
Tiba di puncak, Zahra berdecak kagum melihat pemandangan alam di sekitar villa. Sangat indah. Udaranya bersih dan segar. Zahra tidak menyangka Zidan akan membawa ke tempat yang sudah lama sekali ingin dia kunjungi.
“Mas, kita akan menginap disini, kan?” tanya Zahra berharap.
“Iya, Sayang” jawab Zidan.
Mata Zahra berbinar dan tersenyum bahagia. Zidan juga merasa bahagia melihat Zahra bisa tersenyum kembali.
“Ayo, kita masuk. Kalau sudah sore begini udaranya mulai dingin” ajak Zidan memasuki villa milik orang tuanya yang berbentuk panggung itu.
Sebelum berangkat, Zidan sudah menelpon pengurus villa untuk menyiapkan makan malam yang romantis di teras villa yang menghadap ke hamparan kebun teh.
“Sayang, makan malamnya sudah siap. Ayo, nanti keburu dingin” ajak Zidan menarik tangan Zahra keluar dari kamar.
Zahra terkejut melihat meja makan bundar penuh dengan makanan dan lilin yang sedang tertiup angin malam. Dia merasa senang sekali.
"Ternyata Mas Zidan romantis juga, ya" Zahra jadi merasa seperti pengantin baru saja.
"Mas, semua ini kamu yang siapkan?" tanya Zahra tidak percaya.
"Hm, iya karena ada yang ingin suaminya bersikap romantis" sindir Zidan tersenyum menatap Zahra.
"Kok, Mas Zidan tahu sih isi hati ku" batin Zahra.
__ADS_1
Zahra tersipu malu. "Ya, setiap wanita pasti mau lah punya suami yang romantis? Kalau Mas kan baru sekarang nyadarnya. Kemaren-kemaren kayak gunung es" Zahra balas menyindir Zidan.
"Ck, paling bisa ya istri Zidan ini" ujar Zidan gemas sambil mencubit pelan pipi Zahra. Zahra pun cekikikan karena berhasil telah membalas ucapan suaminya.
"Ayo, Mas makan" ajak Zahra.
Zahra makan dengan lahap karena perutnya memang sudah lapar sekali. Zidan tersenyum melihat nafsu makan Zahra sudah kembali normal.
“Mas, kok ngeliatin doang” ujar Zahra malu karena Zidan dari tadi hanya memperhatikannya makan.
“Mas, kok udah merasa kenyang melihat istri Mas makannya semangat 45” ucap Zidan.
“Mas ngeledek, ya” kata Zahra merajuk lalu berhenti makan.
“Mmm, enak banget, Mas. Coba, deh” Zahra menyuapkan ayam bakar madu ke mulut Zidan. Zidan pun membuka mulutnya.
“Iya, enak” ucap Zidan sambil mengunyah ayam yang disuapkan oleh Zahra. "Madunya terasa banget" sambung Zidan.
Zahra lalu mengambilkan nasi ke piring Zidan. “Makasih, Sayang”
Selesai makan malam, Zidan meninggalkan Zahra sebentar. Dia keluar dari villa dan menelpon sekretarisnya untuk mengosongkan jadwalnya besok. Usaha Zidan untuk menghilangkan kesedihan Zahra berhasil dengan mengajaknya ke puncak. Setelah menelpon sekretarisnya, Zidan kembali menemui Zahra. Rupanya Zahra masih berada di teras belakang villa.
“Za, kok masih di luar. Udaranya dingin, lho” ucap Zidan berdiri di samping Zahra.
__ADS_1
“Aku mau melihat pemandangan puncak di malam hari, Mas. Ternyata indah sekali, ya, Mas” gumam Zahra tersenyum.
Zidan mengambil tangan Zahra lalu mengecupnya. “Mas senang bisa melihat kamu tersenyum” tatap Zidan.
Entah mengapa Zahra merasa salah tingkah ditatap suaminya seperti itu. Zidan menarik badan Zahra agar lebih dekat dengannya. Zidan kemudian mengelus lembut pipi Zahra yang dingin karena terpaan angin malam. Semakin lama wajahnya semakin mendekat, jantung Zahra pun berdegup kencang.
“I Love You, Zahra” ucap Zidan lalu mencium kening Zahra dan memeluknya mesra.
Untuk pertama kalinya Zahra mendengarkan suaminya mengucapkan kata cinta. Hati Zahra berbunga-bunga. Zahra mencoba melepaskan pelukan Zidan, tetapi Zidan menahannya. Zahra hampir saja tidak bisa bernapas dibuatnya.
“Mas aku ...” Zidan lalu melepaskan pelukannya. Dia terlena sampai lupa kalau terlalu erat memeluk Zahra.
“Maaf” ucap Zidan malu. Zahra tersenyum geli melihat suaminya salah tingkah.
“Mas, aku juga mencintai mu” tatap Zahra mesra.
“Za, Mas sudah lama menginginkan ...”
Zidan mengantung ucapannya. Dia takut Zahra belum siap dengan apa yang dia inginkan. Zahra pun mengerti maksud dari ucapan suaminya. Memang sejak keluar dari rumah sakit, Zahra belum menjalankan kewajibannya sebagai istri dan Zidan pun tidak meminta haknya.
“Mas ...”
Zahra melingkarkan tangannya di leher Zidan. “Aku siap jika Mas menginginkannya” kata Zahra pelan sambil tersenyum malu.
__ADS_1
Tak banyak bicara lagi, Zidan pun langsung menggendong Zahra masuk ke dalam dan menutup rapat pintu kamarnya.