
"Hah, hah.. Hah.. Akhirnyah.." gadis berambut merah yang berlari di depan berhenti tepat di batas air sungai dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hey, kalian berdua kenapa?" tanyanya dengan heran pada kedua gadis.. Tidak, ia baru menyadari bahwa anak dengan telinga runcing yang aneh di belakang gadis berambut merah itu adalah anak laki-laki.
"Huft.. Huft.. Kami mengejar apel yang kau pegang dari tadi. Cepat, berikan itu pada kami!" jawab gadis berambut merah dengan cepat.
Bocah berambut pirang itu menatap heran sang gadis, "Apel? Apel a-" saat ia melihat ke bawah, ia terkejut karena pakaian yang ia pegang tadi sudah berubah menjadi sebuah apel yang begitu besar.
"Haaahh?!" ia mengalihkan pandangannya ke arus sungai. Benar saja pakaiannya yang sedang ia cuci barusan terbawa arus dan jaraknya sudah cukup jauh.
"Hey! Cepat berikan padaku!" Clarissa berteriak.
Bocah laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Clarissa dengan kesal, merasa apel itu harusnya menjadi miliknya karena ia harus kehilangan pakaiannya untuk sebuah apel.
"Kenapa aku harus memberikannya padamu? Ini punyaku sekarang." ucapnya.
"Apa?" Clarissa terdiam mendengar ucapannya, setelah itu dia menunjukkan wajah jengkel.
"Itu punyaku! Aku yang menjaganya selama berbulan-bulan!"
"Tidak, pokoknya ini punyaku sekarang!" melihat bocah laki-laki itu bersikeras, Clarissa mengambil ancang-ancang dan melompat tepat ke atas kepala bocah itu, membuat mereka berdua jatuh ke dalam air.
"Kakak!" Koillei berteriak memanggil Clarissa, tak menyangka ia akan melompat begitu saja.
"Haha! Aku mendapatkannya, Koillei!" Clarissa muncul ke permukaan dengan mengangkat apel ke atas kepalanya.
Koillei pun mengedipkan matanya beberapa kali, "Ka-kalau begitu, kembalilah kak!" teriaknya.
Clarissa juga berkedip dan tampak kebingungan, "A-aku tidak bisa berenang.." ucapnya dengan pelan.
Tak berselang lama, "Puah.." bocah berambut pirang muncul ke permukaan air dan melihat Clarissa yang diam membatu tanpa bergerak sedikitpun.
"Hm? Hahahaha! Kenapa kau diam?" ia tertawa melihat wajah Clarissa yang ketakutan dengan tubuh yang bergetar.
"Diamlah!" Clarissa berteriak kesal.
Bocah laki-laki itu bergerak mendekati Clarissa, "Kau tak bisa berenang? Padahal di sini tidak terlalu dalam, bahkan aku masih dapat berdiri di sini." ucapnya dengan nada mengejek.
"Cih.." Clarissa mendecih kesal. Benar memang kakinya dapat menyentuh dasar sungai, tapi dia harus berjinjit agar kepalanya tidak tenggelam dan sangat sulit untuk bergerak dalam posisi seperti itu, bahkan untuk berdiri diam saja dia sudah sangat berusaha.
"Apa perlu ku bantu?" bocah laki-laki itu menawarkan bantuan, tapi Clarissa memalingkan wajahnya, harga dirinya menolak untuk menerima tawaran itu.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba tangan seseorang melingkar di perut Clarissa, mengejutkan gadis itu, "Apa yang kau lakukan?!"
"Diamlah! Aku akan membawamu ke daratan!" bocah itu perlahan mengangkat tubuh Clarissa yang beratnya berkurang drastis karena ia berada di dalam air.
"Hey.." Clarissa merasa takut saat kakinya tidak lagi menyentuh dasar sungai.
Clarissa juga beberapa kali tersentak karena kakinya menyentuh benda-benda yang terbawa arus air, "Jangan banyak bergerak atau kita berdua akan hanyut terbawa arus!" teriak bocah laki-laki tersebut pada Clarissa yang langsung membuat Clarissa takut untuk menggerakkan tubuhnya.
"Ce-cepatlah.." ucap Clarissa dengan suara kecil, ia malu Koillei mendengarnya berbicara dengan nada memohon.
"Kak! Bertahanlah!" Koillei menyemangatinya dari pinggir sungai dan membuat Clarissa malu.
Tak berselang lama, kedalaman air berkurang yang artinya keduanya sudah berada di pinggiran sungai, "Bersabarlah.. Hey!" Clarissa memberontak dan melepaskan dirinya dari pelukan bocah laki-laki itu dan berjalan sendiri ke pinggiran sungai.
"Ayo Koillei, kita segera kembali!" ucapnya sebelum menarik tangan Koillei.
"Tunggu dulu! Setidaknya katakan terimakasih! Aku yang telah membawamu ke darat dan juga mengambil apel itu dan kehilangan bajuku karenanya." ucapnya
Tanpa menatap bocah itu Clarissa menjawab, "Aku tidak sudi! Ayo Koillei!" Clarissa pun pergi bersama Koillei dengan menarik lengannya.
Setelah berjalan beberapa langkah Koillei memberanikan diri untuk angkat bicara tentang perilaku Clarissa pada bocah tadi, "K-kak, apakah tak apa untuk bersikap se-seperti itu?"
Clarissa pun menghentikan langkahnya karena ucapan Koillei itu, ia berbalik badan dan mengetuk kening Koillei dengan jarinya beberapa kali, "Dengar ya.. Benar dia telah membantuku, tapi dia itu tidak sopan padaku. Untuk apa aku bersikap sopan padanya?"
Clarissa mengelus dagunya, merasa Koillei ada benarnya, "Itu sudah terjadi, mari kita lupakan saja.." ujarnya.
"Tapi.." Koillei ingin menyahut lagi, tapi Clarissa yang kesal langsung menutup bibir anak elf itu dengan jari telunjuknya.
Gadis itu menunjukkan wajah kesal karena jengkel pada sifat lembek dan tak enakan dari Koillei, "Jika kau begitu ingin untuk berterimakasih padanya, pergi sana dan katakan terimakasih padanya!" bentaknya kesal.
Bentakannya membuat Koillei takut dan menundukkan kepalanya, "Ba-baik.." jawabnya setengah berbisik. Clarissa pun menghela nafas panjang.
"Koi akan pergi ke kakak di sana untuk berterimakasih.." lanjut Koillei yang membuat Clarissa tersentak kaget.
"Kau serius?!" tanyanya dengan nada tinggi dan di balas anggukan oleh Koillei.
Clarissa melipat tangannya di depan dada sambil mengetuk tanah dengan kakinya, "Pergilah! Aku akan menunggu di sini.. Tapi jangan berlama-lama dan jangan membawa namaku!"
Koillei mengangguk lagi disertai dengan senyuman tipis, "Ehn, ba-baiklah kak.." ia langsung berjalan kembali ke sungai.
Tampak bocah pirang itu duduk di atas sebuah batu sambil memandangi aliran air dengan wajah yang murung. Koillei pun langsung mendekatinya dan tanpa ragu memanggilnya, "Ha-halo.." Koillei memanggil bocah itu dengan nada yang lembut.
__ADS_1
Renungan bocah itu buyar seketika, dan ia langsung mengalihkan wajahnya pada Koillei, "Oh, kau yang tadi bersama si kepala ceri." bocah itu tampak tidak bersemangat saat melihat kehadiran Koillei, dibuktikan dengan ia langsung mengalihkan wajahnya dari Koillei dan kembali menatap aliran sungai.
Respons singkat itu cukup membuat hati Koillei menjadi tak enak dan ia merasa bersalah atas sikap kasar dari Clarissa tadi, "Maaf soal kak Clarissa tadi.." Koillei menyampaikannya sambil menundukkan tubuhnya, menunjukkan seberapa serius ia dalam meminta maaf.
Bocah itu terlihat tidak tertarik, "Sudahlah, aku sudah memaafkan nya. Sekarang, tolong pergi. Aku ingin sendiri."
"Uhm.." Koillei tampak bingung, anak laki-laki itu terlihat tidak memaafkan sikap Clarissa sebelumnya, dan hal itu akan terus menganggu pikirannya jika tidak diselesaikan.
Akhirnya terlintas sebuah ide di benak Koillei, ia meraba kantong celananya, "Kak.. Koi ingin kakak menerima ini sebagai permintaan maaf.." Koillei menyodorkan tangannya yang terdapat tiga buah koin perak.
Bocah laki-laki itu tertarik dan melihat apa yang Koillei berikan, "30 Crown? Untukku?" ia melihat tiga buah koin perak dengan angka 10C pada masing-masing koin.
"Ehm, ini jajan Koi hari ini. Tapi sekarang ini punyamu.." jawabnya dengan senyuman.
Dengan mata berbinar-binar bocah berambut pirang itu melompat dari atas batu dan menghampiri Koillei, "30 Crown itu sama dengan uang jajan ku selama seminggu! Kau serius ingin memberiku semua?" ia bertanya tidak percaya.
Koillei pun mengangguk dengan cepat sebagai jawaban, "Iya, terimalah sebagai permintaan maaf dan terimakasih dari kakak Clarissa.." ucapnya setelah mengangguk.
Bocah laki-laki itu seperti melihat sosok malaikat yang baik hati dari diri Koillei karena kebaikannya sangat jarang ditemui, dan tanpa sadar ia menarik kedua lengan Koillei, "Maukah kau menikahi ku saat kita dewasa nanti?" ucapnya secara spontan.
Koillei berkedip beberapa kali dan menggeleng, tapi bocah laki-laki itu tidak jadi menelan kekecewaan karena jawaban Koillei, "Tidak bisa, Koi adalah laki-laki.."
"Benar.. Aku lupa.." bocah itu melepaskan kedua tangan Koillei dan menggaruk kepalanya.
"Baiklah, terimakasih banyak.. Koi? Atas uangnya, jika kita bertemu lagi nanti aku pasti akan mengembalikannya." lanjutnya sambil mengacungkan jempol pada Koillei.
"Ti-tidak perlu.. Aku memberikannya secara cuma-cuma." sahut Koillei.
"Tidak perlu? Kau tidak percaya aku akan mengembalikannya nanti?" bocah itu merasa telah diremehkan dan direndahkan.
Koillei merasa panik karena perubahan drastis di raut wajah anak laki-laki di hadapannya itu, "Bu-bukan begitu.. Koi pe-percaya! Ta-tapi.."
"Sudahlah! Aku pasti akan mengembalikannya saat kita bertemu lagi. Dan.. sampaikan pada si kepala ceri itu, jika kami bertemu lagi maka aku ingin bertarung dengannya!" tuturnya serius.
Koillei mengangguk, "Akan Koi sampaikan!" jawabnya cepat.
"Baiklah, terimakasih atas bantuannya.. Koi? Namaku Kyle!" dia menjulurkan tangan kanannya.
"Koillei." Koillei pun menangkap gerakan Kyle dan menjabat tangannya, dan menyaksikan senyuman lebar di wajah Kyle.
Perlahan hari yang cerah menjadi gelap dan hujan, Koillei berdiri sendirian di jalan sambil menatap lurus ke bawah dan bergumam, "Kembalilah hidup-hidup, Kyle.."
__ADS_1
...{ Arc 1 : Kesempatan Kedua, Tamat }...