
Zahra Pov
Kami pulang ke rumah disambut mama dan papa dengan senyuman bahagia. Mama langsung menarik tangan ku dan mengajak ku duduk di taman belakang rumah.
“Za, gimana? Zidan udah itu” kedip mama. Aku tersenyum belum nyambung apa maksud dari kode mama.
“Itu apa, Ma?” tanya ku polos. Mama menghela napasnya, melihat ekspresi ku yang belum connect.
“Aduh polos banget ya menantu mama ini. Itu lho maksud mama Zidan udah make love sama kamu” ujar mama berbisik takut ada yang mendengar.
“Make love?” ulang ku bingung.
Aku mengira kalau make love itu adalah menyatakan cinta. Secara langsung memang Mas Zidan belum mengucapkan kata cintanya dengan ku.
“Belum, Ma” jawab ku polos.
“Apa!!! Belum juga.Terus apa yang kalian lakukan di hotel semalam. Tidur sendiri-sendiri lagi?” tanya mama sewot. Wajah ku bersemu merah mengingat kejadian semalam di hotel.
“Nggak, Ma. Za tidur bersama Mas Zidan, kok” jelas ku.
Mama mertua ku geleng-geleng kepala. "Menantuku ini pintar karena ia calon dokter, tapi kalau urusan cinta kayaknya dia **** banget nih" batin Nancy.
“Maksud mama kalian udah berhubungan suami istri belum?” tanya mama kepo. Aku tertunduk malu, mama Mas Zidan sampai menanyakan hal itu.
“Kalau belum juga, Zidan mau mama sidang” tegas mertua ku
“Eh...jangan, Ma. Kami udah melakukannya, kok” jawab ku tersenyum malu.
“Benarkah. Alhamdulillah berarti nggak lama lagi kalian bisa kasih mama cucu, nih” ujar mama bahagia menggenggam tangan ku.
“Insya Allah, Ma” Aku hanya bisa tersenyum melihat mama mertua ku bahagia.
“Ma!!” panggil Zidan menghampiri aku dan mama yang sedang ngobrol di taman. Aku dan mama langsung tutup mulut melihat kedatangan Mas Zidan.
“Ada apa, Sayang. Kayaknya bahagia banget, nih” canda mama sambil melirik ku.
“Kalian berdua ngomongin aku, ya?” tanya Mas Zidan curiga karena ketika dia datang tiba-tiba kami, kedua wanita yang dicintainya langsung terdiam.
__ADS_1
“Kege-eran kamu, Zi” ledek mama.
“Zi mau mengajak Zahra makan siang di luar, Ma” kata Mas Zidan sambil melihat ke arahku.
“Oh...jadi nggak mau makan di rumah nih ceritanya” cibir mama menatap kami berdua.
“Ada urusan di luar jadi sekalian aja mau mengajak Zahra, Ma” jelas Mas Zidan.
“Hmm, sekarang maunya lengket terus sama Zahra, yaa” goda mama.
“Ayo, Zahra. Lama-lama di depan mama, kita udah kayak kepiting rebus” kata Mas Zidan sambil menarik tangan ku yang dari tadi hanya tersenyum. Mama mertua ku hanya terkekeh melihat kami berdua berjalan meninggalkannya.
***
Zidan POV
Entah kenapa sekarang aku ingin selalu dekat dengan Zahra. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Selalu ingin melihat wajahnya, selalu ingin mendengarkan suara manjanya, dan tidak ingin berjauhan. Aku jadi selalu ingin pulang cepat ketika berada di tempat kerja. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
"Mas, kita mau ke mana?" tanya Zahra di dalam mobil.
"Lho, kan Mas Zidan yang mengajak ku, mana aku tahu" jawab Zahra cuek.
Aku tertawa. "Kok, ketawa. Apanya yang lucu?" tanya Zahra heran.
"Ikut aja" kata ku belum mau memberitahunya ke mana tujuan kami.
Tak lama kami tiba di sebuah mall ternama. Setelah memarkir mobil, aku menggandeng tangan Zahra masuk ke dalam mall.
"Kita ke mall mau ngapain?" tanya Zahra heran.
"Pacaran" jawab ku asal. Pipi Zahra bersemu merah. Membuat ku gemas saja melihatnya.
Aku mengajak Zahra ke lantai paling atas untuk menonton film.
"Mas, kita mau nonton?" tanyanya lagi.
"Nggak, kita mau mancing" jawab ku mencubit pipinya. "Ya, mau nontonlah kalau ke bioskop" Zahra tersenyum malu karena ku sindir.
__ADS_1
"Tunggu di sini. Mas beli tiket dulu" kata ku sambil melepaskan tangan Zahra yang masih ku genggam dari tadi.
Jeda sepuluh menit mengantri, aku menghampiri Zahra. Kami mencari makanan kecil sebentar lalu masuk ke dalam bioskop.
Aku memilih film horor karena tidak ada pilihan lain yang menarik. Film ABG atau romance aku kurang suka. Ku harap Zahra juga suka.
Sudah setengah jam lebih kami menonton, Zahra memeluk erat tangan ku. Ku rasakan tangannya dingin sekali bukan karena efek suhu AC.
"Mas, udahan nontonnya" ujar Zahra sambil memejamkan matanya. Aku masih asik menonton karena lagi seru-serunya.
"Mas, aku mau keluar" rengek Zahra.
Karena melihatnya sudah tidak nyaman lagi di dalam bioskop, aku pun menuruti permintaannya.
"Mas, kok nonton film serem kayak gitu, sih" rajuk Zahra ketika sudah di luar bioskop.
"Hm biar kamu peluk Mas terus" canda ku.
"Ih, nggak lucu!!"
Zahra mencubit pinggang ku kesal. Dia lupa kalau kami berada di tempat umum. Semua orang menatap ke arah kami karena aku berteriak kesakitan. Zahra beneran nyubit, lho. Aku dan Zahra segera pergi dari sana.
"Kamu laper nggak?" tanya ku. Zahra hanya mengangguk. Ku raih tangannya untuk menggandengnya lagi.
"Ayo, kita cari tempat makan. Kamu mau makan apa?" tanya ku sembari turun menggunakan eskalator.
"Terserah, Mas. Aku ikut aja" jawab Zahra pasrah.
"Za, setelah makan, kamu mau belanja nggak?" tanya ku sembari menunggu pesanan kami datang. Aku mengajaknya ke cafe yang masih ada di dalam mall.
"Hm, belanja apa, Mas?"
"Ya, belanja keperluan kamu, pakaian atau apalah"
"Nggak usah, Mas. Aku tahu Mas banyak uang, tapi sayang uangnya. Mendingan ditabung aja untuk aku ambil spesialis" jelasnya.
Aku tersenyum mendengarkan jawabannya. Tidak salah mama memilihnya sebagai menantu. Meskipun dia tahu aku sanggup membiayai kuliahnya lagi untuk mengambil spesialis kedokteran, Zahra tetap mau berhemat. Zahra, kamu membuat ku semakin cinta saja.
__ADS_1