
Dua murid akademi sihir yang sudah termasuk ke jajaran senior bersantai di kursi taman kediaman tuan kota.
Leine, gadis berambut perak tampak duduk di ujung kursi sedangkan Hans, laki-laki berambut cokelat tidur di pangkuannya, "Silau sekali.." gerutu Hans yang terbangun. Ia melihat awan yang menutupi matahari telah pindah.
Gadis berambut perak itu terbangun dan menatap wajah pria itu dengan lekat, "Kenapa?" tanyanya dengan suara tanpa nada.
Hans menutupi wajahnya dengan tangan, "Tiba-tiba hari menjadi cerah.. Leine, andai kau punya dada yang besar, cahaya matahari atau hujan pun tidak akan menganggu ku jika tidur di pangkuan mu." ucap Hans.
Leine melebarkan matanya kemudian menjitak wajah Hans. Hans pun langsung terjatuh dari kursi dan Leine meninggalkannya sendiri di tempat itu tanpa mengatakan apapun, "Tidak Leine!"
Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Biasanya Leine tidak marah jika berbicara tentang itu.." ia menghela nafas dan duduk kembali di kursi taman.
Tidak jauh dari sana ada Kyle yang berdiri diam sambil memperhatikan kedua orang itu dengan satu keranjang penuh makanan di tangannya, "Siapa mereka?" tanyanya saat pertama kali melihat mereka.
Tapi pertanyaan Kyle terjawab begitu ia melihat simbol kepala elang dan tiga buah bintang di atasnya yang merupakan simbol utama dari akademi sihir di jubah Hans yang tersungkur.
"Jadi mereka adalah utusan akademi sihir ke wilayah ini." gumam Kyle setelah melihat simbol itu.
Hans dan Leine tidak bisa dikatakan sebagai utusan. Mereka adalah murid senior yang diberikan kepercayaan untuk mencari bibit-bibit unggul untuk diundang masuk ke dalam akademi sihir.
Kebetulan Magouse sang tuan kota Bembridge punya relasi dengan keluarga dari Leine, sehingga Magouse bisa menghubungi Leine untuk mencoba apakah putri nya dan Koillei layak untuk diundang ke akademi sihir.
Kyle pun memutuskan untuk menemui Hans hanya untuk sekedar berbincang dengannya. Hans juga menyadari seseorang berjalan ke arahnya, namun dia yang tidak merasakan niat jahat dari Kyle pun menjadi lebih santai.
"Apa yang terjadi di antara dua senior ini?" ujar Kyle setelah duduk di samping Hans untuk memulai pembicaraan.
Hans tersenyum tipis, "Aku juga kurang tahu.. Mungkin dia sedang dalam mode singanya.. Biasa, wanita." jawab Hans santai.
"Ngomong-ngomong kau ini siapa? Anggota keluarga Beckman?" Hans melihat Kyle keluar dari kediaman tuan kota dengan keranjang penuh makanan makanya dia menyimpulkan Kyle adalah anggota keluarga Beckman.
"Bukan, tapi mungkin di masa depan. Roti?" ucap Kyle sembari menawarkan roti di dalam keranjangnya.
"Tidak terimakasih... Jadi kau adalah seorang master sihir yang menjaga keluarga Beckman?" Hans mengutarakan pertanyaan kembali yang membuat Kyle bingung.
"Master?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, energi mana mu melambung tinggi. Hanya seorang setingkat master sihir yang punya mana sebanyak itu." Kyle mengangguk mengerti mengapa Hans menganggap dirinya sebagai 'master'.
__ADS_1
Master sihir sendiri adalah sebutan bagi orang-orang yang dapat mengubah kondisi alam di sekitarnya hanya dengan energi mana di tubuh mereka. Seorang master sihir mampu mengubah sebuah gurun pasir yang tandus menjadi hutan yang lebat, lautan yang luas menjadi sebuah gunung es dan banyak hal lainnya.
Salah satu kualifikasi menjadi seorang master sihir adalah mempunyai mana yang besar dan juga murni, dan Kyle mempunyai kualifikasi tersebut. Maka tak heran Hans menyebutnya sebagai seorang master sihir.
"Sayangnya aku bukanlah seorang master sihir. Aku hanya mempunyai energi mana yang besar, tapi tidak bisa menggunakannya sebagaimana mestinya." ucap Kyle setelah menelan roti di mulutnya.
"Benarkah? Kukira kau adalah seorang master sihir berusia 80-an yang memiliki paras muda karena mana yang melimpah." Kyle langsung tersedak roti mendengar ucapan Hans.
Hans buru-buru menepuk punggung Kyle, "Uhuk uhuk! Terimakasih.. Aku hanya orang biasa, bahkan aku tidak tahu cara mengendalikan mana di tubuh ku sendiri. Lagipula, 80?! Itu terlalu berlebihan." ujarnya.
Hans tertawa kecil, jelas sekali ucapannya adalah sebuah candaan, namun kemudian ia menaikkan alisnya saat membahas tentang Kyle yang tidak mampu mengendalikan mana, "Pengendalian mana dalam tubuh adalah salah satu skill dasar yang sangat penting. Walaupun sederhana tapi itu sangat membantu mu jika mana yang kau punya cukup banyak, dan kau tidak menguasainya? Lupakan itu, bagaimana jika aku mengajarimu cara mengendalikan mana?"
Kyle mengerutkan keningnya sebelum tersenyum agak lebar, "Tentu saja, kapan lagi kesempatan ini akan datang?"
Hans juga tersenyum lebar. Ia mengangkat lengan bajunya hingga ke siku, "Konsep dari pengendalian mana sangatlah sederhana. Hanya perlu merasakan aliran mana di tubuhmu kemudian memfokuskan nya pada satu titik."
"Tapi tetap saja, untuk merasakan aliran tersebut sangat sulit bagi beberapa orang. Belum lagi ada ribuan aliran mana di seluruh bagian tubuh. Dengan lima belas aliran besar dan sisanya adalah aliran kecil yang halus dan sulit untuk dirasakan."
"Jika kau bisa merasakan satu hingga tiga aliran pada percobaan pertama berarti kau adalah rata-rata. Jika merasakan empat hingga sepuluh kau termasuk jenius dan diatasnya adalah jenius langka."
Hans menghentikan penjelasannya untuk menghela nafas, "Senior sendiri dapat merasakan berapa aliran saat pertama kali mencoba pengendalian mana?" tanya Kyle.
"Dua belas? Kau termasuk jenius yang langka, ya?" ucap Kyle sedikit terkejut.
Dengan sedikit senyuman Hans berkata, "Tidak, ada yang masih lebih tinggi dari ku saat itu."
Kyle menatap wajah dari Hans yang sedang memandang seseorang di dekat semak bunga, jauh dari mereka sekarang.
"Dia adalah Leine. Saat itu dia menjadi perhatian utama semua penyihir dan guru di akademi. Bahkan Saint Griffin sendiri tertarik pada dirinya. Sorotannya begitu besar hingga aku terabaikan saat itu." Hans tampak murung mengingat momen tersebut.
Namun tak lama kemudian dia merekahkan senyuman, "Tapi aku berhasil menjadikan dia sebagai kekasihku setelah beberapa bulan. Aku tidak hanya berhasil menghilangkan saingan yang berat, aku juga mendapat perhatian dari gadis cantik sepertinya."
Mendengar cerita itu Kyle terkagum-kagum mendengar, "Kau hebat sekali. Bagaimana cara menaklukkan gadis dingin dan pendiam sepertinya?" tanya Kyle penasaran, karena dia merasa mungkin akan memerlukan keahlian tersebut.
Senyuman di wajah Hans sedikit memudar begitu Kyle melontarkan pertanyaan tersebut, "Percaya tak percaya, Leine bukanlah gadis pendiam dan dingin seperti sekarang."
"Dia adalah gadis periang yang selalu tersenyum polos, ramah dan suka berbicara dengan orang lain. Tapi dua tahun yang lalu.." Hans berhenti dan tangannya terkepal erat.
__ADS_1
Cahaya biru perlahan keluar dari kepalan tangannya dan membuat Kyle sedikit panik, "Sudah senior! Tak perlu dijelaskan, itu pasti sangat berat bagimu dan senior Leine."
Hans tersadar dan tersenyum lemah, "Ah, maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi.. Saat itu aku berpikir aku sama sekali tidak berguna baginya. Aku tidak bersamanya dan melindunginya. Maka dari itu aku ingin selalu bersamanya, walaupun dia membenci keberadaan ku pun aku ingin tetap bersama nya hingga aku mati." ucap Hans meluapkan emosi di hatinya.
Kyle sedikit mengerti mengapa Hans mengungkapkan seberapa protektif dirinya pada Leine. Kyle sendiri yakin dirinya akan merasakan hal yang sama dan melakukan seperti apa yang Hans lakukan jika saja suatu kejadian menimpa Clarissa atau Koillei dan merubah sifat mereka 180 derajat.
"Aduh, kenapa aku menceritakan hal ini. Maafkan aku, kita bahkan belum mengetahui nama masing-masing." Hans menyadari suasana yang berubah drastis, ia langsung mengubah suasana yang tidak menyenangkan itu.
"Oh benar, aku adalah Kyle." Kyle menjulurkan tangan kanannya.
"Aku Hans, orang-orang menjuluki ku Hans sang Kobaran Gamma." Hans dan Kyle berjabat tangan dan mereka berdua mulai merasakan keakraban hanya dalam waktu beberapa menit.
"Tentang pengendalian mana, bagaimana jika kau mencobanya. Mungkin saja kau termasuk jenius seperti aku dan Leine."
Kyle mengangguk dan mulai fokus untuk merasakan aliran energi di dalam tubuhnya, "Pertama rasakan energi yang berada dada mu. Karena di sana terletak aliran terbesar yang menjadi titik utama bagi semua aliran besar lainnya dan juga aliran kecil."
Berdasarkan petunjuk dari Hans, Kyle memindahkan fokusnya pada bagian dada, "Aku mulai merasakannya.." ucap Kyle dengan nada kecil.
"Sekarang rasakan aliran itu bergerak ke tanganmu." Hans mengarahkan Kyle kembali.
Dari lengan Kyle mulai terlihat garis-garis cahaya besar bercabang yang menandakan ia telah memfokuskan mananya pada bagian tangan.
"Ya benar! Terus lakukan hingga kau merasa tidak mampu merasakannya lagi." semakin banyak garis bercahaya yang muncul di tangan Kyle.
"Tiga, empat.. Ayo lanjutkan! Tujuh! Sebelas! Dua belas.." Hans mulai menghitung aliran yang tampak tersebut.
Sedangkan Kyle berusaha keras untuk merasakan satu aliran yang sangat sulit diraih, "Ayo, aliran ketigabelas mulai bercahaya." Hans menyemangati Kyle yang hampir berhasil merasakan aliran yang ketigabelas.
"Ya! Tiga belas!" entah kenapa Hans merasa bersemangat sekaligus senang dengan pencapaian yang diraih oleh Kyle, padahal beberapa menit yang lalu mereka adalah orang asing.
"Wow.. Tiga belas termasuk lumayan.." ucap Kyle.
"Lumayan?! Itu sangat langka! Mungkin hanya ada puluhan orang di akademi yang punya lebih dari sepuluh aliran besar." ujar Hans.
"Punya?"
"Ya benar, kau telah mencapai batasmu saat mencoba merasakan aliran mana di tanganmu. Berarti tiga belas adalah jumlah aliran besar yang dapat kau kendalikan sesuka hatimu. Dua yang lainnya akan bersifat pasif dan hanya mengalirkan mana seperti biasanya."
__ADS_1
"Ternyata begitu." Kyle mengangguk.