begitu. Aku akan menyatakan perasaan ku terlebih dulu ke Ochi. Seringai Adam di balik meja kerjanya.
Waktu pulang kerja Adam melihat Ochi bertemu Zidan di parkiran. Adam mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Adam lalu berjalan mendekati Zidan dengan luapan emosi apalagi melihat Ochi berjalan di samping Zidan. Bukankah Ochi sangat menjaga jarak dengan yang namanya laki-laki. Adam sempat tidak percaya kalau gadis yang berjalan di samping Zidan adalah Ochi.
“Oh...begini ya yang namanya teman” teriak Adam sinis menatap Zidan yang membelakanginya.
Zidan dan Zahra berbalik mendengarkan suara Adam. Mereka berdua terkejut melihat Adam dengan wajah memerah.
“Adam” belum selesai Zidan berbicara tangan Adam sudah meninju Zidan.
Zidan menangkis tangan Adam karena dia sudah siaga. Zahra mundur ketakutan melihat kedua laki-laki di depannya saling adu jontos. Perkelahian tidak dapat dihindari lagi antara Zidan dan Adam. Zahra begitu panik melihat suaminya tampak kewalahan melawan Adam yang tubuhnya jauh lebih besar dan lebih tinggi dari Zidan. Padahal Zidan sudah termasuk tinggi dengan tinggi badan 176 sentimeter.
“Pak Adam hentikan!!” teriak Zahra melihat darah sudah mengalir di sudut bibir Zidan.
“Teman macam apa kau, Zi, menikung ku dari belakang. Kalau kau juga suka dengan Ochi kita bersaing secara sehat. Atau kita tanya langsung siapa yang disukai Ochi. Aku atau kau!!” teriak Adam berang setelah menghentikan aksinya menyerang Zidan.
“Mas, tidak apa-apa?” tanya Zahra berlari mendekati Zidan yang terduduk memegangi perutnya. Zidan menarik napas dalam sambil menahan rasa sakit di perutnya.
“Mas? Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Mas, Ochi?" tanya Adam heran. "Sedekat itukah hubungan mereka" batin Adam. Zahra tidak menanggapi ucapan Adam.
"Oh, jadi rupanya kalian sudah berhubungan di belakang ku” tuduh Adam.
“Cukup, Pak Adam!! Aku hanya menganggap Pak Adam seperti Om ku tidak lebih. Dan asal Pak Adam tahu, laki-laki yang sudah Pak Adam pukul itu adalah suami ku” teriak Zahra emosi lalu membantu Zidan berdiri dan menggandeng tangannya.
Zidan berjalan tertatih mengiringi langkah Zahra. Mereka berdua pun meninggalkan Adam yang masih termangu mendengarkan kalimat Zahra barusan.
__ADS_1
“Apa? Suami?” ucap Adam pelan. Adam masih belum percaya mendengar ucapan Zahra. Adam terkekeh.
"Ochi pasti bercanda" gumamnya.
“Mas, bisa bawa mobil? Aku nggak bisa nyetir, Mas” tanya Zahra.
“Iya. Insya Allah, Mas masih kuat”
Zidan memaksakan diri membawa mobilnya. Dia ingin cepat-cepat pulang.
Tiba di rumah. Suasana rumah tampak sepi. Dirga dan Nancy sedang berada di luar kota.
Zahra membopong badan Zidan yang lemas karena telah dipukul Adam bertubi-tubi. Zahra lalu mengambil perlengkapan P3K untuk membersihkan luka di sudut bibir Zidan.
Zidan terpaku menatap Zahra yang begitu telaten merawatnya.
“Aw, pelan-pelan, Za” teriak Zidan meringis kesakitan ketika Zahra menyentuh lukanya.
“Buka bajunya, Mas. Lebam di perut Mas mau aku kompres” perintah Zahra sambil menarik napas. Posisinya yang dekat dengan Zidan membuatnya sedikit canggung.
"Buka sendiri. Aku kan lagi sakit" tolak Zidan sengaja ingin membiarkan Zahra membuka kancing kemeja yang dipakainya.
Mulut Zahra ternganga mendengar respon dari Zidan. Rasanya dia ingin melempar muka Zidan dengan handuk kompres yang dia pegang. Bikin malu dia saja.
"Ayo, Mas bukalah sendiri" ujar Zahra enggan melakukannya.
Zidan hanya diam dan memejamkan matanya. Melihat sikap Zidan seperti itu akhirnya Zahra mengalah. Dengan pelan dia membuka kancing kemeja Zidan. Jantung Zahra sudah berdetak kencang tak karuan apalagi di depannya terpampang dengan jelas dada bidang Zidan yang sedikit berotot karena dia rajin berolah raga. Zidan memicingkan matanya mengintip Zahra yang sedang membuka kemejanya. Tanpa Zahra ketahui Zidan tersenyum kecil sambil memandangnya.
Zahra sudah seperti dokter pribadi Zidan. Zidan menurut saja seperti anak kecil. Zahra pun mengompres lebam di perut rata Zidan.
“Gimana Mas, udah agak baikkan?” tanya Zahra meletakkan perlengkapan obat tadi di nakas.
“Iya.Terima kasih” jawab Zidan pelan.
__ADS_1
“Mas aku minta maaf, tadi keceplosan” ujar Zahra menunduk. Dia takut Zidan marah karena tidak sengaja dia mengakui Zidan sebagai suaminya di depan Adam.
“Tidak apa. Lebih baik Adam segera tahu. Perasaannya terhadap mu harus di-cut” ujar Zidan datar.
“Mas istirahatlah. Aku mau...” Zahra memotong kalimatnya. Dia ragu mau meninggalkan Zidan sendirian di kamar.
“Mau apa?” tanya Zidan melihatnya, mata mereka bertemu.
“Mmm... Aku mau belajar Mas, karena besok mau sidang” Zahra menepis tatapan Zidan. Hatinya benar-benar kacau hari ini. Zahra berdiri dari tepi ranjang.
“Belajar di sini saja, di dekat ku” pinta Zidan menahan tangan Zahra agar tidak pergi jauh darinya.
Zahra menatap Zidan ragu. "Please" tatap Zidan memohon.
"Baiklah, aku mau mengambil buku sebentar" ujar Zahra. Zidan mengangguk.
Zahra mengambil skripsi salinannya dan beberapa buku referensi yang harus dipelajari. Dia tidak mau ketika dosen pengujinya bertanya dan dia nanti tidak bisa menjawab.
Zahra Pov
Aduh bagaimana mau konsentrasi jika dia menatap ku terus seperti ini. Bisa-bisa aku gagal menjawab pertanyaan dosen penguji besok.
“Mas kok belum tidur?” tanya ku. Aku berharap dia cepat tidur agar aku bisa leluasa belajar.
“Kalau sudah minum kopi mata ku mana bisa terpejam” gumamnya.
Oh, pantas saja Pak Adam heran kenapa tiba-tiba Mas Zidan minta dibuatkan kopi. Akibat cemburu jadi sengsara sendiri. Aku tersenyum kecil.
“Kok, kamu senyum?” tanya Mas Zidan.
“Salah sendiri kenapa ikut-ikutan minta dibuatkan kopi” ledek ku melihatnya.
Dia memalingkan muka. Ku lihat sudut bibirnya melengkung. Makin tampan saja kalau dia tersenyum begitu. Aih, ada apa dengan ku.
__ADS_1