
Anak buah Tilban mengikat tangan regu tersebut dengan sebuah tali tebal yang biasa digunakan pada pekerjaan kasar, sehingga tali itu cukup kuat untuk mengikat manusia biasa. Tapi Kyle merasa dia dapat membuka ikatan itu dengan mudah.
Hanya saja dia tidak ingin melakukan itu sesuai arahan Achille, lagipula ada sekitar 40 orang bersenjata yang dapat mengepungnya jika ia membebaskan diri, di samping segalanya Tilban juga adalah seorang yang berbahaya karena tekanan yang dikeluarkan tubuhnya lebih besar daripada Achille atau Jose yang merupakan anggota terkuat di regunya selain dirinya sendiri.
"Ya.. Aku bisa mati jika melepaskan diri sekarang. Bahkan jika aku sempat melepaskan yang lain.." sebagai seseorang dengan pengalaman menghadapi situasi berbahaya yang nyaris nol, Kyle dapat mengetahui banyak kemungkinan jika ia melepaskan ikatannya saat itu juga menunjukkan memang tak banyak yang bisa ia lakukan.
Dikepung 40 orang dan seorang pria yang cukup kuat, mereka tidak akan bertahan lama, "Aku hanya bisa menunggu aba-aba dari Achille.." merasa tak ada jalan terbaik yang dapat ia pikirkan, Kyle memilih melaksanakan perkataan Achille dan menunggu rencana baru darinya.
"Wooohooo! Ada beberapa kotak berisi alat sihir di dalam sini! Totalnya mungkin puluhan ribu Crown!" melihat satu kereta penuh dengan alat sihir, anak buah Tilban tersebut tak bisa menahan teriakan girangnya.
Mendengarnya membuat Tilban tersenyum begitu lebar, "Ah.. Ini baru sehari aku kembali ke sini.. aku mendapatkan harta yang cukup untuk bersantai selama satu atau dua bulan." sebuah tawa keras terdengar dari pria itu.
Mereka yang diikat diperintahkan untuk naik ke kereta penumpang yang kondisinya sudah tak karuan dengan puluhan panah menancap, bahkan beberapa bagian dinding kereta itu telah bolong.
Kyle menatap wajah rekannya satu persatu, dia tidak menemukan wajah tegang atau panik dari mereka, hanya ada ketenangan walau sekali-kali terdengar helaan nafas dari Sanny atau Achille.
Achille menghela nafas karena dia telah membuat banyak skenario untuk melepaskan diri dalam pikirannya, namun dari semua skenario tersebut, akan butuh waktu yang tidak sedikit untuk dilancarkan, sementara waktu yang tersedia sangat sedikit.
Di sisi lain, Sanny terus menghela nafas karena merasa gusar. Ia kurang suka duduk sempit-sempitan, apalagi ada dua orang bandit yang menjaga di dalam kereta yang terus menatapnya.
Pandangan Kyle jatuh pada Luis, ia menatap pria itu cukup lama, "Sejak kapan dia menggunakan tongkat?"
Kyle tidak mengingat Luis membawa sebuah tongkat sebelumnya, apalagi tongkat itu tidak biasa karena terbuat dari logam dan juga beberapa bahan berwarna kekuningan.
"Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian sudah begitu pasrah dengan nasib kalian?" salah satu bandit bertanya setelah keheningan begitu lama.
Tak ada yang menjawab, ia hanya mendapatkan tatapan dingin dari 'korban'-nya. Tapi bandit tersebut hanya tertawa keras menanggapi tatapan yang diarahkan padanya, "Sungguh berani... Apakah kalian masih bisa menatapku setelah kita sudah kembali ke markas.." ucapnya sambil menyeringai.
Beberapa orang mendengus kesal, sementara itu Kyle bersumpah di dalam hatinya akan menjadikan pria tersebut sebagai orang yang pertama kali dia pukul dalam perjalanannya ini.
PAK!
__ADS_1
Bandit yang satunya menepuk punggung bandit itu dan memintanya untuk diam karena Tilban yang duduk di samping kusir menatapnya dengan tajam.
"Ma-maaf bos.." dengan keringat dingin dan takut ia meminta maaf.
"Bos.. Bagaimana caranya kau dapat lolos dari penjara?" bandit yang menjadi kusir bertanya.
Tilban menatapnya sesaat tapi tatapan itu berhasil membuat bandit tersebut bergetar karena merasa ia telah menyinggung Tilban dan akan membuat pria itu marah.
"Ceritanya panjang... Saat aku ditangkap, kebetulan aku mengenal seseorang di pemerintahan yang dapat membebaskan ku dengan mudah." di luar dugaan Tilban menjawabnya dengan santai sehingga bandit tersebut menghela nafas lega.
"Ternyata ada orang dalam.." beberapa dari regu pemburu mengepalkan tangan mereka. Tentu saja mereka mengetahui seberapa buruknya tindakan Tilban selama beberapa tahun menjadi seorang ketua bandit.
Banyak orang yang tewas oleh kelompoknya, ratusan orang telah dijual sebagai budak dan ratusan gadis telah direnggut kehormatannya oleh mereka.
Mengingat tindakan kejam pria ini, mereka semua tak berniat untuk menangkap Tilban hidup-hidup dan menyerahkannya pada aparat hukum, melainkan membunuhnya langsung untuk mencegah kesengsaraan banyak orang di masa depan.
...\=\=\=...
Perjalanan menuju ke markas bandit Tilban memakan waktu hampir satu jam. Markas tersebut ternyata terletak di dalam lebatnya hutan, sebuah markas yang terdiri dari puluhan tenda dan dikelilingi oleh dinding kayu yang menjulang beberapa meter.
"Wah bos.. Tidak ku sangka kau bisa mendapatkan mangsa yang besar malam ini." seorang pria bertubuh besar dengan perut agak buncit mendatangi kereta kuda yang diduduki Tilban dan menyapanya dengan senyuman lebar.
Tilban segera turun dan menyapanya kemudian tertawa keras, "Beruntung bukan? Kita akan bersenang-senang hingga pagi malam ini!"
"Ada wanita?"
"Tentu saja! Ada seorang gadis muda berwajah manis dan seorang gadis berwatak keras, gadis berwatak keras biasanya dapat bertahan semalaman dengan puluhan orang."
Mendengar ucapan Tilban yang begitu lantang, gadis yang dimaksud langsung berdiri yang membuat dua bandit di dekatnya menarik golok dan pedang di pinggang mereka.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia.. Kami tidak ingin menyakiti barang bagus seperti mu. Apalagi kau harus bersenang-senang dengan 60 orang malam ini.. Jadi simpan tenagamu baik-baik." salah satu bandit memperingatkan.
__ADS_1
Sanny melotot dan ingin mematahkan rahang bandit tersebut dengan tendangannya, "Jangan!" Achille berdiri diantara Sanny dan bandit, membuat wajahnya terkena tendangan wanita itu dan terpental ke samping.
Kejadian tersebut membuat kereta kuda tersebut hampir terbalik, mengejutkan bandit yang berdiri di luar, "Apa yang terjadi?" salah satu bandit memasukkan kepalanya ke dalam dan melihat situasi.
Yang mencolok di pandangannya adalah seorang pria berambut pirang yang duduk bersandar di sisi kiri kereta dan juga dua rekannya yang menatap seseorang penuh ketakutan.
"Apa yang terjadi pada kalian?" ia bertanya heran.
Tanpa menjawab apapun keduanya segera berlari ke arahnya dan mendorongnya hingga jatuh kemudian keluar dari kereta tersebut.
"Kalian ini kenapa?!" dia berteriak kesal sebelum mengejar kedua pria itu.
Di dalam kereta, Achille mengelus pipinya sambil tersenyum kecut. Ia punya tubuh yang lebih kuat dari para bandit sehingga serangan yang bahkan dapat mematahkan rahang mereka tidak terlalu berpengaruh padanya, namun tetap saja ia masih merasa sakit dan ngilu.
"Uww.. Kenapa kau melakukan itu?" Crylia memandangi wajah Sanny yang tidak menunjukkan rasa bersalah, melainkan wajah penuh kekesalan.
"Enam puluh orang... Aku bisa mati jika benar-benar harus melakukan itu!" Sanny berteriak balik, membuat Crylia terdiam.
Crylia tau perasaan Sanny saat mendengar kalimat yang merendahkan kehormatannya seperti itu karena ia sendiri merasakannya, tapi bertindak seperti itu terlalu berlebihan dan dapat membuat masalah menjadi lebih rumit.
"Hm?" Tilban memasukkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, namun melihat korbannya diam ia kembali keluar.
"Bawa mereka ke kandang... Kirim sepuluh orang untuk membeli minuman di kota. Pastikan minuman terbaik karena kita akan bersenang-senang malam ini." Tilban mengeluarkan perintahnya dengan lantang.
Dengan segera sepuluh orang pria menawarkan diri untuk mengerjakan tugas tersebut sementara sisanya mempersiapkan segala hal untuk pesta mereka.
Tidak lupa juga para bandit membawa tahanan mereka ke sebuah kandang yang terbuat dari kayu yang tampak sudah lapuk, bahkan seorang anak kecil normal dapat mematahkannya dengan sebuah tendangan.
"Mereka terlalu percaya diri..." komentar Cruz setelah mereka dimasukkan ke dalam kandang itu, sementara bandit yang membawa mereka langsung pergi begitu saja.
"Apa kau memiliki rencana?" Rock bertanya pada Achille.
__ADS_1
Pria itu terlihat berpikir keras hingga muncul beberapa kerutan di wajahnya, "Aku tidak yakin.. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, tapi aku butuh kepercayaan kalian.." Achille menatap Crylia dan Sanny yang duduk berlawan dengan para pria.
Sanny memicingkan matanya dengan curiga sementara Crylia menelan ludahnya dengan kasar, sadar ada bahwa perannya di dalam rencana Achille cukup berbahaya.