
Perpustakaan pribadi keluarga Beckman terlihat sangat sepi, karena hanya beberapa orang saja yang diperbolehkan masuk ke dalam sana.
Sebenarnya Kyle bukan salah satu dari orang-orang yang diperbolehkan masuk ke perpustakaan, tapi ia pikir mungkin Magouse akan mengizinkannya masuk ke sana sehingga Kyle merubah arahnya menuju ruangan kerja Magouse.
Di tengah perjalanan Kyle tiba-tiba menepuk keningnya, "Aku lupa.. Tuan kota seharusnya berada di ruang pertemuan... Jika aku kesana maka aku akan mendengar ia mengeluh seperti yang Ceri katakan."
Kyle merubah arahnya kembali ke perpustakaan, "Seingat ku perpustakaan tidak dijaga oleh penjaga. Aku hanya perlu satu buku saja setelah itu pergi, hanya perlu memastikan tidak ada yang melihatku kesana." pikirnya.
Ia berjalan dengan hati-hati dan waspada terhadap sekitarnya, takut bertemu seseorang dijalan. Tapi tampaknya Kyle dapat berjalan dengan santai dan tiba di depan pintu perpustakaan tanpa bertemu seseorang.
"Baiklah..." Kyle mendorong perlahan pintu itu, berusaha agar tidak menghasilkan suara deritan.
NGREEKK...
Kyle berhenti mendorong pintu dan menatap ke sekelilingnya. Ia menghembuskan nafas lega karena tak ada seorangpun di sana, kemudian ia melanjutkan mendorong pintu dengan lebih berhati-hati.
Yakin tubuhnya cukup untuk memasuki celah pintu, Kyle pun berhenti mendorong dan masuk ke dalam perpustakaan, "Oke! Sekarang.." Kyle baru saja merasa bersemangat ketika ia tiba-tiba terdiam.
"Bagaimana aku bisa menemukannya?" tanyanya pada diri sendiri.
Di hadapan Kyle saat ini adalah sebuah ruangan besar dengan belasan rak buku panjang yang berisi ribuan buku yang sampulnya tampak mirip satu sama lain.
Ada puluhan ribu buku dalam perpustakaan itu ia tak tahu mana buku yang berisi informasi yang ia inginkan. Bahkan Kyle sendiri tidak tahu apakah buku tersebut benar-benar ada di sini.
"Hm?" setelah terdiam selama beberapa detik perhatian Kyle teralihkan pada sebuah rak kecil dengan sebuah buku tebal, alat tulis, dan juga kacamata untuk membaca.
Ia mendekati rak itu dan memperhatikan ketiga benda itu dengan seksama, "Sepertinya hanya benda biasa. Tapi kira-kira apa isi dari buku ini?" Kyle mengambil buku tebal itu dan membuka halaman pertama.
Tertulis beberapa hal di halaman tersebut, "Ternyata buku ini berisi koleksi buku di sini." Kyle menyibak halaman demi halaman hingga ia berada di halaman terakhir yang tampak seperti sebuah peta.
"Aerio - Timur Laut.. Ah ini peta bagian yimur laut. Kerajaan kami terletak di bagian ini, dekat dengan laut. Ceri mengatakan bahwa pulau itu masih satu musim dengan kerajaan ini dan juga bagian timur laut, yang berarti pulau itu juga digambar di dalam peta."
__ADS_1
Kyle mengangguk-angguk sendiri, merasa apa yang ia pikirkan masuk akal. Ia pun mencari dengan seksama pada peta itu, melihat puluhan pulau yang berada dekat dengan timur laut Aerio.
Pemuda itu menggaruk rambutnya, "Ada terlalu banyak pulau.. Apakah pulau yang berbentuk bulan sabit ini?" Kyle memperhatikan ada sebuah pulau kecil di bagian dalam pulau berbentuk seperti sabit tersebut.
Namun sayangnya nama pulau tersebut tidak ditulis pada peta. Kyle pun menutup buku itu dengan perasaan gusar, "Koi pasti mengetahui tentang pulau itu..." perasaan gusar Kyle menghilang karena ia mendapat harapan terakhir, yaitu Koillei.
Dengan bersemangat Kyle mulai melangkah dan keluar dari celah pintu, "Aahh!" tapi saat melewati celah ia menabrak seseorang yang juga sedang melewati celah tersebut.
"A-aduh!" Kyle terdorong sedikit sedangkan orang yang menabraknya terdorong keluar dan jatuh ke lantai.
Kyle buru-buru keluar, "Maaf.." ia membantu orang itu berdiri, "Ya.. Tak apa-apa." gadis berpakaian pelayan itu berdiri sambil memperbaiki kacamatanya.
"A-ah.. Anda adalah temannya nona Clarissa.." ucapnya mengenali Kyle. Kyle pun mengangguk.
Ia menoleh ke arah belakang Kyle, "Apa yang anda lakukan di perpustakaan? Apakah tuan kota sudah memberikan izin pada anda untuk masuk ke sana?" tanyanya.
"Em.." Kyle terdiam selama beberapa saat. Dia lupa bahwa gadis bernama Hexa sesekali akan masuk perpustakaan untuk memeriksa kondisi buku walaupun tidak menyeluruh.
"Anda mengenal saya?" Hexa melebarkan matanya sedikit karena terkejut Kyle mengetahui namanya dan pekerjaannya, padahal ia tak mengingat pernah berbincang atau bertemu dengan Kyle secara langsung.
Reaksi Hexa tersebut membuat Kyle sedikit tersenyum dan melanjutkan, "Ceri dan Koi dulu bercerita tentang mu yang selalu berada di perpustakaan untuk membaca buku dan tidak ingin bermain dengan anak-anak lain."
Rona merah muncul di pipi Hexa karena malu, "I-itu ti-tidak benar.. Saya ha-hanya menghabiskan waktu selama ibu bekerja di perpustakaan.." kilahnya.
Kyle tersenyum karena merasa sedikit bersalah membuat Hexa malu, "Maaf soal itu, tapi bisakah kau menolongku.." Kyle langsung mengutarakan keinginannya karena ia tahu Hexa adalah orang yang sudah sangat mengenal buku-buku di perpustakaan itu, mungkin saja ia mengetahui tentang pulau yang dihuni oleh banyak binatang sihir yang sedang ia cari.
"Eng? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Hexa dengan raut wajah yang sudah kembali seperti semula.
"Ini.. Apakah kau mengetahui tentang pulau yang dihuni oleh banyak binatang sihir?" tanya Kyle langsung pada intinya.
"Oh.. Saya ingat ada pulau yang seperti itu. Tapi saya sudah lupa dengan namanya." jawab Hexa.
__ADS_1
"Benarkah? Apakah kau mengetahui hal lainnya dari pulau itu, kecuali namanya. Mungkin letaknya atau bentuknya?" Kyle bertanya kembali dengan penuh semangat.
"Tu-tunggu tuan.. Tapi untuk apa anda bertanya tentang pulau itu? Pulau itu sangat berbahaya. Seingatku juga ada ras manusia bertubuh besar yang menghuni pulau itu selain para binatang buas." pinta Hexa.
"Ada sesuatu yang kuinginkan di pulau itu.. Itu tidak penting sekarang.. Bisakah kau memberitahuku lebih banyak tentang pulau itu?" Hexa mengangguk ringan setelah Kyle mengajukan pertanyaan kembali.
"Ma-maaf.. Ta-tapi bisakah anda menolong saya sebagai gantinya?" tanya Hexa dengan ragu.
Kyle tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja, katakan apa itu?"
Hexa terdiam, tampak begitu sulit baginya untuk mengatakannya, "Na-nanti saja setelah pekerjaan sa-saya selesai." ucapnya dengan gugup.
Senyuman di wajah Kyle menghilang, "Hey, tak perlu berbicara formal denganku.."
"Bu-bukan begitu tu-tuan.." Hexa menundukkan kepalanya.
Gadis itu mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi kacamatanya lagi, "Ba-baik.. A-aku tidak terlalu mengingat tentang pulau itu. Tapi ada satu buku yang secara spesifik menjelaskan tentang kondisi pulau tersebut. D-dan.. Aku lupa letak buku tersebut ada dimana, na-namun ak-aku mengingat judulnya." ucap Hexa dengan cara bicara yang lebih santai tapi terbata-bata.
"Mungkin akan butuh waktu untuk mencari buku itu." lanjut Hexa.
Kyle pun mengangguk, "Maaf merepotkan mu Hexa, bisakah kau mencari buku itu untukku?"
Gadis itu tersenyum tipis, "Ten-tentu, tapi tidak hari ini karena ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Besok adalah hari libur ku.. Ya, a-aku akan mencarinya besok!" jawabnya.
"Baik! Terimakasih Hexa! Dimana aku bisa menemukan mu besok?" tanya Kyle penuh energi.
"Em, ada sebuah kedai teh di dekat penginapan Tron's. A-aku akan menunggu an- maksudnya kamu di sana." ucap Hexa.
"Jika begitu, sampai bertemu besok!" Kyle berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pada Hexa.
"Eh?" Hexa mengangkat tangannya sedikit, bingung apakah ia harus melambai balik pada Kyle.
__ADS_1
Setelah Kyle berjalan cukup jauh dari Hexa ia mulai berpikir tentang sikap canggung Hexa saat berbicara, "Kenapa dia terbata-bata begitu saat berbicara normal? Apakah dia tidak pernah berbicara dengan santai orang lain?"