
"Bagaimana mungkin?!" teriak Pixtia tidak percaya, "Bagaimana pria dengan tubuh kurus sepertinya dapat mengeluarkan kekuatan yang cukup untuk menerbangkan seseorang?!" lanjutnya membatin.
Hexa juga tak kalah terkejut dibandingkan ibunya, namun ia tidak mengekspresikannya lewat kata-kata seperti yang dilakukan oleh Pixtia.
Kyle sendiri juga terkejut karena tidak menyangka pria itu akan terbang ke atas dan menghancurkan langit-langit hanya dengan satu pukulannya.
Kemudian Kyle menatap Pixtia yang masih memandangi pria berzirah kulit itu, "Wanita ini pasti akan memarahi ku karena telah menghancurkan kedainya." batinnya.
Tiba-tiba Pixtia bergerak, "Hiyyah!" Pixtia mengambil sebuah puing papan kemudian melemparnya pada pria itu dengan teriakan penuh emosi, "Kau mau mengambil pedang itu?! Cepat turun dan ambil!" teriaknya.
Setelah puas melampiaskan emosinya, Pixtia menolehkan wajahnya pada Kyle yang seketika pemuda itu tersentak. Tapi diluar ekspektasi Kyle, Pixtia tiba-tiba menarik tangan Kyle dan berucap, "Terimakasih banyak! Pedang itu sangat berharga bagi ku!"
Wanita itu melanjutkan, "Kau pacarnya Hexa kan? Siapa namamu, nak?" dan bertanya.
Kyle sontak menatap Hexa karena mendengar perkataan Pixtia, tatapannya seolah-olah menjadi sebuah pertanyaan besar yang diutarakan pada Hexa.
"A-anu.." Hexa tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya saja.
Kyle pun berpikir ada suatu alasan kenapa Hexa mengatakan itu pada ibunya jadi ia akan menanyakannya secara pribadi nanti, "Namaku adalah Kyle, bibi." ucap Kyle menjawab pertanyaan Pixtia.
"Bibi? Jangan panggil aku begitu.. Panggil aku mami, seperti Hexa." ujar Pixtia yang membuat Hexa terkejut dan menutupi mukanya karena malu.
"Ma..Mami?" Kyle mengulangi kata itu, ia berpikir akan aneh jika harus memanggil seseorang dengan sebutan seperti itu.
"Aku rasa panggilan itu pantas digunakan hanya untuk orang terdekat saja. Sementara aku adalah orang yang baru mengenalnya selama beberapa menit.." ia akan merasa tidak nyaman dan tidak pantas untuk memanggil Pixtia dengan sebutan 'mami'.
Melihat ekspresi kurang enak dari wajah Kyle, Pixtia pun menyenggol lengan Kyle dengan sikunya, "Tak apalah, panggilan bibi terlalu tua untuk diriku."
Pixtia mendekati putrinya dan berdiri di sampingnya, "Coba lihat, apakah aku tampak semuda Hexa?" tanya Pixtia sambil berdiri bersebelahan dengan Hexa.
Kyle menatap bergantian wajah Hexa dan Pixtia. Sekilas tidak ada yang berbeda di antara wajah mereka berdua, bahkan Kyle yakin jika Hexa dan Pixtia menggunakan pakaian yang sama dan Hexa melepas kacamata serta merubah gaya rambutnya seperti ibunya maka dia tidak akan bisa membedakan ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Kalian.. Terlihat tak.. Berbeda sama sekali.." jawab Kyle dengan jujur, tapi sedikit enggan untuk mengatakannya dengan jelas.
"Lihat? Usia Hexa sekarang 18 tahun, dan aku sebentar lagi akan menginjak usia 40 tahun, apakah menurutmu aku cocok dipanggil bibi dengan penampilan muda ini?" tanya Pixtia berusaha meyakinkan Kyle.
Kyle menggaruk kepalanya, "Be-benar.." jawab Kyle tidak yakin, pada satu sisi ia tidak ingin membuat Pixtia marah, tapi di lainnya ia juga tidak ingin memanggil Pixtia 'mami', itu terdengar aneh dan sulit dijelaskan, apalagi ia benar-benar baru mengenal Pixtia.
"Benarkan..? Ya sudah, panggil aku mami mulai sekarang ya, jangan anggap aku orang asing. Hexa~ temani pacarmu duduk ya sayang. Mami akan buatkan teh dan membawa roti untuk kalian." ucap Pixtia dengan nada yang lembut.
Mendengar itu Hexa menunduk malu sambil berteriak, "Aaahh! Aku sangat malu! Kenapa sikap ibuku seperti ini?!" di dalam hatinya. Karena hal ini Hexa menjadi tidak berani menatap wajah Kyle sekarang.
Sementara itu Kyle menghela nafas yang mengandung sedikit rasa frustasi, "Sangat merepotkan jika ada orang yang suka memaksa seperti itu.." ucapnya lirih.
Hexa dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Kyle sehingga ia mengangkat sedikit wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap wajah Kyle, namun ternyata Kyle sedang menatapnya juga sehingga tatapan mereka bertemu.
Sontak Hexa kembali menundukkan kepalanya tapi Kyle menghiraukan perilaku Hexa itu karena ia sudah sedikit mengerti bagaimana cara gadis tersebut berperilaku.
Kyle pun duduk di salah satu kursi dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Pertama-tama, aku ingin tahu maksud dari perkataan ibumu sebelumnya." ucap Kyle setelahnya.
Kyle menggosok wajahnya dengan telapak tangannya, "Maaf, maksudku tentang pacar." jawab Kyle mengatakan langsung ke intinya.
"I-itu.. Ak-aku... Ya.. Emm, anu." gadis tersebut kebingungan bagaimana cara menjelaskan alasannya pada Kyle.
Namun sebuah alasan terlintas di benaknya, "Ibu mengatakan akan menjodohkan ku pada seseorang jika aku tak segera mempunyai pacar. Ja-jadi aku berbohong padanya." jawab Hexa setelah beberapa detik keheningan.
Jawaban Hexa membuat Kyle mengelus dagunya, ia tidak tahu Hexa sedang berbohong atau bukan, "Kurasa ini bukan masalah besar. Siapa yang tidak mau menjadi pacar Hexa -- Tidak maksudku pura-pura menjadi sepasang kekasih bukanlah suatu dosa mematikan." batin Kyle.
"Baiklah, aku tidak keberatan menjadi pac- uhuk. Omong-omong, tentang pulau yang ku maksud kemarin, kapan kita akan mencarinya?" tanya Kyle.
"Ki-kita? An-anda tak perlu repot-repot. Biar aku saja yang mencarinya." ujar Hexa.
Kyle menggeleng dan mengucapkan, "Tidak, tidak mungkin aku bersantai-santai sementara kau kesulitan mencari buku itu. Ya walaupun sudah ada daftar setiap buku di perpustakaan, tapi jumlahnya ada puluhan ribu, pasti tetap sulit untuk mencarinya."
__ADS_1
Ucapan panjang lebar Kyle membuat Hexa tak bisa menolak Kyle. Ia hanya mengangguk dengan patuh dan perlahan-lahan duduk berhadap-hadapan dengan Kyle.
"K-Kyle, to-tolong bersikap natural dihadapan ibuku.." ucap Hexa memohon dengan nada yang kecil.
Kyle pun mengangkat alisnya, "Seharusnya kau mengatakan itu pada dirimu sendiri.."
Hexa terdiam sejenak, "Be-benar juga.." gumamnya.
Pixtia keluar dari salah satu ruangan dengan sebuah nampan yang terdapat 2 cangkir teh dan sebuah piring dengan dua buah roti berbentuk hati. Ia menyajikan hidangan itu pada Kyle dan Hexa, kemudian menampilkan senyum penuh makna sambil berjalan mundur secara perlahan, kembali ke ruangan sebelumnya.
"Ibunya Hexa benar-benar menganggap kami sebagai pasangan." batin Kyle sambil menggeleng, ia mengambil salah satu cangkir dan menyeruputnya.
Kyle dapat merasakan sensasi hangat melegakan dari teh panas racikan Pixtia ,membuatnya lega dan santai, seakan semua perasaan negatif di tubuhnya lenyap tak bersisa, "Hmm, aku tak pernah merasakan teh seperti ini... Walaupun tidak menggunakan gula, tapi rasanya lebih nikmat daripada teh dengan gula."
Hexa tersenyum tipis mendengar ucapan Kyle yang mengandung pujian, "Ibuku menggunakan teknik khusus untuk membuat bubuk daun teh, sehingga hasil teh nya berbeda dari teh yang biasa dikonsumsi secara umum." Hexa menjelaskan dengan bangga.
Kyle mengangguk mengerti, ia kembali menyeruput teh itu dan menyandarkan tubuhnya, ia juga menutup kelopak matanya karena sensasi nikmat tersebut, "Hmm, jika teh seenak ini maka aku akan minum teh setiap hari." gumam Kyle.
Setelah beberapa saat Kyle kembali membuka matanya, ia melihat Hexa sedang mengolesi mentega ke salah satu roti berbentuk hati itu.
Hexa menyadari Kyle sedang menatapnya, "E-eh? I-ini untukmu, tu-tunggu sebentar." sehingga ia melakukannya secepat yang ia bisa.
Melihat tingkah itu Kyle yang sudah merasa sudah memahami perilaku Hexa menjadi sedikit bingung, "Hexa, apakah kau tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki?" tanya Kyle penasaran. Sikap gugup Hexa sudah terlalu berlebihan, pasti ada sesuatu yang kuat yang mendasari nya.
Gadis berkacamata itu mengangguk pelan, "Ju-jujur saja, aku sangat ja-jarang berbicara de-dengan pria.. Ji-jika ada itu hanya melakukan transaksi a-atau berbicara s-sejenak dengan tuan kota jika ia perlu letak su-suatu buku di perpustakaan." jawabnya. Ia telah selesai mengolesi mentega secara merata pada roti dan memberikannya pada Kyle.
Kyle menerima roti itu dengan senang hati, "Terimakasih banyak. Mmm.." Kyle langsung melakukan gigitan besar pada roti yang diberikan padanya.
Tak ada yang spesial pada roti itu, hanya roti biasa dengan olesan mentega yang asin, "Baiklah, kapan kita akan mencari buku itu?" tanyanya.
"Se-segera.."
__ADS_1