
Menyadari potensi dalam diri Kyle, Hans ingin menawarkan sesuatu pada Kyle, "Aku punya hal yang menarik yang ingin ku katakan padamu, mungkin saja." ucap Hans yang membuat Kyle sedikit penasaran.
"Apa itu?"
Hans menyandarkan tubuhnya ke bangku taman dan tersenyum, "Kau memiliki potensi yang begitu tinggi, akan sia-sia jika kau berkembang tanpa arahan dan bantuan dari para saint dan penyihir di akademi sihir."
"Di samping itu, aku di beri hak untuk merekomendasikan satu calon murid baru untuk akademi. Kurasa kau cocok untuk menerimanya."
Kyle terkejut mendengarnya, "Aku? Kau serius?!" tanya Kyle untuk memastikan kembali.
Hans mengangguk masih dengan senyumannya, "Namun ada satu syarat." Hans berhenti dan menarik Kyle ke dekatnya kemudian merangkulnya.
"Jadilah saudaraku! Kurasa kita tidak berbeda jauh dan cocok menjadi teman, bukankah begitu?!"
Kyle pun tersenyum lebar, "Tentu saja! Aku tidak perlu khawatir jika memiliki saudara hebat seperti mu!" ujar Kyle dan mereka berdua saling merangkul bahu sambil tertawa lepas.
"Ayo pergi ke restoran termewah, aku akan traktir makan sepuasnya untuk merayakan persaudaraan kita!" ajak Hans dengan penuh semangat.
"Ayo! Makan roti saja belum cukup untuk membuatku kenyang." sahut Kyle.
Hans melepaskan rangkulannya dan berkata, "Tunggu sebentar.." ia berjalan ke arah Leine yang sedang menyendiri di taman seberang jalan.
"Leine.." panggilan dengan suara lirih Hans membuat Leine meliriknya.
Kyle yang melihat Hans dan Leine berdiri berhadap-hadapan satu sama lainnya baru menyadari bahwa Hans adalah pria yang tinggi. Terlihat saat ia berdiri bersama Leine yang tingginya kurang lebih sama dengan Kyle, dan tinggi Leine hanya setara dengan bahu Hans saja.
CUP
Hans menarik lembut kepala Leine dan mengecup keningnya. Leine yang tidak siap dan tidak menduga Hans mencium keningnya terkejut dan tertegun.
"Jaga dirimu, aku akan pergi ke restoran untuk makan-makan bersama saudaraku!" ucap Hans pada Leine yang masih membatu.
"Ayo Kyle! Tunjukkan jalan ke restoran termewah!" teriak Hans dengan semangat.
"Tadi itu tanggung sekali.. Kenapa tidak sekalian di bibir? Kalian kan sudah bersama cukup lama." ujar Kyle.
"Tidak, aku belum merasa pantas untuk melakukannya. Siapa tahu di masa depan aku mati dan meninggalkan Leine dalam keadaan tidak 'suci'." jawab Hans santai.
__ADS_1
Kyle menggaruk kepalanya dengan heran, "Itu hanya ciuman biasa saja... Tunggu, jangan bilang kalian belum pernah berciuman?"
Hans tersenyum tipis dan mengangguk ringan, "Aku tidak punya niat sejauh itu, niat ku hanya untuk mengurangi saingan berat di akademi. Kemudian setelah... Aku tidak ingin mengingatnya lagi tapi sejak kejadian itu aku hanya ingin melindunginya, tidak memikirkan hal yang terlalu romantis dan dalam di hubungan kami."
Ia melanjutkan, "Mungkin aku akan memikirkannya lagi setelah kami menikah." Hans memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya.
Hans masih melanjutkan, "Dan kurasa waktu itu akan datang dalam waktu yang sangat lama.. Leine tidak ingin menikah sebelum lulus sebagai kelas lima." ucap Hans.
"Sekarang senior Leine berada di kelas berapa?" tanya Kyle setelah mendengarkan Hans.
"Baik aku dan Leine masih di kelas tiga. Seharusnya kami bisa dipromosikan menjadi kelas empat dua tahun yang lalu.. Tapi Leine mengalami trauma hampir selama satu setengah tahun dan tidak bisa melakukan tugas dari akademi sehingga dia tidak bisa melakukan promosi."
Sambil berjalan mengikuti Kyle menuju restoran Hans lanjut bercerita, "Begitu juga dengan ku. Aku ingin bersama dengannya agar dia bisa melewati trauma nya. Aku bersyukur sekali dia dapat melawan konflik batinnya, walaupun dia berubah sangat banyak tapi dia tetaplah Leine."
Hans berhenti dan menepuk kepalanya beberapa kali, "Aku selalu saja keterusan saat berbicara tentang Leine. Ayo lupakan masalah ini, kita seharusnya bersenang-senang!"
Kyle diam-diam tersenyum. Dari mengenal Hans dia jadi mengetahui apa perbedaan suka dan cinta yang sebenarnya dan membuatnya kagum pada sifat Hans.
Dari cerita Hans tersirat bentuk cinta dari Hans sendiri yaitu penerimaan dan kehadiran, "Aku jadi berpikir.. Apakah perasaan ku pada Ceri selama ini hanya sebatas suka, apakah yang lebih dalam seperti sebuah cinta?" pikir Kyle.
"Apa mungkin itu benar-benar perasaan cinta dan aku ini tidak normal karena merasakan hal yang sama pada Koi?" Kyle menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan pikiran aneh terhadap dirinya sendiri.
"Ada apa Kyle?" tanya Hans yang melihat gelagat aneh Kyle.
"Ah tidak ada. Ngomong-ngomong restorannya sudah terlihat." jawab Kyle untuk mengubah topik pembicaraan.
Bangunan mewah tiga lantai terlihat diantara bangunan-bangunan yang lainnya. Beberapa bagian dindingnya terbuat dari kaca sehingga interior mewah dari restoran itu bisa dilihat dari luar.
"Hebat! Ayo cepat!" Hans mulai bersemangat dan berlari menuju restoran itu diikuti oleh Kyle dibelakangnya.
Lantai satu restoran sangat ramai dan hampir penuh. Setiap meja pasti ada pelanggan sehingga tidak mungkin untuk makan di sana.
"Tidak enak jika kita makan di tempat yang ramai. Seharusnya kita bisa menyewa ruangan pribadi." ucap Hans begitu masuk.
Ia pergi ke meja kasir dan Kyle masih mengikutinya dari belakang, "Apakah kami bisa menyewa ruang pribadi?" tanya Hans pada sang kasir.
"Tentu tuan. Anda bisa menyewa ruang pribadi selama 12 jam dengan 25 koin emas." ucap sang kasir
__ADS_1
"Kami tidak akan menghabiskan waktu dua belas jam. Bagaimana kami menyewa selama tiga jam untuk tujuh keping emas?" Hans berusaha berunding karena dia tidak mau menghabiskan emas untuk hal yang tidak perlu.
Kasir itu tertegun sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk, "Baiklah tuan." Hans juga tersenyum lebar dan mengeluarkan kantung kain dari sakunya dan mengambil tujuh keping koin emas dan memberikannya pada sang kasir.
Setelah menerima emas itu sang kasir menekan bel di dekat nya dan seorang pelayan datang, "Tolong antarkan tuan-tuan ini ke satu ruang pribadi kosong." ucapnya.
"Baik.. Mari tuan." pelayan itu langsung memimpin jalan.
"Wah, tempat ini mewah sekali. Ini pertama kalinya aku melihat dekorasi yang sangat mewah." gumam Kyle.
Ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam restoran termewah di Bembridge walaupun sejak kecil ia sudah tinggal di tempat ini.
"Silahkan tuan.." pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Baik terimakasih.." Hans tersenyum tipis dan masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Kyle.
"Tekan bel di meja anda untuk memanggil pelayan yang lain untuk mencatat pesanan anda. Saya pamit undur diri.." pelayan wanita itu membungukkan badannya dan menutup pintu.
"Sejak kapan?" setelah menutup pintu pelayan wanita itu menemukan sebuah koin emas di dalam saku pakaiannya.
"Bagaimana jika kita memesan semua menu yang tersedia dan berlomba siapa yang dapat menghabiskan lebih banyak." kata Hans sambil tersenyum lebar.
Kyle yang merasa tertantang langsung mengangguk setuju, "Baiklah, aku sudah sangat lapar!"
TING!
Hans membunyikan bel di tengah meja. Tak lama kemudian seorang pelayan pria datang, "Halo tuan, saya akan mencatat pesanan anda. Ini dia daftar menunya." ia meletakkan daftar menu ke atas meja.
"Tak perlu, bawakan semua makanan yang terdaftar di menu masing-masing satu porsi." ucap Hans santai.
Pelayan pria itu tertegun untuk mencerna ucapan Hans, "Maafkan pria tua ini tuan, saya tidak salah dengar, bukan?" tanyanya untuk memastikan.
"Benar, bawakan semua yang terdapat di menu."
"Ba-baiklah tuan! Tapi anda yakin? Kami memiliki 23 menu.." sang pelayan tampak meragukan ucapan Hans.
Hans menggaruk kepalanya, "Kami serius.." jawabnya dengan wajah serius. Sang pelayan tidak bertanya lagi dan langsung undur diri.
__ADS_1