
PAK!
Seseorang menepuk pundak Kyle yang masih terdiam karena kagum, membuatnya terkejut.
"Eh? Maaf membuatmu kaget. Ayo masuk, ada sesuatu yang harus kita bahas." ucap Magouse dengan wajah serius.
Melihat ekspresi pria itu, Kyle juga menjadi serius dan ikut masuk dengannya tanpa mempertanyakan apapun lagi.
Mereka menuju ke ruang besar di lantai dua, sebuah ruangan dengan meja panjang dan dua belas kursi yang di setiap sisinya dengan satu kursi di paling ujung tempat tuan kota duduk.
Dilt itu sudah ada seorang pria dengan zirah ringan dan helm duduk dengan ekspresi yang tak dapat digambarkan.
"Ayah?" Koillei menghampiri pria yang merupakan ayahnya. Pria itu mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai dan tersenyum begitu melihat putranya datang menghampirinya.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya sambil mengacak-acak rambut Koillei.
"Aku baik-baik saja ayah." jawab Koillei dan iapun duduk di samping ayahnya.
Clarissa dan ibunya duduk bersebelahan, tuan kota duduk di tempat yang memang khusus untuknya, "Duduklah Kyle." Magouse menyuruh Kyle duduk.
"Baiklah.." tuan kota menggeser sebuah benda ke depannya.
Setelah memperhatikannya secara seksama Kyle mengetahui bahwa itu adalah batu mengkilap berwarna hitam berbentuk seperti tengkorak.
Wajah ayah Koillei berubah begitu melihat benda itu, marah, sedih, dan menyesal bercampur aduk, sebuah ekspresi yang begitu menyakitkan untuk mengetahui apa yang telah ia lalui.
"Ayah?" Koillei menyentuh bahu ayahnya begitu menyadari perubahan ekspresi yang signifikan di wajah pria itu.
Ayahnya tersentak dan menatap wajah Koillei, "Roirenna.." gumamnya. Setelah itu ayah Koillei mengusap keningnya sambil mengeratkan giginya.
Magouse menghela nafas pelan, "Kendalikan emosimu Algar. Jika kau tidak sanggup, biar aku saja yang menceritakannya." ucap Magouse.
Algar menatap wajah Magouse dan berusaha tersenyum, "Tak apa.. Ini masalah serius yang sangat berhubungan dengan putraku Koillei.." Algar berhenti dan menarik nafas dalam-dalam.
Ia menatap wajah Koillei yang kebingungan, "Aku sangat ingin menceritakan hal ini padamu sejak dulu. Hanya saja, aku takut kau akan memikul beban yang berat setelah mendengarnya."
"Apalagi Koi begitu bahagia, bermain dengan kedua temannya. Aku tak ingin menghancurkan kebahagiaan itu. Tapi.." mata Algar terpejam dan ia mengepalkan tinjunya.
"Aku harus menceritakannya.. Karena ada sebuah janji yang harus kutepati.." ia membuka matanya dan berucap dengan sangat serius.
16 Tahun Yang Lalu...
Algar yang masih muda sedang membersihkan dirinya di sebuah sungai di tengah hutan setelah seharian berlatih.
Setelah mengguyur tubuhnya beberapa kali dengan air, Algar merendamkan tubuhnya ke air yang cukup dalam.
__ADS_1
"Hmm.." ia memejamkan matanya dan menikmati suasana di sekitarnya.
CEBLUP!
"Hah?" Algar membuka matanya dan melihat ke bawah. Ada sebuah benda asing di antara pahanya yang seingatnya benda itu tak ada sebelumnya.
"Pisau?!" teriaknya dalam hati.
Di balik suara aliran sungai yang cukup deras, ia juga mendengar suara ranting pohon yang bergerak, membuatnya waspada dan menggenggam pisau yang menancap di dalam air untuk berjaga-jaga.
Setelah keheningan beberapa saat, Algar semakin yakin bahwa ada yang mengamatinya saat ini. Bukan satu orang, tapi sekelompok orang.
"Mereka akan terus mengamatiku hingga aku melakukan pergerakan." batinnya.
Algar harus memikirkan pergerakan yang tak terduga atau yang memiliki sedikit hingga tak ada celah sama sekali.
"Benar juga.." Algar menyadari saat ini dirinya berada di bagian sungai yang cukup dalam, apalagi bagian tengahnya. Ditambah dengan arus yang kuat maka akan sangat sulit bagi pisau lempar untuk mengenainya jika ia melompat ke sana.
Hanya saja, akan sangat sulit untuk keluar dari sungai jika ada begitu banyak yang menargetkannya.
Setelah berpikir beberapa saat, Algar menggigit bibirnya, "Semoga ini berhasil." gumamnya.
Ia menarik nafas panjang dan mendorong tubuhnya sekuat tenaga menggunakan tangan kirinya.
Dengan kekuatan tangannya yang kuat Algar mampu mendorong tubuhnya ke udara sehingga ia bisa menceburkan dirinya ke dalam arus sungai.
Beberapa pisau langsung dilemparkan padanya begitu ia bergerak, namun tak ada satupun yang mengenainya karena arus sungai yang deras dan juga air yang dalam sehingga pisau-pisau yang dilempar berkurang kecepatannya dan pada akhirnya berhenti.
"Hm.." Algar langsung menangkap pisau yang perlahan tenggelam ke dasar.
Setelah itu ia berenang menuju permukaan dan melompat dari dalam air dan masuk kembali. Beberapa pisau di lemparkan kembali tapi sama seperti sebelumnya tak ada yang mengenainya.
"Ck! Dia mempermainkan kita." decak kesal seseorang di dalam rimbunnya dedaunan pohon.
"Pria itu sangat pintar. Dia memanfaatkan arus dan kedalaman air agar pisau kita tidak bisa mengenainya."
Di tengah pembicaraan itu Algar muncul kembali ke permukaan dan melempar sebuah pisau yang berputar secara horizontal kearah pohon yang mereka tempati saat ini.
BRAAKK!
Lemparan dari Algar begitu kuat hingga sebuah pisau lempar sanggup menembus batang pohon dan membuatnya hampir roboh.
"Berhasil!" Algar menyelam kembali begitu beberapa pisau lainnya terbang ke arahnya.
Ia terus melakukan hal yang sama beberapa kali hingga semua pohon yang berada di pinggir sungai roboh, dengan begitu ia akan sulit untuk diserang dengan pisau lempar.
__ADS_1
Algar melompat dari dalam air menuju ke tempat ia meletakkan pakaiannya karena tidak mungkin ia bertarung tanpa mengenakan apapun.
SWUSSHH! CAP! CAP!
"Hey aku baru mengenakan celana!" Algar langsung melompat kebelakang untuk menghindar dari pisau lempar sembari memasukkan tangannya ke dalam bajunya.
"Baiklah, aku akan serius!" Algar berlari dengan kencang ke arah pisau lempar berasal.
"Jadi begini rupa kalian.." gumamnya begitu melihat beberapa orang berpakaian serba hitam, mengenakan topeng hitam dan garis corak putih yang berbeda-beda pada setiap orang.
Di bagian kening topeng mereka terdapat batu berwarna hitam mengkilap dengan bentuk tengkorak, "Mereka pasti kelompok pembunuh bayaran atau semacamnya."
Algar mengayunkan pisau lempar di tangannya seakan-akan itu sebuah pedang, menciptakan bilah angin berisi percikan petir berwarna kuning.
SWUSSHH!
Para pembunuh sontak menghindar dan mulai mengepungnya satu persatu, "Mereka cukup banyak.. Ini akan sulit." gumam Algar begitu melihat ia telah dikepung belasan pembunuh.
Tiba-tiba terdengar suara keras seperti ledakan disertai dengan gelombang kejut yang berasal dari suatu tempat.
"Apa itu?!" Algar dan semua pembunuh yang mengepungnya terkejut dan semuanya menatap ke satu arah.
"Itu berasal dari mansion." batin Algar dengan ekspresi sangat terkejut di wajahnya.
Ia langsung berlari sekencang yang dapat ia lakukan, menerobos kepungan para pembunuh dan tidak menghiraukan mereka.
"Kejar dia!"
...\=\=\=...
Sekitar satu kilometer dari sungai, terdapat sebuah mansion besar yang sudah hancur setengah dan hanya tersisa sebuah kawah besar.
"Tidak, apa yang terjadi.." gumam nya dengan mata terbuka lebar.
Seseorang terbang dari dalam kawah dengan tubuh yang diselimuti asap dan pakaian terbakar.
Algar menghampiri orang tersebut, "Tuan Arloi.." teriaknya. Tanpa mempertanyakan apapun Algar langsung menggendong pria itu dengan kedua tangannya.
Tapi belum satu langkah berlari, sebuah sinar yang terselimuti oleh api menyerangnya dan meledak, walau serangan itu tidak mengenainya tapi dampak ledakannya membuat Algar terpental dan ia melepaskan tubuh Arloi yang setengah hangus.
"Elf yang merepotkan.."
Seorang pembunuh berjalan perlahan dari dalam kawah. Tampak beberapa bagian tubuhnya menghilang, bukan otot atau bagian dalam tubuh yang tampak melainkan cahaya kuning kemerahan yang mengeluarkan kobaran api.
"Hm? Kau bukan elf.." ucap pembunuh itu dengan nada dingin tanpa emosi.
__ADS_1
Algar tidak tau seperti apa wajah yang disembunyikan dibalik topeng tersebut, tapi ia yakin wajah dibalik topeng itu adalah monster tanpa belas kasihan.
"Matilah.." pembunuh itu mengacungkan jari telunjuknya pada Algar, seketika itu juga cincin api berputar di jari telunjuknya, menghimpun mana berunsur api di ujung jarinya, siap membunuh Algar dengan serangannya.