
...Catatan Penulis...
Sebagai awalan, terimakasih atas kunjungannya pada cerita ini. Maksud dari catatan penulis ini adalah sebagai pendahuluan sebelum ikut berpetualang bersama Kyle, tokoh utama di Tales of The Void. Cerita ini sendiri bermaksud untuk meluaskan imajinasi penulis, sebagai media penulis untuk belajar, dan juga sebagai media bagi penulis untuk menyampaikan apa yang sangat ingin penulis sampaikan. Ada emosi yang penulis curahkan dalam Tales of The Void, ada perasaan yang penulis ingin anda rasakan dari Tales of The Void, dan itu semua kembali pada kemampuan penulis untuk menyampaikannya, apakah anda semua dapat merasakan dan mendapatkan apa yang ingin penulis sampaikan. Jika tidak, maka dari itu penulis memohon maaf karena walau imajinasi kita seluas semesta, tapi alam hanya sebatas penglihatan mata, artinya penulis tidak mampu membagikan apa yang penulis imajinasikan pada anda semua. Tapi jika anda membaca untuk mencari kesenangan, penulis juga berusaha untuk membuat cerita ini seringan tapi juga sedalam mungkin bagi yang ingin menelaah sebuah tulisan. Dan itu juga kembali pada kemampuan penulis. Penulis tidak berjanji untuk membuat anda sekalian puas dengan Tales of The Void, tapi yang penulis pikirkan adalah penulis bisa puas dengan imajinasi penulis yang tersampaikan seluruhnya.
Sekian, terimakasih.
-Nanda, September 2023
...Selamat membaca!...
"Tercatat di sejarah, selama ribuan tahun penghuni Aerio berperang satu sama lain, kekacauan terjadi dimana-mana, kehancuran adalah hal yang biasa dan kekejaman adalah keharusan untuk bertahan hidup, semua itu adalah hal yang tak terhentikan."
"Semuanya hanya untuk suatu hal yang belum pasti ada, semua penderitaan dan kesengsaraan berulang selama ribuan tahun itu hanya untuk hal yang dikatakan tak pernah ada, suatu hal mitos atau legenda, yang juga tak jelas darimana asalnya, siapa yang menyebarkannya."
"Namun pada akhirnya, penduduk Aerio sepakat untuk menghentikan perang dan kekacauan di tanah kelahiran mereka, membangun daerah masing-masing dan hidup dalam kedamaian, melupakan segala kekacauan dan penderitaan yang telah dialami tanah mereka."
Seorang anak dengan ras elf menutup buku yang baru saja ia baca bersama dengan dua orang temannya.
"Wah, perang selama ribuan tahun? Memangnya apa yang mereka perebutkan?" bocah laki-laki berambut pirang bertanya dengan heran sekaligus berdebar-debar dengan cerita tersebut.
"Bodoh sekali, mereka menyengsarakan diri sendiri dan kaumnya hanya memperebutkan untuk hal yang belum pasti ada." anak perempuan berambut merah mencibir orang-orang terdahulu di cerita tersebut.
Bocah elf tersebut tersenyum tipis, "Kurasa alasan kekuatan yang menciptakan dunia masuk akal kenapa Aerio jatuh dalam kehancuran saat itu." ujarnya.
"Kekuatan yang menciptakan dunia?" anak berambut pirang bertanya lagi.
"Ya! Mereka memperebutkan kekuatan kekosongan pada saat itu, kekuatan yang merupakan awal mula dari segalanya. Dunia, bintang-bintang, sihir, dan makhluk hidup. Semuanya berasal dari kekuatan kekosongan." bocah elf menjelaskan dengan penuh semangat.
"Malahan itu alasan yang tidak masuk akal? Memangnya apa yang dapat memberikan kekuatan kekosongan? Atau siapa? Mungkin bagaimana? Bisa saja dimana? Tidak ada yang tau, kan?" ucap sang gadis.
Bocah berambut pirang menjadi semakin tertarik dengan kekuatan kekosongan, dia berdiri dan menatap langit malam yang penuh bintang.
"Jika diberi kesempatan aku ingin mengetahui kekuatan seperti apa yang menciptakan segala hal." gumamnya, namun terdengar oleh kedua temannya.
Sang gadis mengerutkan dahinya, "Sepertinya aku pernah mendengar kau mengatakannya.. Dan Kyle, jangan bertekad untuk hal yang tidak masuk akal."
"Baiklah, aku bertekad akan menikahimu nanti saat dewasa. Cukup masuk ak- Ah!" sang gadis menggunakan sapuan untuk menjatuhkan Kyle sebelum ia selesai berbicara.
"Menurutku kekuatan kekosongan lebih masuk akal." ucap sang gadis.
Sang elf tertawa kecil, "Nona Clarissa dan kak Kyle selalu saja sangat romantis." guraunya.
...\=\=\=...
"Pada akhirnya, aku berakhir begini." Kyle menghembuskan nafas lelah sembari berbaring di kasurnya setelah lelah bekerja seharian di tempat tambang yang tak jauh dari kota.
"Beberapa bulan lagi Ceri dan Koi akan ikut ujian seleksi akademi sihir. Beruntung sekali mereka punya kekuatan unsur.." batin Kyle.
Kyle merenungi dirinya sendiri. Ia tidak memiliki kekuatan unsur dan fisiknya tergolong biasa-biasa saja, tidak ada perkembangan signifikan pada kekuatan tubuhnya sekeras apa dia berlatih karena memang batas tubuhnya sangat rendah.
Tak ada cara yang di ketahui untuk meningkatkan kekuatannya, sehingga Kyle dihadapkan dengan keputusasaan dan menjadi orang biasa.
__ADS_1
"Andai saja.." Kyle mengusap wajah setelah merenung. Ia memutuskan untuk tidur karena tubuhnya sudah sangat lelah, begitu juga dengan pikirannya.
Baru memejamkan mata sejenak Kyle menemukan dirinya berada di tempat yang sangat asing.
Tidak ada apapun di tempat itu kecuali tanah dan langit hitam pekat, "Apa ini? Mimpi?" Kyle melihat tubuhnya sendiri.
"Aku tidak pernah mengalami mimpi dan dapat bergerak dengan leluasa." gumam Kyle.
"Kau ingin kekuatan?" Kyle tersentak kaget mendengar suara seorang pria tepat di sampingnya.
Ia langsung menoleh untuk melihat siapa yang berbicara, "Kutanya sekali lagi, kau ingin kekuatan?" tanya suara itu kembali.
Kyle mengedipkan matanya beberapa kali, "Hah?" dia memiringkan kepalanya.
"Ini mimpi atau apa? Aku tidak sebegitu menginginkan kekuatan sampai berhayal sesuatu datang dan memberiku kekuatan." ucap Kyle.
"Begitu, baiklah."
Tidak sempat melakukan apapun Kyle terbangun dan menemukan dirinya kembali di atas kasur.
Kyle mengusap kelopak matanya sambil menggaruk kepalanya, "Aneh sekali.." pikirnya.
"Kyle! Kyle! Kyle!"
DOORR! DORR! DOOORR!
Mendengar gedoran keras dan suara seorang gadis memanggilnya, Kyle langsung buru-buru turun dari kasurnya dan membuka pintu, takut pintu itu hancur berantakan.
Setelah pintu terbuka Kyle terperangah melihat sosok gadis anggun berambut merah yang mengenakan gaun mewah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Wah, aku tidak pernah melihat mu seperti ini. Kau tidak seperti Ceri yang ku kenal." ucap Kyle setelah terdiam sejenak.
Kyle bukan terkesima dengan karisma yang di keluarkan oleh Clarissa karena dia sudah sangat tahu bagaimana sifat asli gadis tersebut, melainkan Kyle terkejut karena Clarissa yang keras dan kasar bisa berpenampilan anggun juga.
Mendengar ucapan Kyle, Clarissa langsung melempar sesuatu ke wajah Kyle dan membanting pintu kamar, "Cepatlah, ada orang penting yang akan datang!" ucapnya dengan nada tinggi sebelum beranjak pergi.
"Ceri sangat perhatian.." Kyle melihat pakaian yang dilempar oleh Clarissa padanya. Sebuah pakaian formal abu-abu beserta celananya.
Kyle mengangkat bahunya setelah memperhatikan pakaian tersebut selama beberapa detik dan keluar dari kamarnya untuk mandi.
"Kira-kira siapa yang datang ya? Kenapa aku harus ikut? Apakah semua orang akan berkumpul karena sosok penting ini datang?"
"Ah, selamat pagi nak." ayah Kyle yang sedang memasak menyapanya.
"Pagi yah." Kyle menyahut.
"Tunggu Kyle, tadi Clarissa sepertinya meletakkan sepatu di atap." ucap ayahnya.
"Apa?" Kyle mengerutkan keningnya.
Ayah Kyle tertawa melihat wajah kesal putranya, "Kalian masih saling jahil? Benar-benar anak muda.." ucapnya di antara gelak tawa.
__ADS_1
Kyle pun mengusap tengkuknya sambil menghela nafas.
...\=\=\=...
Kyle langsung beranjak ke kediaman tuan kota tempat Clarissa tinggal. Benar, Clarissa adalah putri pemimpin kota Bembridge saat ini -- Magouse "Marshal" von Bembridge yang juga seorang earl.
Di sekitar kediaman tuan kota, Kyle melihat banyak penjaga yang berkeliling dan sudah sangat pasti ada orang penting yang akan datang ke Bembridge.
"Kyle..! Cepat masuk!" Clarissa yang berdiri di balkoni melambaikan tangannya.
Mendengar panggilan itu Kyle mendongakkan wajahnya.
Tampak di samping Clarissa ada seorang elf dengan wajah seperti seorang gadis di sampingnya, padahal dia adalah teman laki-laki Clarissa dan Kyle.
"Tunggu sebentar.." Kyle menyahut dengan suara kecil sehingga hanya dia sendiri yang dapat mendengar.
Kyle berjalan di lorong panjang di dalam kediaman tuan kota yang begitu luas, "Untung saja aku sudah terbiasa di tempat ini sejak kecil. Jika tidak aku akan tersesat."
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Magouse sang tuan kota dengan membuat kediaman dengan lorong yang membingungkan.
Banyak lorong berliku yang panjang namun pada akhirnya hanya menuju ke jalan masuk, jadi jika ingin mencapai tempat tujuan harus benar-benar menghafal denah kediaman ini.
Melewati satu ruangan di sekitar pintu masuk, Kyle menyadari ada seseorang yang mengikutinya, "Hmm?" ia menoleh ke belakang.
Ternyata itu adalah seorang wanita dengan pakaian pelayan, wanita itu sontak terkejut dan bersikap canggung saat ditatap oleh Kyle.
Kyle mau tak mau bertanya, "Kenapa kau mengikuti ku?"
Pelayan itu menggaruk kepalanya dan menjawab dengan ragu-ragu, "Saya tersesat tuan, rumah ini begitu membingungkan." jawabnya.
"Ada yang tidak beres.." gumam Kyle.
Sebelum mulai bekerja, pelayan di kediaman tuan kota harus menghafal setiap tempat di sana dengan baik karena itu adalah ketentuan yang ditetapkan oleh tuan kota sendiri.
Jika para calon pelayan masih tidak menghafal tempat ini dengan baik, maka mereka tidak diperbolehkan bekerja.
Namun, pelayan yang mengatakan dirinya tersesat ini membawa troli makanan kosong yang berarti dia sudah mulai bekerja.
Kyle berpikir sejenak, "Apa tuan kota merubah peraturannya?"
"Kau ingin kemana?" tanya Kyle setelah berpikir.
"Em.. Ke dapur tuan." jawab pelayan itu dengan ragu.
Jawaban sang pelayan membuat Kyle mengangkat alisnya, dia menatap pelayan itu dengan seksama.
"Kau bukan pelayan disini.." ucap Kyle.
Raut wajah pelayan itu berubah, "A-apa maksudnya tuan? Te-tentu saja saya adalah pelayan. Ini hari pertama saya bekerja." ujar sang pelayan berusaha membela diri.
Ia masih menatap pelayan itu dengan ragu kemudian mengucapkan"..Kita saat ini sedang berdiri di depan pintu dapur." Kyle menunjuk ke pintu yang berada di kirinya.
__ADS_1
"A-ah! Saya telah lalai! Terimakasih tuan!" pelayan itu membungkuk sebagai tanda terimakasih.
Kyle mengangguk dan kembali berjalan menuju lantai dua, "Ada yang aneh. Aku harus memastikannya.."