
Kyle terus berlari tanpa berhenti, melewati rumah-rumah di pinggiran kota Bembridge. Jalan yang semula terbuat dari bebatuan sekarang menjadi jalanan tanah biasa.
Hujan yang tiba-tiba turun mengguyur tanah dan pelariannya dari kota tempatnya tumbuh, "Aku akan kembali hidup-hidup.." gumamnya.
Di sebuah persimpangan, Kyle terkejut melihat seseorang yang juga sedang berlari dan berbelok ke arahnya sehingga keduanya bertabrakan satu sama lain.
"Aduh, maaf sekali.." sosok itu terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Kyle jatuh terduduk.
"Ya.." Kyle mendongakkan wajahnya dan matanya terbelalak melihat telinga runcing dan wajah yang tak asing, begitu juga dengan orang yang ditatapnya itu.
"Koi.." batin Kyle. Tapi ia tidak perlu merasa takut, Koillei tidak mengetahui rencananya untuk pergi ke pulau itu, seharusnya.
"Kak Kyle? Kau ingin ke mana?" tanya Koillei setelah melihat mantel kulit dan ransel yang dikenakan oleh Kyle.
"Itu.. Aku ada pekerjaan di tambang hari ini.." jawab Kyle sambil tersenyum, tak ingin tampak berbohong di hadapan Koillei.
Koillei tertawa kecil, "Aku sudah tahu kak, kau ingin pergi bukan? Kak Clarissa pasti sudah melarangmu mati-matian." ujarnya dan membuat detak jantung Kyle berhenti sejenak.
Ekspresi di wajahnya pun berubah karena merasa telah tertangkap basah, "Koi tidak akan menghentikan mu kak." lanjutnya yang membuat Kyle menatap Koillei dengan bingung.
"Hah?"
Koillei mengangguk pelan, "Kak Clarissa menceritakan tentang ketertarikan mu pada sebuah pulau yang ia katakan sangat berbahaya. Aku tahu, ada suatu hal yang penting yang harus kau lakukan di sana. Jadi.. Aku tidak akan menghentikan mu." ucapnya setelah itu tersenyum penuh makna.
Kyle kembali berdiri dan menatap wajah Koillei dengan lekat, "Terimakasih telah mempercayai ku.." bisik Kyle.
"Aku selalu percaya pada kakak..." Koillei berjalan melewati Kyle setelah mengucapkan kalimat itu.
Tapi Kyle menarik tangannya, "Tunggu.." ucap Kyle yang menghentikan langkah Koillei.
"Katakan pada ayah ku, aku akan kembali dalam beberapa bulan lagi dengan tubuh utuh..."
"Dan.. Sampaikan terimakasih ku pada Clarissa karena telah mengkhawatirkan ku. Dan, Koillei.. Jika aku tak kembali, berjanjilah kalian akan selamanya bahagia.." setelah mengatakan itu Kyle kembali berlari ke arah yang ia tuju sebelumnya.
Koillei terdiam di tempat setelah mendengar kalimat terakhir Kyle, ia berdiri dengan tangan yang bergetar. Diiringi dengan rintik hujan, Koillei mengalirkan air mata dan menangis dalam keheningan, di jalan pinggir kota Bembridge yang sepi tanpa pejalan. Koillei mengusap kedua matanya dan menatap telapak tangannya.
"Kenapa kau menangis?! Cepat bangun dan lawan aku!" Koillei yang terduduk di tengah lapangan sambil menangis memberanikan dirinya untuk menatap wajah gadis yang meneriakinya.
Dengan tatapan jengkel gadis berambut merah itu menarik kerah pakaian Koillei dan memaksanya berdiri, "Kau itu laki-laki, apakah menangis salah satu teknik mempertahankan diri?!" tanyanya dengan lantang.
Gadis itu mengambil sebuah pedang kayu kecil yang tergeletak di tanah dan menyodorkannya pada Koillei, "Cepat! Ayah ku mengatakan kau akan menjadi pengawal pribadi ku, jadi kau harusnya lebih kuat dari ku agar dapat melindungi ku." ujar gadis itu sambil membangun kuda-kuda.
__ADS_1
Koillei menatap sang gadis dengan sedikit takut, namun hatinya menggerakkan tubuhnya untuk melakukan kuda-kuda yang telah ia pelajari dari ayahnya.
Melihat Koillei bergerak membangun kuda-kuda; "Clarissa, siap untuk ronde kedua!" teriak gadis itu dengan lantang setelah memantapkan kuda-kudanya.
"Ko-koi-koillei, si-siap untuk ron-ronde kedua.." ucap Koillei dengan terbata-bata.
Seorang pelatih pasukan yang bertugas untuk mengawasi latih tanding Koillei dan Clarissa mengangguk, "Baik! Ronde kedua... Mulai!"
"Aahhh!" Clarissa berteriak dan mendorong tubuhnya maju, menerjang Koillei.
Koillei tampak ragu tapi ia tidak ingin di hantam dengan kayu secara cuma-cuma oleh Clarissa, jadi ia juga menerjang maju.
TAK!
Beberapa jam kemudian, "Ronde 13 berakhir. Clarissa berhasil mengenai lawan sebanyak 17 kali, 10 kali di tangan, 4 kali di badan bagian atas, dan 3 kali di badan bagian bawah."
"Koillei berhasil mengenai lawan sebanyak 22 kali, 12 kali di tangan, 8 kali di badan bagian atas, dan 2 kali di badan bagian bawah. Poin untuk Clarissa adalah 27, dan Koillei 34 poin. Pemenang ronde 13 adalah Koillei." pelatih pasukan membacakan hasil pertandingan ketiga belas mereka.
Clarissa mengusap keringat di dahinya dan bertanya, "Jadi berapa total poin kami?" sang pelatih mengelus kumisnya sambil menghitung.
"Clarissa, total poin 426. Koillei, total poin 428." mendengar itu sebuah senyum merekah di wajah Clarissa.
Ia mengalihkan pandangannya pada Koillei yang menatap lurus ke arah pelatih, "Hebat! Gerakan mu tadi sangat cepat, tak heran sangat sulit bagiku untuk mengenaimu!" Clarissa menepuk punggung Koillei sambil memujinya.
Clarissa berhenti menepuk punggung Koillei dan terdiam sejenak, tapi sesaat kemudian ia tersenyum lebar, "Karena kau telah menang, maka aku akan memberi mu hadiah! Ayo ikut aku!" ia menarik tangan Koillei tanpa aba-aba.
"Aw!" Koillei meringis, tangannya serasa terputus karena tarikan itu.
"Nona anda ingin pergi ke mana?!" sang pelatih berteriak terkejut melihat Clarissa yang sudah jauh dari penglihatan matanya, padahal ia baru mengalihkan pandangannya sejenak.
"Tak jauh! Jangan khawatir!" teriak Clarissa dengan suara yang sayup-sayup.
"K-kak.. Kau ingin me-membawa aku ke mana?" Koillei merasa sedikit takut saat mereka sudah keluar dari kawasan pemukiman kota.
"Tenang saja!" sahut Clarissa.
Koillei dan Clarissa melewati tanah kosong yang dulunya hutan dan setelah itu benar-benar masuk ke dalam hutan.
"K-kak? Ke-kenapa kita ke hutan?" tanya Koillei mulai ketakutan.
Tiadanya tanggapan dari Clarissa membuat Koillei tambah takut dan gelisah, "K-kak, a-aku ingin pu-pulang saja.." ucap Koillei.
__ADS_1
"Hey, jangan jadi penakut. Tak ada apa-apa di hutan.." tepat setelah mengatakan itu, mereka berdua berhenti di depan sebuah sungai.
Clarissa menunjuk sesuatu, "Itu dia! Ayo ke sana!" ajaknya dengan semangat dan menarik tangan Koillei dengan paksa.
"Po-pohon?" batin Koillei kebingungan, menatap pohon rindang yang tumbuh di pinggir sungai.
"Ini merupakan pohon apel, tunggu sebentar!" Clarissa melepaskan cengkeramannya pada tangan Koillei, kemudian melepas sepatu yang ia kenakan.
"Awasi sekitar, jangan biarkan orang lain melihat!" perintah gadis itu pada Koillei.
"Ba-baik.." jawab Koillei tanpa sadar.
Clarissa pun tersenyum, ia mulai memanjat pohon tersebut dengan lincah, setelah berada di atas Clarissa berteriak pada Koillei, "Tidak ada orang kan?" tanyanya memastikan.
Koillei menatap ke sekelilingnya dan menggeleng, "Ti-tidak ada.."
"Baiklah.. Tadaa!" Clarissa muncul dari rerimbunan daun dengan sebuah apel sebesar kepalanya.
Melihat apel sebesar itu, Koillei tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Besar sekali.." gumamnya tak percaya.
"Hehehe! Aku menemukan buah ini beberapa bulan yang lalu, kukira aku bisa menunggunya agar bertumbuh lebih besar lagi dan ternyata buahnya benar-benar bertambah besar!" ucapnya dengan penuh semangat, karena dirinya pun tak menyangka buah apel itu dapat tumbuh begitu besar.
"Sekarang bagaimana caranya aku turun?" Clarissa berhenti tertawa dan menatap ke bawah pohon. Tidak mungkin baginya untuk melompat ke bawah begitu saja.
Jika menyuruh Koillei yang menangkapnya lebih mustahil lagi, bukan hanya dirinya yang terluka, Koillei yang lebih kecil darinya bisa-bisa mengalami patah tulang yang parah.
SWUUSSHH
Angin tiba-tiba bertiup kencang, menerbangkan seekor serangga halus ke dalam mata Clarissa, "Aduh!" dengan refleks Clarissa mengusap matanya, sehingga ia hanya memegang apel itu dengan satu tangannya, akibatnya keseimbangan Clarissa terganggu, "Eh, eh, eh!"
Mau tak mau Clarissa harus melepas apel tersebut agar tidak terjatuh, "Koi tangkap!" teriaknya dengan cepat.
Koillei berusaha menangkap apel yang jatuh, namun ia tidak sempat dan apel sebesar kepala itu menggelinding ke arah sungai, "Tidak!" Clarissa dengan secepat mungkin turun dan mengejar apel itu, mengikuti Koillei yang telah mengejar duluan.
BYURR!
Koillei langsung berhenti saat apel tersebut meluncur ke air dan terbawa arus, "Apa yang ter- Tidak!" belum sempat menarik nafas Clarissa lagi-lagi dibuat panik saat melihat buah tersebut terbawa arus.
Ia langsung berlari kembali, mengejarnya dari pinggir sungai, "Tu-tunggu kak!" diikuti oleh Koillei di belakangnya.
Di aliran sungai yang lain, seorang bocah laki-laki sedang berendam di sungai sambil mengucek pakaiannya yang kotor, "Itu dia kejar!" sebuah teriakan anak-anak membuat perhatian nya teralihkan, bahkan ia tidak menghiraukan sesuatu yang menabrak lengannya.
__ADS_1
"Siapa mereka?" bocah itu melihat dua orang gadis yang berlari ke arahnya di pinggir sungai.