
"Jadi apa nama bukunya?" tanya Kyle setelah dia dan Hexa telah berada di perpustakaan keluarga Beckman di kediaman tuan kota.
Hexa mengelus pipinya, "Tuan Franzais sang Petualang.." jawabnya setelah berpikir beberapa saat.
"Franzais? Aku seperti pernah mendengar nama itu.." Kyle mengelus dagunya, merasa dirinya pernah mendengar tentang Franzais, dan entah kenapa nama itu sangat membekas di pikirannya.
Hexa melanjutkan, "Tentu saja kau pernah mendengarnya, nama Franzais sangat banyak dibicarakan 10 tahun yang lalu akibat tragedi mengerikan yang menewaskan seluruh anggota keluarga mereka.. Dalam satu malam." ujar Hexa.
Mendengar hal itu Kyle kembali teringat dengan keluarga elf tempat Algar dibesarkan dibinasakan dalam semalam dan menjadi merinding karenanya.
"Keluarga Franzais adalah keluarga ksatria nomor satu di kerajaan. Setiap generasi mereka menghasilkan belasan orang kuat yang dapat menjaga kedamaian di berbagai tempat.. Aku masih bingung bagaimana keluarga ini bisa binasa dalam semalam seperti halnya keluarga elf di cerita paman Algar. Apakah pelakunya adalah kelompok bertopeng dengan batu perhiasan di topeng mereka?" tanya Kyle pada dirinya sendiri.
Pemikiran Kyle berlanjut, "Dan siapa sebenarnya mereka? Apa yang mereka inginkan?" mengingat Koillei memiliki semacam 'hubungan' dengan tujuan kelompok bertopeng itu, Kyle merasa gelisah.
Ia tidak tahu, apakah tindakan kelompok tersebut hanya sampai pada keluarga Koillei yang dimusnahkan 16 tahun yang lalu, atau mereka masih terus memburu keluarga elf itu hingga habis, yang berarti Koillei berada dalam bahaya.
"Memikirkannya membuatku menjadi semakin gelisah.." gumam Kyle.
Hexa menaikkan alisnya tanpa sadar melihat ekspresi gelisah di wajah Kyle. Ia tidak tahu kenapa tapi Hexa merasa dirinya lebih baik tidak menanyakan apa yang Kyle pikirkan.
"Jadi.. Aku akan mulai mencarinya.." ucap Hexa.
Ekspresi wajah Kyle berubah, "Ya, aku akan membantumu.." sahutnya dengan nada serius.
"Aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu. Aku harus menjadi kuat secepatnya.." batin Kyle, diam-diam mengepalkan tinjunya.
Setelah tiga jam membaca dengan cermat dan secepat mungkin Kyle menggeleng dan berhenti membaca, "Pusing sekali.." Kyle menyandarkan kepalanya pada sofa sambil mengusap keningnya.
Hexa yang duduk di sampingnya tidak tahu harus melakukan apa sehingga ia hanya mengatakan, "Emm, jangan terlalu memaksakan diri. Mungkin kau tidak terbiasa membaca banyak tulisan dalam waktu yang lama.."
"Bukan mungkin, tapi aku benar jarang membaca buku.." Kyle mengusap matanya dan mengiyakan perkataan Hexa.
"Hexa maaf, aku akan beristirahat sejenak.. Kepalaku sangat pusing." ujar Kyle menyerah dengan pusing yang ia rasakan.
Hexa tersenyum pada Kyle, "Serahkan padaku!" jawabnya penuh energi, gadis itu tampak tidak lelah sedikitpun.
__ADS_1
"Akh, ini memalukan. Aku menyerah hanya karena pusing.." batin Kyle yang melihat Hexa masih sangat energetik. Tapi perlahan Kyle menutup kelopak matanya dan tanpa sadar ia tertidur lelap.
...\=\=\=...
PLAK! PLAK!
Kyle terbangun karena seseorang menepuk pipinya beberapa kali, "Uhh.." matanya yang lelah menatap ke sosok tersebut dengan seksama.
"C-ce-ceri?!" Kyle berteriak keras melihat Clarissa yang berdiri tegak, menatapnya dengan tajam.
"Kyle.. Jelaskan kenapa aku menemukan buku ini di sampingmu?" Clarissa menunjukkan sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang mewah.
"Bu-buku?" melihat bulu yang dipegang oleh Clarissa itu, Kyle teringat dengan buku yang sedang ia cari bersama Hexa.
Sepertinya Hexa sudah pulang dan meninggalkan buku itu setelah mencarinya sendirian, "Tidak.. Hexa sudah bersusah payah mendapatkan buku itu untukku. Ceri tidak boleh mengambilnya sebelum aku menemukan letak pulau itu." pikir Kyle.
Kyle berpikir cepat dan menjawab, "Aku tidak tahu Ceri.. Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk tidur sebentar, dan pasti buku itu tak sengaja diletakkan oleh pengurus perpustakaan bukan?" ia berkilah, bukan untuk membuat Clarissa percaya padanya, melainkan Kyle punya rencana lain.
Clarissa tersenyum mengejek, "Kau kira aku bodoh? Kenapa ia harus meletakkan buku ini tepat di sampingmu? Dan, kenapa harus buku 'ini'?" Clarissa bertanya sembari mengayunkan buku itu di tangannya.
"Soal itu.." Kyle bangun perlahan dan mulai berdiri.
GEDEBUG!
Tapi nasib naas atau tidak, Kyle tersandung dan terjatuh hingga menghantam sebuah rak buku dan menjatuhkan semua buku di rak tersebut ke atas tubuhnya.
"Apa?" reaksi Clarissa cukup lambat karena semuanya terjadi di luar perkiraannya dan juga secara sangat mendadak.
Gadis itu membalikkan badannya dan berteriak keras, "Kyle! Hmmph!" Clarissa melangkah dengan mengeluarkan tenaga yang sangat besar hingga setiap langkah nya meninggalkan retakan di lantai.
Jari-jari di tangannya bergerak tak karuan karena merasa kekesalan dan iapun meraih leher kaos Kyle, "Apa yang kau inginkan sebenarnya?! Pulau itu sangat berbahaya!" Clarissa meneriaki Kyle dengan lantang.
"Clarissa, ku mohon. Aku harus ke pulau itu segera.." jawab Kyle dengan wajah memelas.
Clarissa melonggarkan genggamannya, "Kyle, dengan dirimu yang sekarang kau akan mati. Aku.. Maksudku, kami tidak ingin kehilanganmu, kau tahu?" ucap Clarissa memelankan nada suaranya.
__ADS_1
"Paman Algar berencana membawa Koi ke mansion tempatnya tinggal dulu bersama dengan keluarga kandung Koi. Kita harus ikut Kyle! Harus!"
Kyle menaikkan alisnya, "Sudah kukatakan, aku harus ke pulau itu segera." Kyle masih bersikeras, tak ingin mengalah pada Clarissa dengan keinginannya.
"Terserahmu saja.. Tapi kau harus ikut dan kau tak akan pergi ke manapun selain bersama kami." Clarissa melepaskan cengkeramannya pada baju Kyle dan merebut buku tersebut dari tangan Kyle dan berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.
Gadis itu berhenti di ambang pintu dan berkata, "Besok kita memulai latihan kita sebagai persiapan untuk ke sana. Istirahatlah dengan cukup." setelah mengatakan itu Clarissa keluar dan tak tampak lagi di pandangan Kyle.
"Hufftt.." Kyle menghela nafas panjang dan tersenyum tipis. Ia sangat senang Clarissa mengkhawatirkannya, tapi ia juga merasa sedih karena harus 'mengkhianati' kekhawatiran Clarissa itu.
"Maaf Ceri.. Karena.. Aku punya petanya!" Kyle mengangkat sebuah kertas dan tertawa puas.
Sangat beruntung saat Kyle terjatuh tadi, buku yang terjatuh terbuka pada halaman yang menampilkan gambar tangan dari sebuah peta, jadi Kyle buru-buru merobek halaman tersebut dan menyembunyikannya dengan baik.
Setelah puas tertawa karena merasa telah mengelabui Clarissa, "Cepat atau lambat Ceri akan menyadari peta di buku itu telah hilang." Kyle pun buru-buru keluar dari perpustakaan dan berlari ke arah yang berlainan dengan Clarissa.
Sementara itu Clarissa yang sedang berjalan pelan di lorong kediamannya iseng untuk membuka buku itu, "Franzais.. Nama yang sudah lama tidak terdengar. Seorang penjelajah dunia terkenal.."
Clarissa menyibak lembar demi lembar hingga ia menemukan salah satu lembar halaman telah disobek, "Jangan bilang.." ia langsung berbalik arah dan mulai berlari.
Gadis tersebut sudah sangat terlatih dan dapat berlari dengan cepat sehingga ia tiba di depan pintu perpustakaan dengan sekejap.
"Kyle!" Clarissa berteriak lantang dan berjalan masuk.
Ia tidak menemukan sosok Kyle di sana, "Kyle!! Dasar sialan!!" ia kembali berteriak penuh kekesalan dan amarah.
Teriakannya cukup lantang hingga dapat terdengar dengan samar oleh Kyle yang sudah berada di luar, "Dia menyadarinya secepat ini?" batin Kyle terkejut.
"Jika dia menemukanku habislah sudah.." lanjutnya.
Kyle berlari secepat yang ia bisa menuju rumahnya, tapi padatnya penduduk yang sedang beraktivitas di jalanan kota lumayan menghambat pergerakannya.
Sekitar 10 menit kemudian akhirnya Kyle telah tiba di rumahnya, tapi dia merasa telah menghabiskan sangat banyak waktu jadi dengan cepat ia segera ke kamarnya dan mengambil hal-hal yang telah ia persiapkan untuk perjalanannya dari kemarin.
"Kyle!" jantung Kyle terasa berhenti sejenak saat mendengar teriakan Clarissa.
__ADS_1
Ia buru-buru mengambil mantel kulit yang terlipat rapi di atas kasur dan juga sebuah ransel sederhana di sampingnya, setelah mengenakannya secepat yang ia bisa Kyle segera melompat keluar dari jendela di kamarnya.
Saat sedang berlari Kyle teringat sesuatu, "Sial, aku bahkan belum berpamitan dengan ayah.." terasa sedikit penyesalan karena ia pergi tanpa pamit pada ayahnya, namun sudah tak ada jalan kembali lagi, ia harus segera meninggalkan kota sebelum Clarissa menemukannya.