
Happy Reading π
7 bulan kemudian.
Kini aku sedang menatap ujung jarum jam dinding ditembok ruanganku, aku dan Mas Rian baru saja selesai meeting dengan beberapa Clien hari ini.
Ku pandangi terus jam dinding yang kian terus bergerak melingkar berulang kali. hari kian menjelang sore aku mulai panik menunggu panggilan dari seseorang yang tak kunjung aku dapatkan, aku sangat cemas dimana dia sekarang? apa dia masih bersama wanita itu? Ya allah,apa yang harus aku lakukan?.
Sebenarnya aku sedikit lega meskipun cuma sementara, aku lega karena dari tadi Mas Rian tidak ada membahas atau menanyakan soal surat perjanjian kami waktu itu, yang sangat jelas tertera disana bahwa aku harus siap menggugat cerai dan segera meninggalkan Mas Rian, Pangeran Impianku selama ini.
Hari ini tepat dimana hari terakhir batas waktu dari 7bulan. Ahhhh....... kenapa waktu terasa begitu cepat berjalan? inilah yang belakangan ini selalu aku takutkan, Gim-gimana kalau nanti Mas Rian masih belum cinta sama aku? apa yang harus aku lakukan?
Hufftt...... tapi ini udah jadi keputusan yang lo buat sendiri Ray, bagaimana pun konsekuensi nya lo harus bisa menerima nya dengan lapang dada, lo Pengen banget kan liat Suami Lo bahagia? ya meskipun bukan sama lo tapi setidaknya Lo udah berjuang buat dapetin hatinya.
6 bulan berlalu dengan dipenuhi hal-hal yang sangat indah beberapa bulan ini hubungan kami menjadi semakin dekat, seperti layaknya rumah tangga yang normal aku selalu melayani Suamiku dengan sepenuh hati, ya aku berpikir meskipun nantinya aku gagal membuatnya mencintaiku tapi setidaknya aku masih bisa melukis kenangan diantara kita berdua.
Dari mulai menyiapkan baju-baju yang akan dia pakai,memasangkan dasi,memasakkan semua makanan kesukaannya dengan menu yang berbeda setiap harinya.
Hingga memberikan jatah haknya saat dia meminta nya padaku. Aku memang tidak memakai alat kontrasepsi apapun, aku memang ingin mempunyai anak dari Mas Rian, karena disaat nanti kami tak lagi bersama akan ada sekecil duplikat aku dan suamiku yang akan selalu bersamaku.
Pernah sekali aku berpikir untuk melakukan program hamil untuk mengsegerakan kehamilanku, dengan berharap jika aku hamil akan mudah bagiku mencuri hatinya, tapi aku sadar jika memang aku dan suamiku berjodoh maka aku percaya Allah Swt akan memberikan jalannya. karena terlepas dari punya anak atau tidaknya, kalau memang Mas Rian tidak menginginkan aku disampingnya maka aku bisa apa?.
Setiap hari dengan senang hati aku berkerja sebagai sekretaris dari seorang CEO Adrian Assyarif, kami selalu berangkat dan pulang bersama dari kantor. tapi hatiku selalu sakit saat Wanita itu datang, iya si Wulan perempuan ganjen itu, ya aku tau dia memang wanita yg suamiku cintai tapi ya, masak gak mikir gimana perasaanku sebagai istrinya.
Hampir setiap hari dia selalu datang menemui Mas Rian dengan modus minta ditemani, ada hal penting harus dibicarakan lah. itulah modus-modusnya mengajak suamiku agar mau ikut pergi makan siang dengannya.
__ADS_1
"Ya Allah aku ini istrinya kan? aku cemburu melihat mereka pergi berdua saja disana, walaupun aku tau Mas Rian mencintainya".bathin ku.
"Tapi sebisa mungkin aku selalu bersikap sabar,aku gak mau nanti Mas Rian menganggapku pencemburu, Possesif dan kawan-kawannya. Nanti dia makin Ilfiel sama aku.
Sampai disaat ini aku menangis dikamar dalam kegelapan aku menangisi nasib yang harus aku terima bahwa aku hanyalah seorang istri tidak beruntung karena tidak dicintai oleh suaminya.
Sore tadi saat aku dan Mas Rian sedang bersiap-siap pulang dari kantor tiba-tiba Wulan datang dengan wajah yang sembab seperti habis menangis, sambil terisak dia bercerita kalau ibunya sakit dan sedang dirawat dirumah sakit setelah perdebatan karena dia tidak bisa menuruti kemauan sang ibu yang menjodohkan dia dengan anak sahabatnya. Aku masih mendengar ceritanya dengan seksama tanpa merasa curiga sama sekali. lalu kemudian meminta suamiku untuk ikut bersamanya kerumah sakit menemui ibunya dan mengatakan kalau mereka akan segera menikah.
Deggh.....
Ya allah apa ini akhir dari semua?apa tepat dihari ini pernikahan akan benar-benar berakhir? kulihat Mas Rian tampak syok mendengar permintaan Wulan,
Aku amati terus raut wajahnya menunggu jawaban darinya apakah dia aja pergi bersama Wulan? sedetik kemudian dia akan melangkahkan kakinya tapi sebelum itu aku menahan lengannya, lalu dia pun menoleh padaku, ku tatap matanya intens,dengan masih menahan tangisku aku menatap matanya seolah mengatakan "Aku Mohon Jangan Pergi" padanya, cukup lama dia juga menatapku tapi kemudian si nenek lampir itu melepaskan tanganku yang memegang lengan suamiku.
Dan beginilah keadaanku sekarang,aku hanya bisa menangisi pernikahan yang selama ini aku impikan tapi setelah semua terwujud harus berakhir semenyakitkan ini.
Cukup lama aku menangis sampai tanpa kusadari aku tertidur ditemani tangisku.
Keesokan paginya.
Saat aku terbangun dari tidurmu aku merasakan tangan seseorang memeluk pinggangku, dengan sebuah kaki menimpah kaki aku.
Setelah mengumpulkan kembali kesadaranku kulihat disamping itu, Ya tebakan kalian benar, tentu saja itu suamiku,memang siapa lagi kalau bukan dia.
Seperti kebiasaanku setiap paginya aku menatap wajahnya dengan senyuman sambil membelai wajahanya lembut. "Selamat pagi suamiku, meskipun kini kamu bukan lagi milikku tapi aku akan selalu mencintaimu",
__ADS_1
"Selamanya akan selalu kusimpan cinta ini didalam hatiku hanya didalam hatiku". Sedetik kemudian aku beranjak bangun dari ranjang, ingin rasanya aku membangunkan Mas Rian untuk mengajaknya Sholat subuh berjama'ah......untuk terakhir kalinya. tapi aku takut akan mengganggu tidurnya.
"Ya allah Terima kasih atas semua rahmat yang engkau berikan untuk hidup ku, Maafkan aku karena telah menjadi serakah karena mengharapkan lebih dari semua yang sudah kau berikan padaku. engkau mempertemukan kembali aku dengan dia bahkan beruntung bisa menjadi istrinya meskipun karena terpaksa, tapi aku malah menjadi wanita yang serakah dengan ingin menjadi orang yang dia cintai.aku sadar diri, harusnya aku bersyukur sudah diberikan kesempatan ini olehmu".Do'aku beruraian air mata.
Setelah selesai membereskan rumah dan memasak makanan untuk sarapan,kemudian aku kembali kekamar untuk memindahkan barang-barang ke koper, sudah aku putuskan kalau pagi ini aku akan pulang kerumah orang tuaku, karena sesuai surat perjanjian itu aku harus menceraikan Mas Rian karena setelah 6 bulan berlalu dia masih tidak mencintai aku.
"Mau kemana kamu?",suara bariton itu sedikit mengagetkanku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk semua Readerss yang masih mau tetap Atau diceritakan ππJangan lupa Like,Vote,&Koment nya ya πππππ
__ADS_1