Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 12 - Masa Lalu Algar IV


__ADS_3

Tapi senyuman di wajahnya tak bertahan lama karena ia teringat dengan seluruh kejadian pemusnahan keluarga elf tempat ia besar dan mengabdikan hidupnya.


Algar menunduk dan mengepalkan tangannya, "Aku.. Tidak berguna.." gumamnya lirih.


Ia mengangkat wajahnya dan melihat Searbear yang kebingungan untuk menghentikan tangisan dari bayinya Roirenna.


"Minggir sedikit..." ucap Algar sambil mengetuk punggung Searbear yang besar.


"Gruuhh!" Searbear mengeram dan memindahkan tubuhnya.


Algar tersenyum menatap wajah bayi laki-laki Roirenna yang tampak begitu mirip dengan ibunya, "Wajahmu sangat mirip dengan Roirenna.. Lucu sekali, tak ada fitur wajah Kolliet di wajahmu.."


"Nak.. Aku akan merawatmu seperti putraku sendiri. Aku ingin melupakan semua yang terjadi hari ini.. Aku tak ingin mengikatmu dengan takdir menyedihkan ini..." ucap Algar sambil perlahan mengambil bayi laki-laki itu ke dekapannya.


"Apa nama yang cocok untuk mu?" Algar berpikir selama beberapa menit dan akhirnya terlintas sebuah nama di pikirannya.


"Kurasa Koillei cocok untukmu.. Aku tak tahu apa arti dari Koillei. Tapi dari cerita lama, Koillei adalah pendiri mansion dan orang yang berhasil menggabungkan dua klan elf hutan. Dia adalah sosok yang hebat.." ujarnya.


"Yah, mulai dari sekarang namamu adalah Koillei. Putra dari sang Penjaga Algar... Maksudku putra dari Algar." Algar menggoyang-goyang tubuh Koillei.


CRACK!


Gerakan Algar berhenti saat terdengar suara renyah dari salah satu sendi Algar yang sudah sangat menderita, "Aku lupa dengan luka di tubuhku." gumamnya.


...\=\=\=...


Algar bersandar di kursi sambil menutup matanya dan menghempaskan napas dengan panjang. Kemudian ia menatap Koillei, "Ini hanyalah masa lalu. Aku ingin kau tidak terbebani dengan kisah ini. Tapi aku hanya ingin kau mengetahui tentang bahaya yang mungkin sedang mengincar mu."


Magouse mengangguk setelah ucapan Algar selesai dan melanjutkan, "Sudah sangat jelas para pembunuh itu menyusup ke kediaman ku untuk mengincar mu. Pasti mereka sudah merencanakan segalanya dengan sangat baik."


"Tapi tuan kota, bukannya kau itu cukup kuat? Kenapa kau tidak bisa merasakan kehadiran mereka di rumahmu?" sela Kyle.


Mendengar pertanyaan itu, Magouse terbatuk dan mengelus lehernya sembari tersenyum canggung, "Aku terlalu fokus ke kamar man- Tidak maksudku para pelayan. Ta-takutnya me-mereka merusak barang-barang berharga dan atau menyembunyikannya da-dari ku. Si-siapa yang tahu?" sahutnya dengan terbata-bata karena ia ditatap dengan tajam oleh Bellinda.


"Ayah kau memalukan.." ucap Clarissa sehingga Magouse menangis di dalam hatinya.


KREAAK..


Semua orang langsung mengalihkan perhatiannya pada Koillei yang berdiri dari kursinya tak terkecuali Algar, "Kau ingin kemana nak?" tanyanya.


Namun Koillei hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Kyle menurunkan wajahnya hingga pipinya menyentuh meja dengan sengaja, "Kau menangis?"


Koillei mengusap matanya, "Ti-tidak.. Aku.. Ayah..." Koillei tampak sesenggukan.


Ia tiba-tiba melompat ke arah Algar dan memeluk leher pria itu, "Tidak- Koi! Kau terlalu de- Aakhh!" kursi yang diduduki Algar terjatuh ke samping dan dengan refleks ia memegang ujung meja agar dia tidak terjatuh.

__ADS_1


Namun tenaga Algar begitu besar, ia tak hanya tidak berhasil mencegah dirinya dan Koillei jatuh, tapi juga membuat meja panjang tersebut terjungkat dan hampir terlempar ke atas.


Beberapa chandelier mewah yang dijadikan sebagai penerang ruangan yang digantung terjatuh dan rusak karena meja yang terbang, "Tidak!!..." rahang Magouse jatuh melihat barang-barang mewahnya yang berhamburan.


"Tuan kota! Lakukan sesuatu! Lilin nya akan membakar seisi ruangan!" teriak Kyle pada tuan kota yang masih duduk di kursinya.


Magouse pun tersadar dan ia menyatukan kedua telapak tangannya kemudian menggenggamnya, membuat semua api dari lilin yang jatuh padam.


Melihat kekacauan yang terjadi akibat dirinya dan Koillei Algar hanya bisa terdiam, "Koi?" ia memanggil Koillei yang masih memeluknya.


"Ia masih menangis.." pikirnya.


Algar menepuk bahu Koillei, "Nak kau sudah dewasa, kau bukan anak cengeng seperti dulu. Lihatlah apa yang sedang terjadi sekarang." ucapnya lirih.


Magouse dapat mendengar ucapan Algar dan dia mendesah, "Bawa Koillei ke tempat yang tenang. Tak usah pikirkan tentang ini." ujar Magouse.


"Tidak tuan Magouse, bagaimana dengan lampu mewah mu?" sahut Algar.


"Sudah kukatakan tak perlu dipikirkan." jawab tuan kota lagi tapi kali ini dengan nada berat, jelas sekali ia sangat sulit merelakan barang mewahnya begitu saja.


Algar menatap wajah pria itu dengan seksama. Ia berdiri dan membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda terimakasih dan hormat, kemudian sambil menggendong Koillei yang masih menangis ia pun pergi dari sana.


"Ayo Kyle.."


"Ayo? Ayo kemana?" tanya Kyle bingung dengan ajakan Clarissa.


"Baiklah?..."


Setelah keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul sebelumnya, Kyle mulai memikirkan tentang cerita dari Algar sebelumnya.


"Jadi Koi adalah putra dari pasangan elf bernama Kolliet dan Roirenna?.. Dan paman Algar hanyalah ayah adopsinya saja. Hmm, dia sangat menyayangi Koi seolah-olah Koi adalah anak kandungnya sendiri." ucap Kyle.


"Ya.. Aku juga sedikit tidak percaya jika Koi adalah bukanlah anak kandung paman Algar. Tapi kurasa ada alasan tersendiri mengapa paman Algar begitu menyayangi Koi." Clarissa menanggapi.


Kyle melipat tangannya sambil melihat ujung sepatunya sembari berjalan dan berkata, "Alasan itu mungkin ada di bagian yang tidak di ceritakan olehnya.. Benar.. Ia belum menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di Bembridge dan berkenalan dengan ayahmu."


"Mungkin saja."


"Sekarang kita ingin kemana?" tanya Kyle setelah mereka sudah berjalan cukup jauh.


Tidak ada respons dari Clarissa selama beberapa saat sehingga suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka berdua.


"Aku juga tidak tahu." jawab Clarissa setelah keheningan yang terasa begitu canggung.


"Kenapa suasananya kenapa begitu aneh?.." batin Kyle. Terjadi keheningan lagi setelah Clarissa menjawab.

__ADS_1


Kyle merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini sehingga ia berpikir keras untuk menemukan topik pembicaraan.


"Ahem.. Ceri, apakah kau tahu tempat yang banyak dihuni oleh hewan sihir?" tanya Kyle setelah mendapatkan topik pembicaraan.


"Di setiap hutan yang jarang di jamah oleh penduduk Aerio pasti ditinggali oleh hewan sihir." jawab Clarissa.


"Namun, ada satu tempat dengan jumlah hewan sihir yang sangat banyak." lanjut Clarissa, membuat Kyle penasaran.


"Tempat apa itu?" tanya Kyle bersemangat. Ia bersemangat karena sangat ingin meningkatkan kekuatannya dan juga memperpanjang usianya.


"Sebuah pulau yang dikatakan terpisah dari Benua Aerio maupun kerajaan kita, tapi masih dalam satu pembagian musim dengan benua kita." jawabnya.


Kyle yang bertanya hanya untuk sekedar mengalihkan topik sekarang sangat tertarik untuk mengetahui pulau yang dimaksud oleh Clarissa, "Dimana letaknya?"


Clarissa menatap kebelakang, melihat Kyle yang entah kenapa bersemangat dengan tempat yang begitu berbahaya, "Apa yang kau inginkan disana?" tanyanya.


Kyle tersenyum lebar, "Tentu saja berlatih!" jawabnya tanpa berpikir panjang.


Jawaban Kyle membuat Clarissa berhenti berjalan, "Hey, itu bukan pulau biasa. Selain banyak binatang sihir berbahaya, pulau itu juga dihuni oleh ras manusia barbar. Memang mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menggunakan mana seperti kita, namun tubuh mereka sangat kuat dikarenakan konsentrasi mana yang begitu besar di pulau itu." Clarissa menjelaskan dengan panjang lebar.


"Jika begitu pulau itu adalah tempat latihan yang cocok bagiku.." batin Kyle.


Clarissa dapat membaca apa yang dipikirkan Kyle hanya dengan melihat raut wajahnya saja, "Kau benar-benar ingin ke sana?" tanya Clarissa.


Kyle mengangguk dengan cepat, "Katakan dimana tempat itu berada!" ucap Kyle.


"Tidak. Kau akan mati." jawab Clarissa singkat.


"Tenang saja Ceri! Aku yakin diriku cukup kuat! Katakan ya?" Kyle menarik tangan Clarissa dan memohon.


"Tidak."


"Mohon?"


"Tidak."


"Aku akan mati jika tidak kesana.."


Clarissa memiringkan kepalanya, "Apa maksudmu?" ujar Clarissa bingung.


Kyle menggaruk pipinya, merasa telah keceplosan, "Itu.. Tidak ada. Maksudku aku tidak akan mati jika kesana."


"Huh.. Tidak." Clarissa menolak untuk memberi tahu Kyle dan ia memutuskan untuk pergi.


Kyle ingin menyusul gadis itu tapi ia mengurungkan niatnya dan berpikir, "Pasti tempat itu tertulis di sebuah buku. Mungkin ada di perpustakaan keluarga Beckman."

__ADS_1


"Yap, mungkin saja." Kyle mengangguk sendiri dan berbalik badan, menuju ke perpustakaan pribadi keluarga Beckman.


__ADS_2