
Sanny larut dalam ceritanya, terus mengatakan banyak hal tentang masa kecilnya, keluarganya, dan juga impiannya hingga tak terasa Kyle sudah mendengar wanita itu berbicara selama satu jam.
"Ayo.." Achille yang berjalan diiringi beberapa anggotanya terhenti begitu melihat Kyle dan Sanny yang sedang duduk berduaan di depan api unggun.
Achille sebenarnya tak ingin menganggu momen itu, karena sudah beberapa bulan Sanny tak pernah duduk dan berbicara dengan terbuka pada semua orang, tapi ada hal yang lebih penting jadi mau tak mau ia harus menginterupsi.
"Kyle.. Sanny.. Maaf menganggu waktu kalian, tapi kita harus segera berangkat." ucap Achille dengan perasaan tak enak.
Kyle mengangguk singkat sedangkan Sanny terdiam sambil menatap Achille dengan lekat, membuat pria tersebut mengucurkan keringat dingin. Bukannya ia takut pada Sanny, tapi wanita itu benar-benar penting dalam perburuan ini jadi ia tak ingin merusak mood Sanny dan membuatnya tak ingin ikut.
Sementara itu di Kyle diam-diam menghela nafas lega, ia merasa Sanny tak akan berhenti bercerita hingga pagi hari, "Dia begitu terbuka tentang dirinya.. Sampai-sampai aku tak ingat banyak."
Hanya saja Sanny tidak bercerita tentang sosok yang wanita berambut pendek tersebut katakan mirip dengannya, hal ini membuat Kyle begitu penasaran dengan sosok pria itu dan apa penyebab dirinya serta 5 anggota kelompok mereka meninggal.
"Kyle.." Achille menepuk pundak Kyle karena pemuda itu melamun bukannya segera bergerak.
"Ah.." Kyle tersadar dan tersenyum sedikit malu. Ia berjalan pada salah satu tenda dan mengambil sebuah ransel serta mantel kulitnya yang tergeletak di luar.
"Aku sudah siap.." begitu selesai mengenakan mantelnya, Kyle bergegas menghampiri rombongan Achille yang terdiri dari Sanny, Crylia, Alvaro, Si Mohawk, Cruz, Luis si ahli alat sihir, dan Jose atau pria dengan pedang besar dan ditambah dengan dirinya maka mereka akan bergerak dengan regu yang terdiri dari 9 orang.
Kyle tidak tahu sekuat apa binatang sihir itu, tapi membawa sembilan orang berarti binatang sihir itu cukup tangguh. Mereka semua berjalan menuju ke luar area pertendaan.
"Achille, kenapa kita harus membawa anggota baru ini? Maksudku.. Dia memang kuat dalam minum-minum, tapi aku tak yakin ia akan membantu." Si Mohawk bertanya pada Achille dengan suara yang kecil, tapi Kyle dapat mendengarnya dengan jelas.
Achille tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Jika ia tidak bisa membantu dalam pertarungan, setidaknya ia bisa membantu kita membangun perangkap. Ini bisa jadi pengalaman yang bagus untuknya sehingga pada perburuan berikutnya, ia dapat membangun perangkap sendiri."
Si Mohawk membentuk mulutnya seperti huruf 'o' dan mengangguk pelan, kemudian ia memelankan langkahnya hingga saat ini ia berjalan di samping Kyle yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka, "Hey kawan.. Jika kau merasa situasi cukup berbahaya, kau dapat meneriaki namaku! Rock!"
Kyle tertawa ringan, "Tentu saja." ia tidak ingin membantahnya walaupun ia tahu bahwa Rock jauh lebih lemah dari dirinya. Namun, ada kemungkinan terjadi situasi yang tak bisa diselesaikan dengan kekuatan saja.
"Rock, Cruz, kalian yang pacu kereta penumpang. Sedangkan aku dan Jose yang akan mengendarai kereta kuda yang dimuat." ucap Achille setelah berada di depan dua kereta kuda.
Kyle mengenali salah satu gerobak kereta itu adalah kereta yang ia isi dengan persediaan alat sihir tempo hari, berarti alat sihir berperan penting dalam perburuan ini.
"Ayo Kyle.." Sanny yang selama ini diam setelah bercerita panjang dengan Kyle kembali berbicara tapi tetap saja ia hanya berbicara dengan Kyle.
"Mereka berdua dekat sekali.. Apa ada yang ku lewatkan beberapa hari ini?" Crylia berbisik pada Alvaro.
"Benar.. Kurasa mereka berpacaran. Jujur aku sangat salut pada Kyle, padahal baru beberapa hari dia bergabung tapi sudah mendapat wanita itu." bisik Alvaro.
Luis memperhatikan Crylia dan Alvaro yang saling mengangguk satu sama lain, dengan keterbatasannya ia tidak mengetahui apa yang sedang mereka bahas sehingga Luis memutuskan untuk naik ke kereta kuda.
Tak berapa lama, Crylia dan Alvaro naik ke dalam kereta kuda dan menemukan Kyle dan Sanny duduk di sisi kiri sedangkan Luis tampak duduk sendiri di sisi kanan, tentu saja keduanya akan duduk di samping Luis sambil memandangi mereka berdua.
"Mereka ini kenapa.." Kyle bertanya dengan heran saat melihat Crylia dan Alvaro yang duduk berhadapan dengannya menunjukkan senyuman lebar.
__ADS_1
"Abaikan mereka." Sanny yang sedang memandangi keluar dari jendela menjawab singkat.
Gerbong mereka bergetar sesaat menandakan bahwa mereka sudah mulai bergerak.
Lima menit pertama suasana gerbong sangat hening, tak ada yang berbicara karena semuanya menikmati suasana malam lewat jendela kereta.
Tepat pada menit kesepuluh mereka bergerak, kereta kuda mendadak berhenti sehingga mengejutkan penumpang di dalamnya, "Kenapa?" Alvaro yang duduk di dekat tempat kusir bertanya.
"Sepertinya ada sedikit masalah." Rock menjawab sambil menunjuk ke depan, dimana ada sebuah tali yang diikatkan pada pepohonan, jelas sekali ingin menjatuhkan kuda mereka.
Kereta kuda yang di kendarai oleh Achille dan Jose juga berhenti, bukan hanya karena melihat kereta di depan mereka berhenti, melainkan insting mereka mengatakan ada yang sedang mengawasi pergerakan mereka.
"Apa? Bandit?" Kyle mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk melihat ke sekitar, namun malam yang gelap membuatnya tak dapat melihat apapun.
"Awas!" Sanny mendorong wajah Kyle masuk dan ia pun melompat keluar dari jendela kemudian naik ke atas kereta.
Sanny memicingkan matanya dan terus melihat ke segala arah, "Sanny!" Achille berteriak keras kemudian menunjuk ke bawah.
"Hm? Hah?!" melihat sebuah anak panah menancap di antara kakinya Sanny tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Kapan?" ia menjadi waspada dan memutuskan untuk masuk kembali karena penyerang mereka dapat memanah tanpa menimbulkan suara apapun.
CIUUTT
Beberapa anak panah dilepaskan dari pepohonan, menghentikan langkah Sanny dan memaksanya untuk melompat dan bersembunyi di bawah kereta.
"Woilah, apa-apaan?!" Alvaro terkejut bukan main saat dua anak panah menembus dinding kereta dan nyaris mengenai kepalanya.
"Jose.. Lindungi mereka." Achille menarik pedangnya tapi Jose menggeleng.
"Mereka juga akan mengincar kita." ucapnya dengan wajah serius.
Benar saja belasan anak panah melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi, beruntungnya Jose sudah duluan mengangkat pedang besarnya sehingga anak panah yang berbenturan dengan pedangnya hancur seketika.
"Kita benar-benar tak diuntungkan dalam posisi ini." di dalam gerbong Crylia menganalisa sebelum ia melompat dan tengkurap saat sebuah panah menembus dinding dan mengenai sisi dinding yang lain, membuktikan analisanya.
Penyerang dapat menyerang mereka dengan leluasa dari kegelapan dan juga pepohonan, sedangkan mereka tak bisa selamanya berlindung di dalam kereta.
"Lindungi keretanya! Booodddoooh!" teriak Cruz dengan nada tinggi pada mereka. Ia takut kuda-kuda yang baru ia dapatkan dari sebuah desa dengan susah payah mati begitu saja.
"Kau gunakan otak mu sedikit! Bagaimana caranya melawan mereka?!" Alvaro meneriaki pria pelontos itu sambil menunjuk dahinya yang berkilat terkena cahaya obor.
"Nguh! Apa?!"
Kyle menggaruk kepalanya dengan melihat tingkah kedua pria itu, "Bukannya mereka terlalu santai?" melihat keduanya masih sempat-sempatnya berkelahi di saat situasi yang genting seperti ini membuatnya heran.
__ADS_1
"Sudahlah kalian berdua!" Crylia berusaha melerai mereka, namun lebih banyak anak panah yang dilepaskan sehingga ia kembali tengkurap untuk melindungi diri.
Di luar, setelah tembakan berhenti Achille cepat-cepat turun dari kursi kusirnya dan mengangkat kedua tangannya, "Jangan serang lagi kumohon! Kalian bisa ambil barang-barang kami! Tapi tolong ampuni nyawa kami!" teriaknya dengan lantang berharap para penyerang berhenti menembakkan panah.
Tak lama terdengar banyak langkah kaki dari segala arah yang berasal dari hutan, "Mereka benar-benar perampok?" Achille sebelumnya tidak yakin bahwa penyerangnya adalah perampok karena melihat panah pertama yang mereka lepaskan sangat cepat dan tidak menghasilkan suara, menandakan ada seorang penembak jitu hebat.
"Apa? Kita akan menyerahkan semuanya?" Kyle melihat siluet belasan orang dari jendelanya.
"Tidak.. Seringkali kita harus menggunakan cara lain agar lolos dari masalah. Achille hanya menggunakan cara terbaik agar tak banyak kerugian pada kita." jawab Crylia menjelaskan.
Kyle mengangguk mengerti, sebagai seorang pengelana pemula ia tidak mengetahui banyak hal untuk menghadapi permasalahan sehingga kejadian ini bisa menambah pengalamannya.
"Baguslah jika kalian sadar diri.." seorang pria dengan rambut tipis dan tato abstrak berwarna merah di bawah matanya menunjukkan diri dari kegelapan.
Achille, Jose, dan Sanny yang memperhatikan dari kolong kereta menahan nafas mereka saat melihat pria itu. Mereka bertiga menyerukan satu nama di dalam hati yaitu, "Tilban!"
Tilban adalah seorang bandit terkenal di wilayah ini beberapa tahun yang lalu, tapi aparat penegak hukum berhasil menangkapnya dan ia telah diadili.
Namun rumornya Tilban berhasil lolos dari hukuman entah bagaimana caranya dan kini kembali memerintah kelompok bandit di wilayah ini dan membuat banyak masalah.
"Jika tidak salah asosiasi memberi hadiah 50 ribu Crown jika bisa menangkapnya hidup-hidup." gumam Jose sambil menatap Tilban dengan tajam.
"Suruh orang-orang mu keluar dan perintahkan mereka untuk meletakkan senjata, barang bawaan atau sebagainya. Cepat!" Achille mengikuti apa yang dikatakan oleh Tilban sementara di dalam kepalanya ia sedang memikirkan rencana untuk dapat lolos dari masalah ini, atau lebih baik lagi dapat menghapus masalah ini.
"Cepat keluar dan buang senjata kalian.. Aku punya rencana." Achille berbicara dengan nada kecil, mengatakan bahwa mereka harus mengikuti apa yang pria itu mau jika Tilban menangkap mereka, dan jika Tilban berniat membunuh mereka maka Luis harus menggunakan alat sihir yang mampu membalikkan situasi, dan tentu saja Crylia yang menerjemahkan ucapan Achille pada Luis.
"Baik.." semuanya mengangguk pelan dan satu-persatu turun dari kereta.
"Wow.." Tilban bersiul sambil tersenyum lebar melihat Crylia yang turun dari kereta. Gadis itu memiliki rambut hitam kemerahan dengan wajah yang manis sehingga membangkitkan sesuatu pada diri Tilban.
"Jika aku tidak salah, masih ada satu gadis lagi.." ujar Tilban sambil menatap kolong kereta. Ucapannya membuat Sanny mendengus kesal, ia berharap Tilban tidak mengetahui atau tidak mengingatnya bersembunyi di bawah kolong kereta sehingga ia bisa menjadi kartu as untuk menyelesaikan masalah ini.
PRANG!
Achille melempar pedangnya kebawah, diikuti dengan Alvaro yang juga melempar sebuah belati. Sanny yang baru bergabung melepas jubahnya yang ternyata dilengkapi dengan belasan pisau lempar, ia juga membawa dua buah belati sebagai senjata utamanya.
"Ah sungguh beruntung.." melihat lekukan tubuh Sanny setelah wanita itu melepas jubahnya juga membuatnya bersemangat, ia menghampiri Sanny dan memegang dagu wanita itu untuk mengamati wajahnya lebih dekat.
Kyle yang sedari tadi menatap Tilban dengan wajah bejatnya hanya bisa mengepalkan tinjunya, ingin sekali ia melompat dan menghantam wajah jelek itu hingga penyok.
"Kita dapat tangkapan bagus hari ini!" teriak Tilban dengan lantang, membuat anak buahnya berteriak senang.
"Cuih!" Sanny meludahi wajah mesum Tilban yang terlalu dekat sehingga membuatnya jijik.
"Ow.. Gadis kasar, benar-benar tipeku." ia tersenyum lebar sambil tertawa keras. Tilban melepaskan tangannya dari dagu Sanny dan mengusap wajahnya, kemudian menatap rombongan tersebut satu persatu.
__ADS_1
"Bawa mereka dan barang-barangnya juga. Kita kembali ke markas dan berpesta untuk tangkapan besar malam ini!" Tilban membalikkan badannya sementara itu anggotanya bersorak-sorai.