
Zahra Pov
Aku terbangun dari tidur. Badanku terasa berat sekali. Ugh, apa ini? Aku mengambil kompres yang menempel di keningku. Apa aku demam semalam? Ku pegang keningku. Tidak panas. Ah...siapa yang sudah memindahkan aku di atas ranjang. Ke mana Mas Zidan? Mataku berkeliling di kamar. Sepi.
“Za, kamu sudah bangun, ya. Ini mama bawakan bubur ayam. Kamu sarapan dulu, ya, biar sehat” mama masuk ke kamar kami yang tidak di kunci.
“Udah turun panasnya” ucap mama sambil menyentuh kening ku.
“Aku demam ya, Ma?” tanyaku bingung.
“Iya, Zidan lho yang ngompresin kamu semalaman” jawab mama tersenyum. Aku menatap mertuaku tidak percaya.
“Zidan cemas sekali melihat kamu demam. Hm, kayaknya udah ada sinyal-sinyal, Za” lanjut mama mengerlingkan matanya.
“Sinyal apa sih, Ma?” aku tersenyum tapi belum nyambung dengan ucapan mama, apa efek aku baru sembuh dari demam.
“Ya, sinyal cinta, Sayang” mama memcubit gemas pipiku. Aku dan mama sama-sama tersenyum.
“Oya, Ma. Mas Zidan di mana?” tanyaku karena tidak melihatnya.
“Ke kantor. Sebenarnya dia mau di rumah saja, tapi setelah panas kamu turun dia memutuskan untuk pergi ke kantor” jawab mama sambil menyuapkan bubur ke mulutku.
“Za, makan sendiri aja, Ma” kataku tidak enak karena beliau begitu memanjakanku. Tapi beliau menolaknya.
“Za, kamu cinta kan dengan Zidan?” tanya mama serius menatapku.
“Za mencintai Mas Zidan karena Mas Zidan suami Za, Ma. Cinta karena Allah. Allah yang menggenggam hati manusia. Jika Za mencintai ketampanan dan harta Mas Zidan itu tidak kekal, Ma. Allah yang menumbuhkan rasa cinta di hati Za walaupun Mas Zidan belum mencintai Za” jawabku menunduk. Aku mengerti kalau Mas Zidan menerima pernikahan ini karena terpaksa.
__ADS_1
“Maafin mama, Za karena telah meminta mu menikah dengan anak mama. Yakinlah suatu hari nanti Zidan akan mencintai kamu. Kamu jangan berhenti berdoa, ya”
Mama mengelus pundakku memberi semangat. Mama lalu meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke nakas karena ponselnya berbunyi.
“Zidan” bisik mama melihatku.
[Ma, gimana keadaan Zahra] tanya Zidan.
Badanku berdesir serasa ada sengatan listrik ketika mendengarkan Mas Zidan menanyakan keadaanku. Mama sengaja menekan tombol loud speaker supaya aku juga bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
[Panasnya udah turun, Zi. Udah, nggak usah cemas] jawab mama tersenyum ke arahku.
[Kalau panas lagi takutnya gejala tipes, Ma. Udah makan belum, Ma?] tanya Zidan lagi.
[Udah, Zi. Kamu tenang aja, kan ada mama. Kamu kerja yang konsentrasi, ya] jawab mama lagi.
[Ih, anak mama ternyata cerewet juga, yah] ledek mama. Sementara aku hanya senyam-senyum saja mendengarkan percakapan ibu dan anak itu.
[Assalamualaikum] tutup Zidan.
[Waalaikumsalam]
Aku dan mama membalas serempak, namun ku pelankan suaraku agar Mas Zidan tidak mendengarnya.
“Ini bukan Zidan yang mama kenal, Za. Sepertinya dia sedikit posesif” gumam mama. Ada rona bahagia di wajah ku mendengar ucapan mama.
Ya Tuhan. Apa benar Mas Zidan sudah membuka hatinya untukku.
__ADS_1
***
Zidan pulang dari kantor tidak terlalu sore. Meskipun mamanya sudah memberitahu tentang keadaan Zahra yang sudah baikan, tapi entah mengapa hatinya tetap merasa cemas.
"Ayolah, Zidan. Ada apa denganmu?. Kenapa kau sekarang begitu peduli dengannya?" dialog hati Zidan. Sambil menyetir mobil Zidan tersenyum kecil jika dia mengingat kembali betapa paniknya dia ketika Zahra demam.
"Zi, sengaja pulang cepat?" tanya Nancy melihat Zidan buru-buru ke kamar tanpa menyadari bahwa dia melintasi mamanya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Eh, Mama. Hmm, udah nggak ada kerjaan lagi. Ya, Zi langsung pulang saja" jawab Zidan ngeles.
Dia enggan mengakui kalau alasannya pulang karena Zahra. Zidan meninggalkan mamanya menuju kamar. Ketika masuk ke dalam kamar ditemuinya Zahra sedang berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.
"Sepertinya dia sedang tidur" batin Zidan.
Setelah melepas semua atribut pakaian kerjanya, Zidan ke kamar mandi membersihkan diri. Zahra yang merasa mendengar suara orang sedang mandi menjadi terbangun dari tidurnya. Memang dia sedang tidur, tapi tidak bisa tidur nyenyak. Entah kenapa kepalanya masih sedikit pusing, namun dia memaksakan diri bangun dan berjalan untuk mengecek kamar mandi.
Baru dua langkah berjalan, tubuhnya seakan oleng dan terjatuh. Untung saja Zidan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat tubuh Zahra yang hampir jatuh segera menangkapnya. Zahra pun kaget karena tiba-tiba ada yang memeluknya.
"Mas Zidan!" ucap Zahra pelan melihat wajah Zidan yang kini sangat dekat dengannya. Sekilas mereka pun saling tatap.
"Kalau masih pusing ngapain jalan" omel Zidan lalu menggendong Zahra dan membaringkannya lagi ke atas ranjang.
"Hm, aku nggak tahu kalau Mas udah pulang, kan belum waktunya pulang kerja"
"Suka-suka aku lah. Aku kan bosnya" ujar Zidan datar sambil menuju ke lemari ingin mengambil baju.
Ketika dia menangkap tubuh Zahra tadi, dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk. Jangan tanya seperti apa debaran jantungnya ketika memeluk tubuh Zahra.
__ADS_1
Zahra menyunggingkan senyum di bibirnya. Melihat Zidan dengan rambut masih basah tadi di matanya, Zidan terlihat sangat tampan.