Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 4 - Utusan Akademi


__ADS_3

Sangat mudah bagi Kyle untuk mengalahkan dua pembunuh itu dengan mematahkan tulang-tulang di tubuh mereka menggunakan tangannya.


Setelah semua pembunuh terkapar tak bernyawa, Clarissa menghampiri Kyle, "Kyle... Apa yang terjadi padamu?" Clarissa bertanya sembari menahan sakit di perutnya.


Koillei juga mendatangi Kyle dengan wajah khawatir, "Ya, aku juga terkejut melihat kondisi mu saat ini.." tanyanya dengan sedikit rasa penasaran, tapi tetap saja ia khawatir pada kondisi Kyle.


Kyle menatap kedua temannya secara bergantian, dia ingin mengatakan sesuatu tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya bertambah parah sehingga suaranya tertahan.


Tiba-tiba kaki Kyle bergetar dengan hebat dan nafasnya menjadi sangat berat, "Sepertinya kak Kyle sedang menahan sakit." melihat tubuh Kyle yang bergetar hebat Koillei segera menopang Kyle agar pemuda tersebut tidak terjatuh.


"Koi.. Clarissa.." Kyle berusaha menunjuk Clarissa dan kemudian kehilangan kesadaran.


Sesaat setelah kesadarannya menghilang, suara sang kucing muncul di tengah kegelapan pada pikirannya, "Bagus bocah, sebentar lagi adalah proses terakhir. Proses ini tidak menyakitkan tapi kau akan merasa sangat lapar setelahnya." tuturnya.


Begitu perkataannya selesai, kondisi tubuh Kyle berubah seperti semula, namun pori-pori kulitnya mengeluarkan uap dalam jumlah besar. Cukup banyak hingga seluruh tubuhnya tertutup.


Clarissa pun menyadari ada perubahan aneh lagi pada Kyle, "Koi lihat apa yang terjadi pada Kyle.." Koillei yang sedang mengikatkan perban di perut Clarissa menolehkan wajahnya ke Kyle.


Ia menatap Clarissa, "Aku tahu kakak khawatir dengannya. Tapi kurasa sesuatu yang terjadi pada kak Kyle adalah hal yang baik." ujarnya.


Clarissa pun menatap balik wajah Koillei, tidak yakin dengan hal itu tapi dia berharap jika itu adalah hal yang baik, "Ya, semoga saja." ucap Clarissa dengan nada kecil.


Seorang penjaga masuk dengan tergesa-gesa dan melongo melihat apa yang telah terjadi di dekat pintu masuk, "Nona Clarissa, kapten Koillei, apa yang terjadi?"


Beberapa orang berpakaian hitam dan diantaranya terkapar bersimbah darah bukanlah hal yang biasa. Bahkan ada yang terbenam di dinding.


"Itu tidak penting, tolong panggil ayahku!" Clarissa tidak menjawab melainkan memberi perintah pada penjaga itu.


"Tapi nona, utusan akademi sihir telah sampai di gerbang kota. Kini mereka sedang menuju ke kediaman tuan kota." lapornya.


Clarissa menggigit bibirnya, "Waktu yang sangat tidak tepat." gumam Koillei.


Pandangan penjaga jatuh pada sekumpulan uap tak jauh dari lokasi Clarissa dan Koillei, "Apa itu? Bubur beras panas yang tumpah ke lantai?" pikir sang penjaga bingung.


"Jika begitu panggil beberapa orang untuk mengangkatnya ke kamar ku, dan juga kubur orang-orang yang sudah mati di lantai itu, penjarakan yang masih hidup." Clarissa menunjuk ke arah Kyle yang ditutupi uap.


Penjaga itu kebingungan, tapi ia tidak ingin bertanya lebih lanjut dan memilih melaksanakan perintah Clarissa.


Setelah sang penjaga pergi, "Koi, tolong aku.. Aku ingin mengganti pakaian." Clarissa berusaha berdiri dan hampir terjatuh, tapi Koillei menangkapnya tepat waktu.


Koillei pun mengerutkan keningnya, "Kak jangan memaksakan diri, perwakilan akademi pasti mengerti dengan kondisi kita saat ini. Lagipula akademi sihir tidak menilai penampilan yang sempurna.." ucap Koillei yang khawatir dengan Clarissa.


Clarissa menggigit bibirnya, "Aku tahu.. Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan ku. Akademi sihir hanya akan mengirim utusan mereka sekali untuk percobaan sebelum memberi undangan." jawab gadis tersebut.


Dia sejak kecil bermimpi menjadi seorang murid akademi sihir, maka dari itu Clarissa sangat bersikeras dan keras kepala jika bersangkutan dengan akademi sihir.

__ADS_1


"Pelayan! Bersihkan darah di lantai setelah para penjaga selesai mengangkat tubuh!"


"Ayo Koi, tolong antar aku.." ucap Clarissa.


Koillei diam-diam menghela nafas, "Kau terlalu memaksakan diri, kak." batinnya.


...\=\=\=...


Penjaga dan pelayan bekerja dengan sangat cepat hingga dalam beberapa menit saja area pintu masuk sudah kembali seperti semula kecuali tembok yang retak karena tamparan Kyle.


Dua orang utusan akademi sihir telah tiba di depan kediaman tuan kota, "Akhirnya aku bisa beristirahat.. Hoaamm, ngantuknya.." seorang pria berambut coklat gelap mengacak-acak rambutnya sendiri dan menguap panjang.


"Leine? Katakan sesuatu, kau berbicara sangat sedikit selama beberapa hari ini." ujarnya pada gadis berambut perak yang sedari tadi diam.


"Kenapa kau harus ikut? Tugas ini diberikan hanya untukku saja." Leine bertanya pada pria itu. Dia punya suara yang lembut tapi nadanya dingin dan tidak mengandung emosi.


Sang pria mengangkat bahunya, "Karena aku khawatir.. Atau karena aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu." jawabnya.


"Saat di akademi kita selalu bersama setiap waktu. Tidak bisakah aku sendiri." Leine berjalan masuk meninggalkan sang pria terdiam sambil menggaruk kepalanya.


"Mau bagaimana lagi.." ucapnya dalam hati.


Clarissa yang sudah berganti pakaian dan juga Koillei keluar dan menyambut kedua orang ini, "Jadi anda berdua adalah senior yang datang kesini. Anda pasti senior Leine kan?" tanya Clarissa begitu melihat gadis berambut perak itu.


Clarissa merasa sangat antusias melihat kedua murid senior akademi sihir itu, "Ya, ayo kita mulai tesnya." ucap Leine tanpa basa-basi.


"Diam, kau tak mendengarnya dia mengetahui tentang diriku?.. Hah, baiklah aku Leine Blanchefleur dan pria dibelakang ku adalah Hans." Leine memperkenalkan dirinya padahal Clarissa dan Koillei sudah mengetahui tentang dirinya kecuali Hans.


"Dan sekarang.." Leine ingin melanjutkan tapi Hans menghentikannya.


"Kami sebenarnya sedang kelelahan, apakah baik-baik saja jika kami beristirahat dulu." ucap Hans memotong.


Leine menatap dingin Hans dan pria itu menyadarinya kemudian berkata, "Dengar Leine, kau sudah tiga hari tidak tidur. Bagaimana jika kau sakit?"


"Aku tidak bisa tidur karena kau." sahut Leine dingin. Hans menghela nafasnya karena ia merasa tak melakukan apapun sehingga Leine tak bisa tidur.


"Jadi bagaimana senior?" Clarissa berusaha menengahi.


Setelah memikirkannya sejenak, Leine menjawab, "Kami akan beristirahat selama beberapa waktu sebelum memulai tes."


Koillei yang dari tadi memperhatikan tingkah laku Leine menjadi sedikit bingung, Leine selalu menolak dan membantah perkataan laki-laki bernama Hans itu tapi ia tetap menurut pada akhirnya.


"Mereka itu sepasang kekasih?" pikirnya.


Clarissa berniat mengajak mereka berdua untuk berkeliling singkat di kediamannya, "Senior, bagaimana jika saya antar kan anda berdua untuk berkeliling di lingkungan kediaman keluarga saya?"

__ADS_1


Hans tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, kami akan beristirahat di taman saja." Hans menolak.


Clarissa tampak sedikit kecewa, "Hah? Senior yakin?" Clarissa bertanya sekali lagi.


Hans mengangguk mengiyakan, "Yap, terimakasih atas sambutan baiknya, tapi kami harus beristirahat, ayo Leine.." Hans menarik tangan Leine dan berjalan ke kursi di taman depan kediaman tuan kota.


Koillei menepuk bahu Clarissa, "Sudahlah kak, biarkan mereka beristirahat dulu." ucap Koillei.


"Tapi setidaknya beristirahat di kamar bukan di taman." gumam Clarissa.


...\=\=\=...


Kyle membuka matanya dan menemukan dirinya di tempat yang ia lihat saat tertidur sebelumnya, sebuah tempat yang gelap gulita.


Namun ada sesuatu yang besar melayang di langit yang hitam, "Naga!" Kyle melihat sesosok naga putih dengan surai yang memancarkan cahaya berbagai warna melayang mengitarinya dan sedikit terkejut.


"Tenang, ini aku." suara yang sama dengan sosok kucing terdengar dari mulut sang naga.


Mendengar suara yang familiar itu Kyle merasa sedikit tenang di antara kegelapan tersebut, "Jadi kau adalah dewa kucing... Baguslah." ucapnya dengan lega.


Wajah sang naga memancarkan emosi tersinggung, "Dewa kucing?! Terserah mu saja.. Aku disini ingin memberi tahu mu beberapa hal tentang kekuatan baru mu." tuturnya serius.


Mendengar nada bicaranya itu, Kyle mulai memasang telinga baik-baik karena perkataan sang naga selanjutnya bisa jadi adalah hal yang sangat berguna baginya.


"Pertama, untuk meningkatkan kekuatan mu dan juga usia mu kau bisa menyerap inti kristal sihir dari binatang sihir. Memang efeknya tidak terlalu signifikan tapi cukup untuk menambah usia mu sebanyak beberapa hari hingga beberapa minggu bahkan berbulan-bulan."


Ia melanjutkan, "Namun jika kau menyerap kristal unsur maka hasilnya akan jauh jauh dan sangat jauh lebih baik. Usiamu akan diperpanjang selama belasan tahun dan kau akan mendapatkan kekuatan unsur dari kristal itu."


Kyle melebarkan matanya, "Jadi apakah aku bisa menyerap berbagai kristal unsur dan memiliki beberapa unsur?" tanya Kyle memotong penjelasan sang naga.


Sang naga terdiam sejenak sebelum menjawab, "Benar, tapi jika ingin menyerap kristal unsur jangan terlalu membabi buta. Kristal di tubuhmu perlu beradaptasi dengan kekuatan unsur. Dan.. Sepertinya itu saja yang perlu aku jelaskan."


"Masih banyak yang bisa kau lakukan dengan kekuatan kristal itu. Kau bisa memfokuskan aliran mana di tubuhmu pada satu titik untuk memperkuat bagian itu sama seperti pengguna unsur."


Kyle yang mendengar itu terdiam dan menatap telapak tangannya, "Sebelumnya seluruh tubuhku terasa sangat kuat, apakah itu adalah efek dari mana yang memperkuat tubuhku?" tanyanya.


"Pikirkan saja sendiri.." jawab sang naga, tidak memberi jawavan. Secara kasat mata tubuh sang naga mulai menjadi transparan.


"Aku mengandalkan mu bocah.." ucapnya sebelum dia benar-benar lenyap.


"Tunggu!" Kyle berteriak sebelum naga itu lenyap.


"Terima...kasih." dia ingin berterimakasih tapi ia terlambat karena sang naga sudah pergi.


Kyle pun mengepalkan tangannya, "Aku tidak tahu siapa kau dan makhluk apa kau. Tapi terimakasih sudah memberikan ku kesempatan kedua untuk melindungi apa yang kumiliki.."

__ADS_1


"... Dan aku tidak akan membiarkan dunia ini jatuh dalam kegelapan."


__ADS_2