
Makan siang hari ini, rencananya Adam akan makan keluar bersama Monica. Kebetulan Monica akan mengajak Ochi juga. Kesempatan ini, Adam rencananya juga mau mengajak Zidan agar tahu dengan karyawannya yang bernama Ochi itu. Adam keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Zidan.
“Zi, ikut aku makan siang di luar, yuk. Aku ada janji dengan Monica sekalian dia mau mengajak Ochi juga” ajak Adam masuk ke ruangan Zidan.
“Hmm, boleh juga” jawab Zidan melihat raut wajah Adam sepertinya bahagia sekali.
"Sekalian aku mau tau juga seperti apa rupa Ochi yang dikagumi Adam temanku itu" batin Zidan.
“Pakai mobilmu, ya” rayu Adam.
"Huh, dasar!! Orang yang ngajak siapa, kok malah pakai mobilku" pikir Zidan.
“Dasar nggak bermodal” cibir Zidan sambil memberikan kunci mobilnya kepada Adam. Kalau mobilnya dipinjam, jangan harap dia yang bakalan jadi sopirnya.
“Tapi nanti yang bayar makan aku, Zi. Kamu tenang aja" kata Adam tersenyum.
"Cie, yang lagi happy" ledek Zidan.
"Biasa aja, Zi. Aku kan selalu happy" balas Adam.
“Oke. Ayo, cabut. Aku juga udah laper banget” ajak Zidan tidak sabaran.
Sesampai di restoran yang sudah ditentukan Adam sebagai tempat janjian dengan Monica dan Ochi, Adam dan Zidan sudah terlebih dahulu memesan menu makan siang mereka. Tapi kedua gadis itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Adam dengan gusar lalu menelpon keponakannya itu.
“Gimana?” tanya Zidan. Dia paling bosan kalau menunggu.
“Bentar lagi sampai, kok” jawab Adam santai.
“Nah, itu mereka” tunjuk Adam sambil melambaikan tangan melihat Monica menghadap ke arah mereka. Monica pun berjalan menghampiri Adam dan Zidan, diiringi Ochi yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Mon, serius ini. Kita mau makan bareng Om kamu?" bisik Ochi.
"Iya, Chi. Kapan lagi makan gratis dari Om sendiri. Kayaknya Om ku lagi happy, Chi" balas Monica juga berbisik.
“Maaf, ya, Om. Udah lama menunggu, kami naik angkot tadi” kata Monica duduk di depan Omnya.
Zidan terkejut bukan main melihat gadis yang datang bersama Monica. Jantungnya berdetak kencang kala mata mereka bertemu. Begitu juga dengan Zahra, dia pun begitu kaget melihat suaminya duduk di samping Adam.
Zidan pov
Jadi gadis yang dimaksud Adam selama ini yang bernama Ochi itu adalah Zahra, istriku sendiri. Ya, Tuhan. Bagaimana mungkin, Adam menyukai gadis yang ternyata istriku sendiri. Aaaargh. Rasanya kepalaku mau meledak. Ku tahan emosiku karena melihat Adam tersenyum melihat Zahra.
“Om Zidan yang kece akhirnya mau juga makan dengan Monic” celetuk Monica melihatku sambil tersenyum.
“Oya, Om. Ini temanku, Ochi. Nama lengkapnya Zahra Ratu Orchida, Om” lanjut Monica mengenalkan Zahra kepada ku.
Aku melihatnya tersenyum kikuk begitu juga denganku. Monica dan Adam tidak tahu kalau kami berdua bukan lagi kenal, tapi sudah menjadi suami istri. Aku jadi mau tersenyum sendiri, tapi ku tahan.
“Om Zidan yang ganteng kok belum punya cewek, sih?. Apa nungguin Monic?” canda Monica memecah keheningan di antara kami sambil melihat daftar menu.
Aku masih melihat Zahra yang hanya menunduk. Dia tidak berani menatap ke arah ku.
“Om ... woi!!!” teriak Monica memanggilku.
“Kok ngelihatin Ochi terus, sih. Om itu bukan tipenya Ochi tau nggak. Dia nggak bakalan naksir Om, ya kan, Chi?” senggol Monica. Zahra tersentak kaget melihatku.
“Apaan, Mon. Jangan ngomong asal” bisik Zahra salah tingkah.
“Emang tipe Ochi seperti apa?” tanyaku melihat Zahra sehingga mata kami pun bertemu.
__ADS_1
Namun bukan jawaban dari mulut Zahra langsung yang ku dengar, tapi dari keponakan bawel Adam.
“Tipe Ochi ini pria berjenggot, suka ke masjid dan baca Quran ya nggak, Chi. Hahaha. Om Adam baru jenggot doang yang tumbuh, dikit lagi” jawab Monica meledek Adam.
Adam pun salah tingkah karena keponakannya sendiri. Aku menahan tawaku agar tidak meledak. Tensin di depan Zahra aku harus tertawa. Ku perhatikan Zahra tampak salah tingkah dengan ucapan Monica. Hatiku berdesir, sepertinya aku memang bukan tipenya.
Aku melirik Adam. Benar, aku baru sadar. Sejak kapan Adam memelihara jenggot? Hatiku mulai panas. Aku tidak rela kalau dia mau mendekati Zahra. Ya, karena statusnya, Zahra adalah istri sahku walaupun dia belum ku apa-apakan.
"Om, Ochi ini banyak yang naksir, lho" celetuk Monica melihat aku dan Adam.
"Mon, udah dong" bisik Zahra.
"O...yah" gumamku tidak percaya.
"Yah, Om Zidan nggak percaya. Ada senior kita yang paling ganteng ternyata suka sama Ochi bukan Monic. Dia nanyain kapan Ochi sidang. Nah, itukan tanda-tanda Om. Siapa tau sudah sidang nanti, Ochi langsung dilamarnya" cerita Monica.
Aku menatap tajam ke arah Zahra. Dia tampak kaget dengan ucapan Monica. Ku lihat Adam pun terkejut.
"Sudah ... sudah. Ayo, makan nanti keburu dingin" ujar Adam dengan raut wajah tidak seceria tadi.
Zahra Pov
Pulang dari makan siang bersama Pak Adam dan Mas Zidan tadi, aku langsung memarahi Monica. Habisnya aku kesal sekali dengan mulutnya itu.
"Mon, kenapa sih kamu ngomongin sesuatu yang belum tentu benar tentangku ke orang lain. Itu bisa jadi fitnah tau nggak!" ujarku sedikit emosi.
"Maaf, Chi. Habisnya Om Zidan ngeliatin kamu terus kayak gitu. Terus Om Adam juga kayaknya suka deh sama kamu. Kamu itu nggak peka banget ya ,Chi. Om Adam itu banyak berubah setelah kenal sama kamu" toleh Monica melihatku.
Monica ikut pulang ke rumahku. Kami duduk bersandar di sofa tua milik orang tuaku.
__ADS_1
"Belum tentu juga karena aku, Mon. Bukannya bagus kalau Om kamu hidupnya lebih baik dari sebelumnya" tepisku.
Ah, sudahlah Monica saja tidak tahu kalau dia tadi berbicara di depan suamiku. Melihat tatapan tajam Mas Zidan ketika Monica membicarakan tentang Mas Agung, aku jadi takut.