Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 21 - Perdebatan Hening


__ADS_3

Kyle kembali menghirup nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan untuk menurunkan rasa jengkelnya terhadap Achille.


"Ikuti aku.. Hanya ada satu cara untuk membuktikan kelayakan mu di kelompok ini." ucap Achille setelah menyarungkan pedang pendeknya, kemudian melangkahkan kakinya.


Tanpa mengatakan apapun Kyle mengikuti Achille, "Bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Achille padanya di tengah jalan.


"Tanyakan saja, tidak perlu merasa sungkan."


"Baik.. Aku hanya ingin mengetahui apakah kau mampu menggunakan alat sihir?"


"Alat sihir?"


Alat sihir merupakan sebuah alat yang sudah dikembangkan sejak dahulu kala saat perang di Aerio berkecambah, walau sekarang fungsinya bukan hanya untuk berperang, hanya saja alat sihir merupakan salah satu elemen paling penting dalam kehidupan penduduk Aerio.


Dalam arti kata, alat sihir merupakan suatu bagian dari kehidupan di Aerio yang tak dapat terpisahkan. Bahkan semenjak dahulu kala, jauh sebelum peperangan di Aerio alat sihir sudah digunakan untuk melakukan perburuan, meskipun bentuk dan mekanisme nya masih terlalu sederhana namun cukup membuktikan seberapa fatalnya alat sihir bagi kehidupan di Aerio.


Sekarang sudah sangat banyak jenis dan kegunaan dari alat sihir, dan setiap alat sihir dibandrol dengan harga yang begitu tinggi membuat orang-orang yang tidak mampu sudah pasti tidak memiliki nya, sehingga jawaban Kyle adalah, "Tidak bisa."


Achille pun mengelus dagunya, "Yah.. Sayangnya kau tidak bisa membantu dalam perburuan.." ulasnya seolah-olah kecewa, padahal ada nada mengejek serta merendahkan di dalamnya.


"Tidak berguna?" Kyle punya kekuatan fisik yang mumpuni bahkan masih bisa diperkuat dengan mengalirkan mananya, bagaimana bisa ia dikatakan lemah?


"Tenang saja, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan untuk membantu kelompok jika tidak bisa ikut berburu. Salah satunya adalah membongkar perkemahan dan membawa barang." ucap Achille.


"Tidak, maksudku aku ini cukup kuat dan dapat bertar-"


"Tunggu Kyle.. Bertarung dengan beberapa petani di kampung itu berbeda dengan bertarung melawan binatang sihir. Mereka sangat kuat, ada yang bisa melempar duri-duri es, menghembuskan api, dan menyambarkan kilat. Sangat berbeda dari petani atau hewan-hewan biasa."


KRETEK..


Achille menolehkan pandangannya pada Kyle karena mendengar suara retakan tulang dari belakangnya, "Ada apa?" tanya Achille pada Kyle yang sedang menatapnya dengan geram.


"Achille?"


Uap di tangan kanan Kyle yang baru saja keluar langsung menghilang begitu ia mendengar suara lemah dari seorang gadis yang memanggil nama Achille.


Achille menolehkan wajahnya pada seseorang yang berdiri di depan tenda di sampingnya, "Oh, aku lupa ini adalah tenda mu.. Maaf jika istirahatmu terganggu.."


Kemudian ia menghampiri gadis itu dan menepuk kepalanya dengan lembut, "Tak apa.. Aku hanya penasaran Achille sedang berbicara dengan siapa..." jawab sang gadis dengan nada yang lemah diiringi senyuman tipis.


"Ya, ada anggota baru! Sekarang istirahat dengan baik, tidak perlu memikirkan apapun.." terlihat sekali Achille sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu.


Dari yang Kyle lihat, gadis itu sedang sakit karena kulitnya yang pucat dan bibir yang agak membiru dan ia mengenakan pakaian beserta mantel yang begitu tebal di tempat yang tidak terlalu dingin.

__ADS_1


"Sudah, sampai di mana tadi?" setelah menyuruh gadis itu masuk Achille kembali pada Kyle.


"Hey Orlan!" perhatian Achille teralihkan kembali pada seorang pria berkumis dengan kacamata bulat tebal yang membawa sebuah wadah kayu.


"Hai Achille.." sapanya singkat kemudian ia buru-buru masuk ke dalam tenda gadis yang sakit sebelumnya.


Achille menatap pria bernama Orlan yang masuk ke dalam tenda, kemudian menghembuskan nafasnya dan menggeleng pelan.


Ekspresi Achille terlihat sedih dan menyesal bercampur aduk hingga muncul banyak kerutan di wajahnya yang tampan.


"Ikuti aku.." ucap Achille tanpa menolehkan wajahnya pada Kyle.


Entah kenapa aura yang tadinya sangat menjengkelkan bagi Kyle berubah menjadi memprihatinkan, "Apakah ada suatu musibah yang baru saja terjadi di kelompok ini?" batin Kyle.


Setelah melihat gadis sakit berkulit pucat, kemudian pria bernama Orlan yang tampak buru-buru dan panik, dan wajah Achille yang sebelumnya sangat sombong dan sok berkuasa berubah menjadi wajah kesedihan serta penyesalan Kyle menjadi bertanya-tanya.


"Soal pekerjaan mu Kyle, aku akan menyerahkannya pada pria berbadan besar itu." Achille berhenti dan menunjuk seorang pria bertubuh besar yang membawa pedang yang bahkan lebih besar dari tubuhnya.


Dia tersenyum tipis, "Selamat bergabung.. Maaf jika aku bersikap menjengkelkan tadi.." setelah mengucapkan itu Achille berbalik arah ke tempat mereka bertemu Orlan tadi.


"Baik terimakasih."


Kyle berjalan mendekati pria dengan pedang besar yang dikelilingi oleh beberapa orang lainnya.


"Tenanglah Sanny, dia datang dengan Achille tadi." pria dengan pedang besar menenangkan Sanny.


"Ehn?" wanita berambut pendek tersebut mengganti pandang antara Kyle dan sang pria dengan pedang besar.


"Jadi kau adalah anggota baru. Sebutkan namamu dan keahlian mu." ucapnya tanpa basa-basi.


Seperti yang sudah dijelaskan oleh Achille bahwa kelompok petualang membutuhkan orang yang memiliki keahlian dan dapat mempertahankan dirinya sendiri semisal ada bahaya yang dapat mengancam nyawa setiap orang di kelompok, maka dari itu tak heran hal yang paling penting ditanyakan adalah keahlian agar kelompok dapat mengatur anggotanya untuk tugas yang sesuai dan tidak akan beresiko penuh pada anggota.


"Namaku Kyle.. Err.." Kyle berhenti untuk memikirkan apa keahliannya, ia sempat memikirkan menambang dan memancing tapi merasa keahlian semacam itu tidak dibutuhkan dalam kelompok petualang.


"Keahlian ku bertarung.." ucapnya setelah berpikir beberapa detik.


Pria berpedang besar menaikkan alisnya, "Bertarung? Kau bertarung dengan sihir, alat sihir, atau sebuah senjata?" tanyanya meragukan ucapan Kyle.


"Tidak, aku bertarung dengan tangan kosong." jawab Kyle.


"Tapi aku tidak mengetahui cara memukul dengan benar.." lanjut Kyle di dalam hatinya.


Kyle tak pernah belajar bertarung seumur hidupnya. Memang dirinya pernah melihat Clarissa dan Koillei berlatih, tapi ia tidak menyimak mereka dengan baik karena merasa akan sia-sia melakukannya karena kondisinya yang tak akan pernah bisa bertambah kuat mau sekeras apa ia berlatih.

__ADS_1


Namun kondisinya sekarang sudah berubah, ia dapat meningkatkan kekuatannya dan ilmu bertarung apapun pasti akan berguna untuknya agar bisa terus bertumbuh. Akan tetapi waktunya begitu rapat sekarang, jika saja Kyle diberikan waktu tiga tahun untuk maka dirinya yakin bisa menjadi seorang petarung yang ahli.


"Tangan kosong? Kamu? Tubuhmu terlihat begitu lemah." sahut pria itu yang masih meragukan ucapan Kyle.


Wajar saja ia menilai begitu, karena memang faktanya Kyle terlihat seperti pemuda lemah akibat tubuh kurus yang ia miliki. Tapi berotot atau tidaknya seseorang bukanlah penentu seberapa kuat fisiknya jika dilihat dari kasus yang terjadi pada Kyle.


"Aku lupa soal itu.. Tubuh kurus ini benar-benar membuatku diremehkan oleh orang lain.." batin Kyle kesal.


Dulu sebelum menerima kristal yang dipasang di jantungnya, Kyle memiliki tubuh yang lumayan berotot. Terutama lengan dan bahunya akibat pekerjaan beratnya di tambang yang mengutamakan kekuatan tubuh.


"Percayalah, aku tidak selemah itu." ucap Kyle berusaha meyakinkannya.


"Begitu.." pria itu menatap ke salah satu pria yang jangkung yang hanya menyaksikan dari tadi seolah memberi sebuah isyarat.


Mengerti dengan maksudnya, pria itu memberi isyarat pada Kyle untuk mengikuti Kyle dengan gerakan kepalanya.


Tidak bertanya apapun Kyle berjalan mengikuti pria jangkung itu, namun mulutnya terasa gatal untuk tidak bertanya; "Kita akan pergi ke mana?"


Tapi pria itu tidak merespons pertanyaan Kyle, sepertinya ia tidak mendengar Kyle, "Halo? Maaf?"


Kyle mencoba memanggilnya beberapa kali, tapi pria itu seolah tidak mendengarnya sama sekali.


Kebetulan ada seorang gadis yang menyaksikan usaha Kyle untuk memanggil pria jangkung itu. Ia pun langsung menghampiri Kyle.


"Maaf.. Ahli alat sihir kami tidak dapat mendengar sejak lahir." gadis itu memberitahu.


"Pantas saja.." Kyle menggaruk kepalanya karena merasa dirinya bodoh karena sedari tadi tidak menyadarinya.


Sebelum berbincang lebih lanjut sang gadis mengejar pria sang ahli alat sihir yang sudah berjalan duluan dan menepuk bahunya kemudian berbicara menggunakan bahasa isyarat dengannya, "Ayo ikut.. Dia mengatakan ada pekerjaan yang cocok untukmu." ucapnya mengartikan apa yang ia bicarakan sebelumnya.


Kyle mengangguk mengerti, "Kau adalah anggota baru ya? Aku belum pernah sekalipun melihatmu.." tanya gadis tersebut.


"Benar.. Aku baru bergabung beberapa menit yang lalu." jawab Kyle sambil tersenyum tipis.


"Begitu! Siapa namamu? Darimana asal mu? Berapa usiamu? Apakah kau sudah menik-" Kyle pura-pura batuk saat sang gadis dengan tak tau sopan santun mengajukan pertanyaan bertubi-tubi padanya.


"Ha-haha-ha.. maaf maaf. Sudah begitu lama semenjak kelompok kami mendapatkan anggota baru. Jadi aku merasa bersemangat.." sambil mengusap rambutnya ia meminta maaf.


Pria tunarungu yang memimpin jalan mengucapkan sesuatu lewat bahasa isyarat sambil berjalan mundur, "Apa?! Apakah salah jika aku bersikap bersemangat begitu?!" teriaknya.


Tapi ia lupa bahwa pria itu tidak dapat mendengarnya sehingga ia menggaruk kepalanya dengan malu sebelum mengekspresikan kekesalannya lewat bahasa isyarat.


Pada akhirnya Kyle menyaksikan bagaimana perdebatan bisu terjadi, dan dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


__ADS_2