Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 13 Laki-laki Misterius


__ADS_3

“Chi, tadi kamu dicariin Pak Koriq” kata Monica memberitahu ku. Seharian istirahat di rumah membuat badan ku terasa segar kembali.


Ya Allah, beliau pasti menanyakan skripsi ku. Kemarin aku belum sempat memperbaikinya karena sakit.


“Dimana Pak Koriqnya, Mon” tanya ku kelabakan.


“Di ruangan dekan” jawab Monica.


“Aku kesana dulu, ya” pamit ku meninggalkan Monica.


"Beliau menanyakan skripsi kamu, ya?" tanya Monica lagi.


"Iya, tapi aku belum sempat memperbaikinya nih. Gimana, ya?" ujar ku khawatir.


"Udah sana temui beliau.Semoga lancar ya, Chi" ujar Monica memberi ku semangat.


Aku tersenyum penuh semangat lalu meninggalkan Monica.


Setelah bertemu dengan Pak Koriq, aku duduk terdiam di hadapannya. Mungkin aku terlalu memaksakan diri untuk ikut sidang bulan ini.


“Zahra” panggilnya menatap ku serius dengan kaca mata khasnya yang bertengger di atas keningnya.

__ADS_1


“Iya, Pak” sahut ku.


“Kamu bisa ikut sidang bulan ini. Tapi wisuda, kamu tetap ikut semester depan” jawab Pak Koriq.


Aku tahu, walaupun ngotot minta cepat sidang toh, aku tetap harus membayar SPP. Tidak apalah yang penting aku terbebas dari skripsi.


“Terima kasih, Pak” kata ku tersenyum bahagia.


“Oya, SPP-mu semester depan sudah ada yang melunasi” kata Pak Koriq.


Aku melongo. Antara bahagia dan bingung. Siapakah yang sudah berbaik hati membayar SPP-ku. Jangan-jangan Monica. Ah, tidak mungkin. Aku kan tidak pernah cerita soal kesulitan ku membayar SPP.


“Laki-laki, tapi dia tidak mau menyebutkan namanya. Katanya masih keluarga mu” jawab pak Koriq.


Keluarga yang mana? Rasanya keluarga yang ku miliki sekarang adalah mertua ku dan suami ku, Mas Zidan.


"Mas Zidan? Apa mungkin?" tanya batin ku heran.


Aku segera pamit keluar dari ruangan Pak Koriq. Aku masih berpikir panjang siapakah laki-laki yang sudah begitu peduli dengan ku. Mas Zidan sudah tahu kalau aku kuliah di kedokteran sejak di restoran itu. Apa mungkin dia? Ah, Entahlah siapa pun dia, aku sangat berterima kasih.


Tapi aku sangat penasaran. Aku tidak mau berhutang budi dengan seseorang. Aku lalu bergegas ke ruangan administasi untuk mencari informasi dari Bu Tika tentang siapa laki-laki itu.

__ADS_1


“Bu, saya boleh tahu tidak siapa orang yang sudah membayar SPP semester depan atas nama Zahra Ratu Orchida?” tanya ku dari balik loket pembayaran.


“Oh, Zahra, ya?. Maaf orangnya tidak mau menyebutkan nama” jawab Bu Tika.


“Ciri-cirinya orangnya gimana, Bu?” tanya ku semakin penasaran.


“Kalau orangnya ganteng banget, kayak indo gitu. Badannya tinggi dan berkulit putih” ingat Bu Tika.


Aku termenung. Kok kayak ciri-ciri Mas Zidan, deh. Aku tersenyum.


“Dia siapanya kamu? Katanya masih keluarga. Kamu ada keturunan bule ya, Za?” tanya Bu Tika heran.


“Nggak, Bu. Saya orang Indonesia asli, kok” jawab ku sambik tertawa kecil.


“Makasih ya, Bu” pamit ku meninggalkannya.


"Iya, sama-sama" balas Bu Tika.


Aku berlalu meninggalkan ruangan administrasi. Apa benar ya laki-laki itu Mas Zidan? Sambil berjalan, aku masih terus memikirkan siapa orang yang sudah melakukan itu semua.


Kalau aku menanyakannya langsung dan dia menjawab kalau itu bukan dia. Ah...aku bisa malu. Ketahuan kan, aku mengharapkan sekali kalau yang melakukan hal itu adalah dia.

__ADS_1


__ADS_2