Takdir Cinta Zi Dan Za

Takdir Cinta Zi Dan Za
Part 12 Rasa Cemburu Zidan


__ADS_3

“Kenapa Ochi nggak masuk hari ini? Kata Andi juga tidak ada kabar kalau dia meminta izin” dengus Adam melihat Lina yang mengantarkan kopi ke ruangannya.


Zidan baru saja mau masuk ke ruangan Adam dan melihat ada Office Girl barusan keluar dari ruangannya.


“Kenapa kamu, Dam? Kok nggak semangat gitu?” tanya Zidan.


“Hari ini Ochi kayaknya absen. Tidak seperti biasanya. Padahal dia selalu minta izin atau memberi kabar kalau tidak bekerja” jawab Adam.


Hati Zidan memanas melihat Adam yang sok perhatian dengan Zahra. Bahkan sehari saja Zahra tidak ada, dia tahu. Zidan mengepalkan tangannya tanpa Adam ketahui.


“Kenapa kau perhatian sekali dengannya?” tanya Zidan datar.


“Mungkin kau benar, Zi. Sepertinya aku menyukai Ochi” jawab Adam jujur.


Zidan mengeraskan rahangnya mendengarkan pernyataan Adam tentang perasaannya terhadap Ochi yang tidak lain adalah istrinya. Zidan ingin saja langsung berteriak kepada Adam kalau Zahra adalah istri sahnya. Tapi masih ditahannya.


“Jangan coba-coba mendekatinya” kata Zidan bernada mengancam. Adam terkejut melihat reaksi dari Zidan.


“Mungkin saja dia sudah punya suami” lanjut Zidan. Dia tidak ingin Adam curiga tentang hubungannya dengan Zahra.

__ADS_1


“Hahahaha. Kamu sok tahu, Zi. Ochi itu masih gadis ting-ting. Semua teman-temannya juga tahu kalau dia belum bersuami” kata Adam yakin. Kalau Ochi menikah sudah pasti dia akan diundang.


“Kau sudah tanya dengannya langsung?” tanya Zidan sinis.


Adam terdiam. “Hei, kenapa denganmu, Zi? Kau sepertinya tidak suka ya kalau aku menyukai seorang Office Girl” balas Adam sewot.


“Sudahlah. Kau akan menyesal jika tahu” gumam Zidan keluar dari ruangan Adam, lama-lama dia bisa emosi melihat Adam.


"Apa maksud ucapan Zidan tadi. Apa dia juga menyukai Ochi? Kok, ekspresinya seperti itu, pakai mengancamku segala agar tidak mendekati Ochi" batin Adam bertanya-tanya melihat sikap Zidan barusan.


Zidan Pov


Bahaya ini. Adam terang-terangan menyatakan perasaannya terhadap Zahra. Aku tidak bisa membiarkannya mengharapkan cinta Zahra. Aku harus cepat mengumumkan pernikahanku dengan Zahra. Aku tidak mau Adam semakin lama semakin memupuk cintanya terhadap Zahra. Akan ku sampaikan hal ini kepada mama dan papa agar mereka mempersiapkan resepsi pernikahan ku secepatnya. Tapi apakah Zahra mau?


Apa-apaan ini. Istri dari Zaidan punya hutang di perusahaannya sendiri. Aku tersenyum geli. Sepertinya aku sudah jatuh hati kepada mu Zahra alias Ochi. Dan aku tidak akan membiarkanmu menyukai laki-laki lain selain aku suamimu.


Ketika Zahra masih di kamar, aku menyampaikan rencanaku kepada mama dan papa yang sedang santai di ruang keluarga.


"Pa, Zi ingin resepsi pernikahan Zi dan Zahra cepat dilangsungkan" ujarku.

__ADS_1


Mereka tersenyum bahagia mendengarkan keinginanku. Mungkin sudah lama mereka menunggu kapan aku akan mengucapkan itu.


"Lebih baik kita tanya Zahra dulu, Zi” ujar mama.


“Papa rasa Zahra setuju saja. Benar kata Zidan, Ma. Kalau orang belum tahu status Zahra sudah bersuami, bisa saja nanti laki-laki lain nanti menyatakan cintanya lebih dulu dibandingkan Zidan” ledek papa sambil menatap ke arahku.


Aku memalingkan wajahku dari tatapan papa. Aku malu mengakuinya. Jujur ku akui sebelum tahu kalau Ochi itu adalah Zahra, aku juga mengagumi sosok gadis yang bernama Ochi itu. Dan ternyata mereka adalah orang yang sama, tambah membuatku malu.


“Bagaimana pun juga kita minta pendapat Zahra dulu, Pa" ujar mama bersih keras.


“Karena Zahra pernah bilang sama mama, Zi. Dia mau menyelesaikan kuliahnya dulu” lanjut mama.


"Terserah mama, tapi mama saja yang tanya ke dia" ujarku.


Aku serahkan sama mama sajalah urusan itu. Tujuanku cepat mengadakan resepsi juga untuk meng-CUT perasaan Adam terhadap Zahra.


"Kelamaan, Ma. Zidan bisa naik darah kalau nanti ada yang melirik Zahra" goda papa.


Aku mesem-mesem karena terus digoda papa. Sepertinya mama dan papa sudah mencium gelagatku yang mulai menerima Zahra.

__ADS_1


"Iya, Pa. Bisa kebakaran jenggot nih anak mama" mama ikutan menggoda.


Ah, mama dan papa sama saja. Aku pun meninggalkan mereka yang terus saja menggoda ku.


__ADS_2