Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 29 Posesif


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Sejak tahu Zahra hamil lagi, Zidan lebih protektif dan sangat posesif dengan Zahra. Dia masih trauma jika mengingat Zahra koma selama sepuluh hari lebih.


Zahra Pov


Aku bukannya tidak suka dengan sikap Mas Zidan yang sangat perhatian dengan ku setelah aku hamil kembali. Mama dan papa juga kompak. Mau kemana-mana aku harus bersama salah satu di antara mereka. Aku merasa tersanjung sekali diperlakukan seperti itu.


“Chi, Mas Zidan kok sekarang posesif banget ya sama kamu?” tanya Monica yang melihat Zahra kemana-mana pasti ada yang menemani.


“Nggak tahu, Mon. Dia marah banget kalau sampai aku keluar rumah sendirian” jawab ku menerawang mengingat perlakuan Mas Zidan setelah tahu aku hamil.


“Cinta banget, ya, Mas Zidan sama kamu. Aku jadi iri, deh” gumam Monica.


“Buruan kejar skripsi kamu. Katanya ada dosen yang lagi pedekate, nih” goda ku.


“Ih...gosip!! Tahu darimana kamu, Chi” elak Monica tapi mukanya sudah bersemu merah.


“Gosip atau fakta, tuh muka kamu merah” ledekku.


“Ochi!! Sekarang pinter godain orang, ya” ujar Monica manyun.


"Iyalah, kan kamu gurunya, Mon" balas ku tertawa geli.


"Aaaa!!! Ochi bikin sebel!!" teriak Monica kesal.


***


Selesai urusan untuk persiapan yudisium, aku menelpon Mas Zidan untuk minta jemput.


“Mas, nggak perlu repot kayak gini. Aku kan bisa pulang sendiri” gumam ku ketika di dalam mobil.

__ADS_1


Aku bicara begitu karena memikirkannya yang harus bolak-balik dari kampus ke rumah lalu ke kantor lagi. Apa dia nggak capek?


“Kamu nggak suka dengan sikap ku kayak gini” katanya bernada tinggi.


“Bukan itu maksudnya, Mas. Tapi...”


“Kalau bukan itu, kenapa kamu mengatakannya setiap hari” potong Mas Zidan kesal.


Aku diam saja tidak mau menyulut emosinya. Mas Zidan rupanya tidak suka aku bicara seperti itu. Memang hampir tiap hari aku menanyakannya.


Turun dari mobil, Mas Zidan langsung menuju ke kamar, mama yang ada di depannya saja diacuhkannya.


“Zi kenapa, Za?” tanya mama heran melihat Zidan ngelonyor saja tanpa menyapanya.


“Za cuma bilang sama Mas Zidan agar tidak perlu bolak-balik menjemput Za. Mas Zidan udah sibuk dengan pekerjaannya, Ma. Za nggak mau membuatnya repot” jawab ku sedih.


Mama menghela napas. “Za, sejak kamu hamil Zidan memang terlihat posesif. Dia trauma dengan kecelakaan yang menimpa kamu kemaren. Dia tidak ingin kejadian itu sampai terulang kembali” jelas mama. Aku mengela nafas mendengar penjelasan mama.


***


“Mas, aku minta maaf. Aku senang kok kemana pun aku pergi ada Mas di samping ku. Tapi aku tidak mau membebani Mas. Mas juga punya kesibukan lain. Kematian itu kekuasaan Allah, Mas. Kita tidak bisa memundurkan atau memajukannya. Sekuat apa pun sesorang melindungi diri dari maut jika ajalnya tiba dia tidak akan bisa menghindarinya. Bahkan di tempat tidur saja maut bisa datang” ucap Zahra pelan masih memeluk Zidan dari samping.


Zidan terpaku mendengarkan ucapan Zahra. Zahra benar mungkin dia terlalu berlebihan dengan perasaan takutnya akan kehilangan Zahra. Zidan berbalik dan membalas pelukan Zahra.


“Za, Mas masih trauma...” gumam Zidan pelan.


Zahra menggeser badannya agak ke atas sehingga wajahnya berada di hadapan Zidan.


“Iya, aku ngerti Mas. Aku mau kok kalau Mas memang tidak keberatan melakukannya”


“Melakukan apa?” tatap Zidan mesra.

__ADS_1


Perasaan hatinya yang terbawa emosi tadi meluap entah kemana saat melihat wajah Zahra dekat di hadapannya.


Zahra melihat tatapan Zidan sudah lain, ucapannya juga membuat darahnya berdesir. Zahra tersenyum kecil rupanya Zidan mau mengalihkan pembicaraan.


“Mas kita sedang membicarakan...” Zahra tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Zidan sudah mengecup bibirnya.


“I love you my wife” ucap Zidan.


Zidan semakin tergoda memandang wajah Zahra dan dia menginginkan Zahra lebih dari itu.


“Mas, tapi kandungan ku belum kuat” bisik Zahra seakan tahu keinginan suaminya.


Zidan berbisik ke telinga Zahra dan membuat Zahra menyunggingkan senyuman. Zahra pun akhirnya menurut saja memenuhi permintaan suaminya itu.


"Rasa khawatir Mas Zidan kepada ku itu karena dia terlalu mencintai ku. Ah suami ku, Sayang. Aku juga mencintai mu" batin Zahra.


“Mas, kok malah kebablasan kayak gini” bisik Zahra memeluk erat Zidan. Mereka berdua masih di balik selimut.


“Salah siapa coba meluk-meluk Mas tadi” goda Zidan tersenyum.


“Ih, Mas ini mencari kesempatan, ya. Aku meluk-meluk kan nggak minta itu” cubit Zahra ke pinggang Zidan.


“Aww, sakit Sayang. Mau nambah lagi, nih” goda Zidan lagi. Wajah Zahra sudah memerah dibuatnya.


“Maunya, Mas. Aku mandi duluan” Zahra meninggalkan Zidan yang terkekeh melihatnya tersipu malu.


"Sayang, nggak mau mandi bareng, nih?" teriak Zidan.


"Itu sunnah juga, lho" lanjut Zidan.


"Nggak mau!!" balas Zahra lalu menutup pintu kamar mandi. Zidan tersenyum geli lalu menyusul Zahra ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


'"Nggak maunya perempuan berarti 'iya' kan" batin Zidan. Menjadi suami romantis itu adalah dambaan setiap istri.


__ADS_2