
Zidan Pov
Sejak perkelahian kami kemarin, Adam tampak menjauhi ku. Kami juga jarang bertemu di kantor. Kalau pun rapat dia selalu diwakilkan. Adam bahkan tidak meminta maaf dengan ku. Ah terserahlah. Aku akan memberikan undangan resepsi pernikahan ku dengan Zahra kepadanya. Mungkin dengan begitu dia baru akan percaya kalau Zahra benar-benar istri ku.
Tok.Tok.Tok.
Aku mengetuk pintu ruangan Adam. Aku lalu masuk setelah mendengarkan suaranya memerintahkan masuk. Dia tampak terkejut melihat wajahku. Mungkin dia tidak menyangka bahwa aku yang akan menemuinya. Tanpa banyak bicara ku lempar undangan ku di atas meja kerjanya.
“Itu mungkin akan membuka mata hati mu. Bahwa wanita yang kau sukai itu sudah menjadi milik orang lain. Oya, jangan sampai kau tidak datang, ya,” kata ku sedikit tersenyum melihat wajahnya yang bengong melihat undangan berwarna cream di atas mejanya.
Tanpa banyak bicara lagi aku segera keluar dari ruangannya. Aku tidak mau berlama-lama di ruangannya. Adam merasa bahwa aku telah merebut Ochi atau Zahra darinya. Seolah-olah aku ini teman yang seperti pagar makan tanaman.
__ADS_1
***
Setelah Zidan pergi, Adam membuka undangan yang diberikan oleh Zidan tadi. Matanya hampir saja keluar melihat tanggal akad nikah Zidan dan Zahra sudah berlangsung tiga bulan yang lalu.
“Aaaaaaaaaa!!!"
Adam berteriak kesal lalu melempar undangan itu ke arah pintu. Rahangnya mengeras. Dia memegang kepalanya dengan frustasi.
Adam menggebrak meja kerjanya dengan emosi. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Tanpa pikir panjang lagi Adam keruangan Zidan untuk meminta penjelasan.
“Kenapa kau menutupi pernikahan mu dengan Ochi?” tanya Adam marah mendekati Zidan.
__ADS_1
Zidan yang sedang mengecek email di ipad-nya tersentak kaget melihat Adam masuk ke ruangannya tanpa permisi. Zidan berdiri dari kursi kerjanya berjalan ke arah Adam.
“Aku tidak menutupinya. Aku hanya belum mengumumkannya. Awalnya aku menikah dengan Zahra karena permintaan kedua orang tua ku. Kamu tau sejak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh kedua orang tua ku, hidup Zahra sebatang kara. Karena orang tua ku merasa bersalah mereka meminta ku untuk menikahi Zahra agar dia bisa tinggal bersama kami. Kau tau sendirikan bahwa aku tidak mudah untuk jatuh cinta. Aku tidak tahu sebelumnya bahwa Zahra dan Ochi yang sering kau ceritakan itu adalah orang yang sama. Aku juga tidak tahu selama ini bahwa Zahra bekerja di perusahaan papa ku. Bahkan aku juga tidak tahu kalau dia mahasiswa kedokteran. Zahra menutup semua tentang dirinya kepada ku karena memang awalnya diantara kami belum ada cinta. Tapi seiring waktu berjalan karena dia istri ku lama-lama aku menyukainya tanpa aku dan dia sadari. Apalagi setelah aku mencium gelagat mu bahwa kau sepertinya menyukai Zahra juga. Aku tidak akan membiarkan mu merebut apa yang sudah menjadi milik ku” jelas Zidan panjang lebar sambil menatap tajam Adam.
Adam termenung mendengarkan penjelasan Zidan. Ternyata akalnya benar-benar tidak sehat lagi lantaran Ochi. Adam merasa malu karena telah melukai Zidan kemarin akibat dari perasaan tak jelasnya. Kalau dia tahu status Ochi. Dia tidak mungkin melukai atasan sekaligus temannya sendiri.
"Zi, aku minta maaf" tatap Adam penuh penyesalan lalu pergi dari ruangan Zidan.
"Hey, jangan lupa datang, ya" ingat Zidan. Tanpa menoleh Adam hanya mengacungkan jempolnya kepada Zidan.
Zidan tersenyum. "Akhirnya selesai juga masalah ini" gumamnya.
__ADS_1