
Zidan Pov
Aku berhenti membaca Quran karena menghapus airmata yang masih mengalir dari sudut mata Zahra. Kenapa selalu keluar airmata. Apa yang terjadi di alam sana Zahra.
Aku jadi teringat ketika dua hari yang lalu pulang ke rumah dan tidak sengaja menemukan kertas yang sudah diremas berada di dalam laci towalet. Ku buka dan ku rapikan seperti ada tulisan tangan. Ku baca isi kertas yang sudah lecek itu.
"Setelah acara resepsi pernikahan kenapa Mas Zidan tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada ku. Aku kan mau mendengarkannya mengucapkan kata cinta 'I love you' atau 'Zahra aku mencintaimu' secara langsung. Emang apa susahnya sih bilang itu. Ah sudahlah wajahnya tidak sedingin es lagi saja aku sudah senang sekali. Melihat senyumnya aku sudah bahagia. Mungkin dia bukan tipe suami romantis. Hehehe".
Aku tersenyum sendiri jika mengingat kertas yang berisi curhatan Zahra. "Zahra jika kau bangun, aku akan mengucapkan kata I love You sebanyak yang kau mau dan aku akan mengajak mu ke tempat yang romantis" janji ku di dalam hati.
Tangan ku yang masih menggenggam tangan Zahra dan aku seperti merasakan jari jemarinya bergerak. Ku lepas genggaman tangan ku. Benar saja, jari tangan Zahra bergerak pelan walaupun matanya masih terpejam.
“Zahra” panggil ku di dekat telinganya.
Aku menggenggam tangannya lagi. Ku lihat kelopak matanya mulai bergerak. Melihat responnya hari ini, hati ku merasa senang sekali. Aku tersenyum memperhatikan setiap detik gerakan di matanya. Aku benar-benar menunggu matanya perlahan-lahan terbuka sedikit. Baru saja terbuka, tiba-tiba dia memejamkan matanya lagi. Hati ku mulai cemas lagi melihatnya.
“Sayang” panggil ku mengelus pipinya.
Zahra masih memejamkan matanya. Jantung ku berdetak kencang. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Aku memencet tombol darurat yang ada di samping Zahra untuk memanggil dokter. Tak lama dokter datang, setelah ku jelaskan kondisi terakhir Zahra, dokter langsung memeriksanya.
“Alhamdulillah, Pak Zidan. Kondisi Bu Zahra sudah stabil” jelas dokter tersenyum.
“Tapi kenapa matanya masih terpejam, Dok?” tanya Zidan heran.
“Oh itu, mungkin efek karena terlalu lama koma. Matanya masih belum beradaptasi dengan cahaya” ujar Dokter tersenyum. Aku bernapas lega setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter.
“Sayang, Mas merindukan mu” bisik ku sambil menciumi tangannya setelah Dokter pergi.
__ADS_1
Mata Zahra mengerjap lagi. Dia menoleh melihat ku. Mata kami bertemu, tapi tatapannya masih kosong.
"Mas...”ucapnya dengan nada lemah. “Aku ada di mana?” tanyanya bingung.
“Di rumah sakit, Sayang. Kamu nggak ingat?”
Zahra tampak berpikir, mencoba mengingat kenapa dia bisa berada di rumah sakit.
Dia memicingkan matanya lalu menggeleng lemah. Ah, sepertinya dia belum connect. Sudahlah yang penting Zahra ku sudah sadar. Saking bahagianya aku sampai lupa untuk mengabari mama dan papa.
***
[Apa, Zi? Zahra sudah sadar?] tanya mama tidak percaya di telpon.
[Iya, Ma. Zahra sudah siuman bahkan sudah bicara dengan Zi] jawab ku menyakinkan mama.
[Iya, Ma]
Aku meletakkan ponsel di atas nakas. Zahra memandang ku tanpa ekspresi.
"Kenapa?" tanya ku salah tingkah sendiri melihatnya memandangi ku seperti itu.
"Sudah berapa lama aku koma, Mas?"
"Sepuluh hari"
"Selama itu?" tanyanya kaget. Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
"Mas yang jagain?" tanyanya lagi.
"Iya, Sayang. Awalnya Mas dan mama bergantian yang jaga, tapi karena kamu komanya lama jadi Mas tidak mengizinkan mama tidur di rumah sakit" jawab ku meraih tangannya.
"Jadi Mas nggak kerja selama itu?" tanya Zahra lagi.
"Ssst. Udah kamu jangan kebanyakan tanya. Itu urusan Mas nggak usah dipikirkan" Zahra memanyunkan bibirnya.
"Maaf" aku menowel pipinya. "Kamu kan baru siuman, Sayang"
"Karena itu aku nanya, Mas"
"Kalau Mas kerja juga nggak bisa konsentrasi karena memikirkan kamu. Mas sangat takut kehilangan kamu, Za" ujar ku menggenggam erat tangannya.
Zahra mengusap punggung tangan ku. "Mas, yang namanya ajal sudah ditetapkan di Lauh Mahfuz" gumam Zahra.
"Iya, tapi Mas belum siap jika kamu pergi meninggalkan Mas terlebih dahulu" balas ku sedih.
"Ya, Mas kan bisa mencari Zahra-Zahra yang lain" ujar Zahra menatap ku serius.
Aku ingin marah. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. "Mas hanya memiliki satu Zahra yaitu kamu" ucap ku juga serius menatapnya.
"Yakin?" tanya Zahra meragukan ku.
"Zahra!! Kamu baru siuman, tapi sudah membuat mas dongkol, ya" kata ku memencet hidungnya gemas.
Zahra tertawa kecil karena telah berhasil menggoda ku. Senyum dan tawanya kini bisa ku lihat lagi. Terima kasih, Ya Allah.
__ADS_1