Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 27 Belum Rezeki


__ADS_3

Beberapa minggu setelah pulang dari rumah sakit, Zidan tidak berani memberi tahu kepada Zahra bahwa anak yang dikandungnya telah tiada. Mama dan papanya juga ikutan bungkam. mereka takut jika Zahra yang baru sadar dari tidur panjangnya harus down karena kehilangan bayi yang dikandungnya.


“Mas, kok aku nggak mual-mual lagi, ya?” tanya Zahra sebelum tidur namun mereka berdua sudah berbaring di tempat tidur.


Zahra heran karena sejak dia pulang dari rumah sakit mual-mualnya setiap pagi mendadak hilang. Dia pun menjadi khawatir.


Zidan menjadi serba salah melihat Zahra. Bagaimana dia harus menjelaskannya kepada Zahra.


“Sayang. Terkadang apa yang sudah Allah berikan kepada kita belum tentu menjadi rezeki kita” kata Zidan menopang kepalanya dengan tangan sambil menghadap ke arah Zahra.


“Maksud Mas apa?” tanya Zahra cemas.


Zidan menatap iba Zahra. Mereka saling tatap. Zahra seolah dapat membaca mata Zidan apa yang ingin disampaikannya. Airmatanya merembes. Zahra memegang perut ratanya.


“Anak kita?” tanya Zahra meminta kepastian kepada Zidan. Zidan mengangguk lalu memeluk Zahra yang sudah terisak.


“Kamu harus ikhlas. Mas juga sudah mengikhlaskannya” bisik Zidan mengelus punggung Zahra yang sedang terisak.


“Maafkan aku mas yang tidak bisa menjaga anak kita” ucap Zahra merasa bersalah.


“Sssst. Bukan salah kamu. Ini sudah takdir, Sayang. Jika Mas harus memilih di antara kalian berdua, maka Mas akan memilih kamu untuk diselamatkan” ucap Zidan berkaca.

__ADS_1


Zidan menahan diri agar airmatanya tidak tumpah. Bagaimana pun dia juga merasa sedih saat kehilangan buah cinta mereka berdua.


"Mas tidak marah, kan?" tatap Zahra.


"Nggaklah, Sayang. Kalau mau dibilang sedih, jujur saja Mas sedih kehilangan bayi kita. Tapi kamu lebih penting" ucap Zidan lalu mengecup kening Zahra.


"Terima kasih, Mas sudah mencintai dan menjaga ku" ujar Zahra menghapus air matanya. Zidan mengangguk tersenyum.


***


Sejak tahu Zahra kehilangan anaknya. Dia lebih banyak diam. Zahra tetap saja merasa dia lah yang bersalah, jika dia tidak memaksakan diri ke kampus dan bersabar menunggu Zidan meluangkan waktu untuk mengantarnya, anak mereka mungkin masih ada.


“Zi, Zahra mana?” tanya mamanya heran melihat Zidan duduk di ruang keluarga sendirian setelah makan siang. Zidan berselancar di dunia maya melihat perkembangan bisnis sekarang.


“Mm, sejak Zahra tahu anak kami tidak bisa diselamatkan. Dia lebih banyak diam, Ma” jawab Zidan sendu melihat mamanya.


“Zi, kamu ajak Zahra refreshing gih ke villa kita di puncak. Siapa tahu kesedihannya berkurang. Ajak dia ke tempat yang romantis atau apalah Zi, masa mau mama ajarkan juga” ujar mamanya kesal. Kok, Zidan nggak peka sih sama istrinya sendiri.


Zidan tertawa kecil mendengarkan saran dari mamanya.


“Iya, Mama ku yang cantik” puji Zidan lalu berdiri memeluk mamanya.

__ADS_1


Setelah mendengarkan saran dari mamanya, Zidan lalu ke kamar menemui Zahra. Dilihatnya Zahra sedang melamun di depan jendela. Dia menatap kosong taman belakang rumah. Novel yang belum selesai dia baca masih terbuka di atas ranjang. Zahra tidak menyadari keberadaan Zidan di dalam kamar.


“Sayang" bisik Zidan. "Mas mau mengajak kamu ke suatu tempat” sambung Zidan memeluk Zahra dari belakang.


Zahra yang sedang melamun pun tersentak kaget tiba-tiba kedua tangan Zidan telah melingkar di perutnya.


“Mas!! Mas tadi bilang apa?” tanya Zahra karena dia memang tidak mendengarkan apa yang sudah diucapkan oleh Zidan.


“Mas mau mengajak kamu ke suatu tempat” ulang Zidan menempelkan wajahnya ke pipi Zahra.


“Ke mana?” tanya Zahra penasaran.


“Ada, deh. Ayo, kita pergi” ajak Zidan.


" Mas, kok main rahasia-rahasia segala, sih" protes Zahra. Memangnya Zidan mau membawanya kemana.


"Mau kasih surprise pokoknya" kedip Zidan.


Zahra menurut saja setelah mengemasi beberapa pakaian miliknya dan Zidan ke dalam satu tas. Zahra pamitan kepada mertuanya dan menyusul Zidan yang sudah duluan ke garasi.


Zidan mengeluarkan fortuner hitamnya. Mereka berdua pun berangkat menuju ke villa keluarga Dirgantara.

__ADS_1


__ADS_2