
Setelah ku pikir-pikir lagi. Aku senyam-senyum sendiri. Ternyata Mas Zidan yang sudah membayar SPP-ku. Siapa lagi coba yang mengaku masih keluarga ku dengan wajah indonya. Papa mertua? Mukanya Indonesia banget. Fix deh, laki-laki itu Mas Zidan. Aku bergegas ke kantor melanjutkan tugas ku sebagai Office Girl.
“Hei, Chi. Kenapa nggak masuk kemarin. Pak Adam cariin kamu, lho. Dia mah maunya kopi buatan kamu aja” celetuk Lina, temannya sesama Office Girl.
“Maaf, Lin. Aku kemarin demam. Tidak sempat mengabari” jawab ku pelan.
“Yaelah, kirain minggat karena di kejar-kejar Pak Adam” ledek Mba Yeyen sambil tertawa kecil.
“Ih, Mba Yen. Apaan, sih” tepis ku.
“Eh Chi, Pak Adam tuh suka sama kamu ” ujar Mba Yeyen.
“Mba Yen, Pak Adam itu sudah seperti Om ku sendiri nggak lebih” elak ku.
Memang kenyataan begitu aku nggak ada perasaan apa pun dengannya. Hati ku hanya untuk suami ku. Cie ... cie
“Oya, kita siap-siap, nih. Jam dua nanti ada rapat di ruangan direksi. Chi, kamu aja yang bawa snack masuk ke dalam ruangan, ya” kata Mba Yeyen.
“Kok aku, Mba?” tanya ku tidak terima.
“Yang lain udah pernah kan. Tinggal kamu yang belum” desak Mba Yeyen.
__ADS_1
“Oke lah kalau begitu” aku pun terpaksa menerimanya.
Aduh bakalan ketemu dengan Mas Zidan ini. Badan ku kok mendadak jadi tidak enak.
***
Setelah selesai mempersiapkan snack untuk rapat, kami bersiap-siap menuju ke ruang rapat. Tiba di sana, kami masih menunggu di luar pintu. Mba Yeyen melihat jam di tangannya. Tak lama Mba Yeyen memberi kode agar aku masuk membawakan snack dan minuman ke dalam ruang direksi.
Satu persatu snack ku letakkan di samping peserta rapat. Oh Tuhan. Jantung ku rasanya mau copot ketika melihat siapa yang duduk di kursi paling depan. Mas Zidan!!. Mati aku. Tangan ku gemetar melihatnya sedang menatap ku tajam.
Aku ketahuan. Bagaimana ini? Dia kan tidak tahu kalau aku bekerja di sini. Rasanya ingin lari dari ruangan ini. Tapi aku belum meletakkan snack dan minuman untuknya. Ekor matanya mengikuti langkah ku yang berjalan menuju ke arahnya.
Keringat dingin mengucur deras di balik seragam ku. Oh Tuhan, bagaimana aku akan menghadapinya di rumah nanti.
Aku terpaku sebentar mendengarnya memanggil ku, Ochi. Aku pun bergegas keluar dari ruangan itu. Aku menarik napas dalam di pantry.
“Chi, kenapa muka kamu kok pucat?” tanya Lina.
Aku mengatur napas ku dan menata hati ku yang tidak karuan. Bagaimana ini, aku tidak berani pulang. Aku tidak berani bertemu dengannya di rumah.
“Chi, kamu kenapa?” Lina menggoyang-goyangkan pundak ku.
__ADS_1
“Eh...nggak apa-apa, Lin” jawab ku pelan sambil mengatur detak jantung ku.
“Kamu sakit lagi, yah? Muka kamu kok pucat banget” tanya Mba Yeyen khawatir.
“Nggak, Mba. Aku baik-baik aja, kok” aku duduk menenangkan diri.
"Chi, kamu perhatikan Pak Adam nggak tadi?" tanya Mba Yeyen. Aku menggeleng.
Memang Mba Yeyen ikut masuk bersama ku tadi sambil membawakan snack. Tapi yang membagikan snack ke meja-meja itu tugas ku.
"Pak Adam ngeliatin kamu terus, Chi. Dari awal masuk sampai kamu keluar" jawab Mba Yeyen sendiri.
Karena melihat Mas Zidan ada di sana pandangan ku tidak bisa fokus ke arah lain. Ya Tuhan, bukannya Pak Adam duduk di sisi kanan Mas Zidan.
"Jadi emang bener nih, Pak Adam suka sama Ochi ?" celetuk Lina. Aku melototkan mata ke arah Lina. Dia malah cengengesan.
"Iya, emang bener kan, Mba?" lirik Lina ke arah Mba Yeyen mencari pembenaran. Mba Yeyen hanya mengangguk.
"Tuh kan, Chi" ujar Lina tersenyum.
"Pantesan aja Pak Adam nggak melirik ku, rupanya udah kepincut calon dokter" canda Lina.
__ADS_1
"Udah ah, kalian jangan bicara sembarangan. Kalau ada yang mendengar nanti bisa jadi fitnah, lho" ujar ku memperingatkan mereka. Takutnya karyawan Office girl lain jika mendengar ini bisa jadi salah paham.