Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 5 - Konflik Kecil


__ADS_3

GRRUUUKK


Suara yang pertama kali Kyle dengar ketika membuka mata adalah suara keroncongan di perutnya, "Lapar sekali.." ia ngedumel.


Matanya menyelidik ke sekitarnya. Tampak asing tapi juga familiar bagi Kyle, "Wangi ini.. Ini kamarnya Ceri?!" Kyle cepat-cepat bangun dari kasur yang ditidurinya itu.


"Kenapa aku berada di sini?" Clarissa tidak pernah membiarkan Kyle memasuki kamarnya, apalagi tidur di kasurnya makanya dia sedikit takut menemukan dirinya berada di dalam kamar Clarissa.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" Kyle berjalan perlahan menuju pintu untuk keluar mencari makanan, namun sebelum dia meraih gagang pintu, pintu terbuka dengan sangat kencang dan menghempaskan Kyle kembali.


"Kyle!" Clarissa berdiri di depan pintu sambil memanggil namanya dengan keras.


"Mati aku.." pikir Kyle.


Jantungnya mulai berdebar kencang di kala Clarissa mengambil ancang-ancang untuk melompat dan juga jantungnya hampir copot saat Clarissa meluncur seperti roket ke arahnya.


"Aaahhh! Aku baru saja merasakan rasanya punya kekuatan!" Kyle berteriak kencang di dalam hatinya.


HUP!


Di luar dugaan Kyle, Clarissa memeluknya dengan erat. Sangat erat hingga tulang di tubuh Kyle menjerit.


Clarissa pun melepas pelukannya setelah ia merasa puas, "Kau baik-baik saja Kyle? Tadi kau seperti bubur beras panas yang tumpah di lantai!" ujar Clarissa khawatir.


"Ukh.. Bu-bubur beras?" Kyle bingung, apa yang terjadi pada dirinya saat ia tak sadarkan diri hingga kondisinya digambarkan seperti bubur beras oleh Clarissa.


Koillei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan, "Kau berubah seperti cairan namun padat dalam waktu yang bersamaan dan mengeluarkan banyak uap. Sulit untuk menjelaskan nya."


"Begitu.." gumam Kyle mengerti padahal otaknya masih mencerna apa yang dikatakan oleh Koillei.


"Kyle, kenapa kau bisa begitu kuat? Apa yang terjadi padamu sebelumnya?" tanya Clarissa penasaran.


"Ya, apa yang terjadi pada kakak? Tubuhmu sangat aneh saat itu." Koillei juga mengutarakan rasa penasarannya dengan kondisi Kyle sebelumnya.


Mendapatkan dua pertanyaan bertubi, pemuda itu menggaruk rambut pirangnya, berpikir bagaimana cara menjelaskan kejadian dengan dewa kucing yang memberinya kesempatan dan kekuatan.


Kyle pun menghela nafas ringan, "Sederhananya aku bertemu dengan seekor kucing yang gelisah dan takut akan kegelapan, jadi aku menerangi jalannya agar ia bisa pergi tanpa khawatir dan ia memberiku kekuatan." jelas Kyle.


Koillei dan Clarissa tampak kecewa dengan cerita Kyle, "Itu sama sekali tidak masuk akal.. Apakah perlu menyembunyikannya dari kami?"


Senyuman tipis terukir di wajah Kyle, "Mungkin aku akan memberitahukan yang sebenarnya pada kalian suatu saat nanti, tapi kurang lebih itu yang terjadi padaku." ucap Kyle.


Clarissa cemberut dan memanyunkan bibirnya, ia ingin tahu tapi tidak ingin mendesak Kyle karena kondisi Kyle yang memprihatinkan.

__ADS_1


"Kak Kyle kau tampak sangat kurus.. Tidak, kau sangat kurus." ucap Koillei yang baru menyadari tulang pipi Kyle terlihat sangat jelas dan lehernya menyusut.


Ucapan Koillei membuat Kyle teringat dengan dirinya yang merasakan lapar luar biasa saat ini, "Oh Ceri.. Aku sangat lapar.." ucap Kyle pada Clarissa dengan suara lemah yang dibuat-buat.


Clarissa memalingkan wajahnya dan menjawab, "Tidak, ambil saja sendiri." Clarissa melipat tangannya seolah tidak peduli.


"Akh! Aku mohon Ceri, aku kelaparan dan hampir mati!" Kyle berguling-guling di lantai sambil memegang perutnya.


Kyle berhenti berguling saat melihat Clarissa menggigit bibirnya, "Oh ya, bagaimana luka di perutmu? Apakah sudah baik-baik saja?" Kyle dapat mengingat samar-samar bahwa Clarissa terluka di perutnya pada saat ia dihidupkan kembali.


Gadis itu tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja berkat kalian berdua. Terimakasih.." Kyle menganga tak percaya sementara itu Koillei memiringkan kepalanya mendengar ucapan terimakasih itu, karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama bersama, Kyle dan Koillei baru mendengarkan ucapan terimakasih yang lembut dan tulus dari seorang Clarissa yang mereka kenal kasar.


Sedari mereka kecil, Clarissa adalah pelindung bagi Kyle dan Koillei. Kyle adalah seorang anak yang berasal dari keluarga miskin dan Koillei adalah seorang elf yang sangat jarang terlihat di Bembridge sehingga terkadang anak-anak merundung mereka.


Koillei sendiri adalah anak yang penakut dan cengeng saat masih kecil sedangkan Kyle merupakan anak pemberani namun keberaniannya tidak diimbangi dengan kekuatan dan keahlian, sehingga Clarissa lah yang melindungi mereka berdua.


Maka dari itu, mendengar terimakasih dari Clarissa bukanlah hal yang biasa bagi Kyle dan Koillei, itu adalah kejadian langka yang baru pertama kali terjadi, "Kau tidak seperti Ceri yang ku kenal, Clarissa." ucap Kyle.


Sontak Koillei dan Clarissa menatap wajah Kyle secara bersamaan, "Bagimu Ceri dan Clarissa bukan orang yang sama?" tanya Clarissa.


"Bagiku begitu, apalagi setelah melihat mu hari ini aku menjadi lebih yakin bahwa Clarissa adalah dirimu yang lebih lembut dan sopan, tidak seperti Ceri yang meledak-ledak dan kasar. Namun aku lebih suka Ceri yang blak-blakan. Hahaha!" Kyle tertawa lepas sambil menceritakan seperti apa sifat Clarissa bagi dirinya.


Koillei pun mengalihkan pandangannya ke wajah Clarissa, ia memperhatikan raut wajah dari Clarissa yang merona, "Begitu.. Wanita akan senang saat mengetahui seseorang menyukai sifat yang lain dari dirinya." Koillei diam-diam mencatat informasi baru itu dalam pikirannya.


Hal ini juga berlaku pada Clarissa, ia harus menjadi seorang gadis yang ramah dan sopan di hadapan orang-orang penting atau masyarakat demi menjaga nama baik keluarganya.


Namun beruntung baginya, dia memiliki teman yang menerima sifat aslinya. Berbeda dengan anak-anak lainnya yang mengharapkan Clarissa adalah anak yang sopan saat bermain, khususnya anak dari keluarga bangsawan lain.


GRRUUUKK..


Kyle mengelus perutnya yang berbunyi kembali, ia menghela nafas lemas dan terbaring di lantai, "Ceri.. Tolong panggil pelayan untuk membawakan makanan." Kyle memohon.


"Baiklah, tunggu sebentar." Clarissa berdiri dan berlari kecil dan keluar menuju dapur.


"Apa?" Kyle mendongak keheranan. Apakah sedikit pengakuan itu membuat Kyle menaklukkan gadis kasar seperti Clarissa?


Koillei juga berpikiran sama dengan Kyle, "Kau telah menaklukkan kak Clarissa, aku salut padamu." Koillei memuji Kyle, dan Kyle hanya tersenyum tipis sebagai balasan karena ia tidak begitu yakin dengan apa yang telah terjadi.


Kyle pun mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan, "Koi, tidak ku sangka kau yang lebih dulu mampu membunuh daripada Ceri. Bagaimana caramu menaklukkan keraguan di hatimu?" tanya Kyle. Sebelumnya Kyle melihat Koillei membunuh para penyusup tanpa sedikitpun keraguan di matanya.


"Tentang itu, mungkin tiga bulan yang lalu ayah mengajariku cara mengeksekusi seseorang. Aku diajarkan cara membunuh dengan cepat dan tanpa meninggalkan rasa sakit, pelatihan itu juga membuatku lebih berani untuk mengambil nyawa seseorang." jawab Koillei.


Sebagai informasi, ayah Koillei adalah seorang komandan penjaga di kota Bembridge. Terkadang jika mereka menemukan pelanggar peraturan berat yang sudah melakukannya berulang-ulang kali, maka hukuman eksekusi akan di jatuhkan pada mereka.

__ADS_1


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh ayah Koillei agar putranya dapat melawan keraguan untuk membunuh seseorang dan juga cara tersebut lebih aman daripada bertarung hidup dan mati.


"Oh, makanya kau tampak murung beberapa bulan ini. Pasti itu sangat berat bagimu." ucap Kyle.


"Benarkah? Aku sebisa mungkin menyembunyikannya.. Kakak selalu memperhatikan ku ya? Kukira perhatian mu hanya terarah pada kak Clarissa saja."


Kyle sedikit tersenyum. Baik Clarissa dan Koillei adalah teman baiknya, dia selalu memperhatikan kedua temannya itu setiap ada kesempatan, "Tentu saja, kecantikan mu berkurang saat kau murung dan itu tidak bisa diabaikan."


Koillei tersentak sambil memegangi pipinya, "Hebat sekali.." Kyle merasakan aura horror saat Clarissa tiba-tiba berada di belakangnya sambil tersenyum lebar.


"Tidak Ceri, aku tidak bermaksud seperti itu-" Kyle berusaha menjelaskan perkataannya pada Clarissa.


"Jadi kau memintaku mengambil makanan agar bisa menggoda Koi begitu?!" Clarissa mengambil baguette dan menyumpal mulut Kyle dengan itu sambil mencekik lehernya.


"Kak Clarissa, jangan! Kak Kyle bisa mati!" Koillei langsung panik dan menyelamatkan Kyle dengan menarik Clarissa.


"Uhuk-uhuk!" Kyle memegangi lehernya dan terbatuk-batuk sambil menjauhi Clarissa yang marah.


"K-k-kau ingin membunuhku?!" teriak Kyle dengan suara bergetar.


"Ya!" Clarissa meneriakinya balik.


Seorang pria dengan kemeja putih dan celana pendek lewat di depan kamar Clarissa dan spontan melihat ke dalam karena keributan itu, "Hm? Apa yang terjadi?" tanyanya.


Ketiga orang itu menghentikan keributan mereka dan menatap pria yang berdiri di ambang pintu dengan kepala masuk ke dalam.


"PERGILAH!" Clarissa mengambil pisau mentega dan melemparnya ke pria itu.


"Eh?!" sang pria terkejut dan sontak menghindar kemudian berlari.


"Istriku tulung, putrimu mengamuk!" teriakannya menggema hingga dapat di dengar oleh mereka yang berada di dalam ruangan.


Kyle dan Koillei di buat melongo karena aksi Clarissa tersebut, "Dia benar-benar marah.." pikir mereka berdua.


"Baiklah Clarissa, terimakasih atas makanannya. Kau tenangkan diri ya, aku pergi dulu!" Kyle cepat-cepat bangun dan lari membawa serta baguette yang digunakan Clarissa untuk menyumpal mulutnya.


"Koi aku mengandalkanmu. Hanya kau dan ibunya Ceri saja yang bisa menenangkan amarahnya." batin Kyle sambil mengunyah roti panjang itu.


"Kyle! Kembali!!" teriak Clarissa marah pada Kyle yang berlari dengan cepat melarikan diri dari kamarnya.


"Hm? Tubuhku ringan sekali.. Aku bisa berlari Koillei dua atau tiga kali lebih cepat dari batas normal ku sebelumnya, padahal aku hanya berlari seperti biasa.." pikir Kyle setelah dengan mudah lari dari kamar Clarissa.


Setiap langkah Kyle sangat cepat dan teratur seolah-olah tubuhnya sudah terlatih untuk berlari dengan cepat.

__ADS_1


Kyle pun berhenti berlari dan berjalan saat berada di pintu masuk, "Aku masih lapar.. Sebaiknya aku meminta lebih banyak makanan pada pelayan di dapur.." pikirnya lagi.


__ADS_2