Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 14 - Hexa dan Pixtia


__ADS_3

Keesokan harinya, saat pagi menyingsing Kyle bangun lebih cepat dari biasanya, padahal ia selalu terbangun di siang hari karena kelelahan akibat pekerjaannya sebagai penambang yang berat.


"Uwah.. Sudah sangat lama aku tidak merasakan sesegar ini setelah bangun tidur." ucapnya.


Kyle meregangkan tubuhnya dan menguap panjang, "Aku harus bergegas dan menemui Hexa di kedai teh yang ia maksud."


...\=\=\=...


Sekitar setengah jam kemudian, Kyle tampak berdiri di depan sebuah bangunan besar yang bertingkat, "Hmm?" ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Mana kedai tehnya?" batinnya bertanya-tanya.


Kyle berjalan di sekitar bangunan penginapan Tron's untuk mencari kedai teh yang dimaksud Hexa.


Setelah berkeliling sebentar, Kyle menemukan sebuah gang sempit di samping bangunan yang terletak tepat di kanan penginapan Tron's, "Apa ini jalannya?"


Kyle memasuki gang kecil itu dan dirinya diarahkan pada sebuah bangunan kecil sederhana yang bertuliskan Kedai Teh Para Pahlawan.


Pemuda itu tersenyum dan tertawa kecil membaca spanduk nama kedai teh itu, "Namanya terdengar heroik.. Mungkin saja ini kedai teh yang dimaksud Hexa."


Ia membuka pintu kayu di depannya dan masuk ke dalam kedai tersebut. Hal pertama yang menyambut pandangan Kyle adalah interior yang sederhana namun sangat mewah.


Kemudian rak-rak buku yang bukan hanya diisi oleh buku, tapi benda-benda yang nilainya tak sedikit.


Pemandangan itu membuat Kyle menjadi kurang yakin bahwa tempat ini adalah sebuah kedai teh, "Ini semua tampak begitu mewah.." gumam Kyle sembari berjalan kearah salah satu rak di dekat pintu masuk.


Ada sebuah bola biru dengan beberapa bagiannya yang berwarna kuning pasir. Kyle yakin itu adalah bola dunia. Kemudian beberapa patung yang terbuat dari logam dan batu mulia, tak lupa pula pedang tua yang disimpan dalam kotak kaca.


TAK!


Perut Kyle tiba-tiba dipukul dengan sesuatu oleh seseorang, "Heh, jangan beraninya menyentuh barangku!" wanita berkacamata yang memegang sapu meneriaki Kyle.


Kyle mengurungkan niatnya untuk menyentuh kotak kaca berisi pedang tersebut, "Bagaimana ia bisa tahu aku ingin menyentuh itu?" batin Kyle bingung.


Kyle mengamati wanita yang meneriakinya itu. Sekilas ia melihat sosok Hexa di wajahnya, namun ekspresi wajah wanita ini berbeda jauh dengan Hexa yang tidak akan terang-terangan mengangkat wajahnya dan menatap mata lawan bicaranya seperti saat ia berbicara dengan Hexa kemarin, dan yang paling mencolok, wanita ini tidak mengenakan kacamata bulat.


"Ma-maaf! Saya hanya terpukau.." ucap Kyle meminta maaf.


"Huh, semua orang boleh mengangumi bulan, tapi tidak semua orang bisa menggapainya dan menyentuhnya." ujar wanita itu, menyiram Kyle dengan kata-kata mutiara.


"Apa?"


"Ingat itu baik-baik nak.. Ngomong-ngomong, aku tak pernah melihatmu. Bagaimana kau bisa tahu ada kedai teh disini dan kenapa kau ke sini?" tanya wanita itu dengan tatapan menyelidik.


"Itu.. saya ada janji untuk bertemu dengan seorang gadis berkacamata bernama Hexa.." jawab Kyle tanpa menutupi apapun.


"Hm? Kau? Hexa?" tatapan menyelidik wanita itu semakin menjadi.

__ADS_1


Ia berputar-putar di sekitar Kyle sambil menatap setiap bagian tubuhnya satu persatu dengan sangat seksama.


"Kurus sekali.. Hexa benar-benar tidak pandai memilih.." ucapnya dengan lirih namun masih dapat terdengar dengan jelas oleh Kyle.


"Maksudnya?"


"Kau begitu kurus hingga aku ragu kau dapat mengangkat secangkir teh." sahut wanita itu dengan lantang.


Kyle mengerutkan keningnya, ia mengakui tubuhnya saat ini sangat kurus, apalagi saat ini ia mengenakan kaos berlengan pendek yang membuat dirinya tampak lebih kurus.


Namun Kyle masih bingung dengan apa yang dimaksud Hexa tidak pandai memilih, "Maaf, saya hanya ingin bertemu dengan Hexa." Kyle mau melupakan masalah itu dan hanya ingin fokus dengan apa yang ia inginkan saat ini.


Dengan wajah ketus wanita itu memanyunkan bibirnya, "Baiklah, tunggu sebentar." ia meninggalkan Kyle dan masuk ke dalam sebuah ruangan.


Sementara menunggu Kyle dapat mendengar suara pembicaraan dari ruangan tersebut, "Apakah wanita itu berbicara dengan Hexa? Apa hubungan mereka?" Kyle bertanya di dalam hatinya.


"Ma-maaf membuat and- me-membuat mu menunggu." Hexa keluar dari ruangan tersebut dan berbicara dengan sedikit gugup.


Kedatangan gadis itu membuat Kyle tersenyum lebar, karena ia merasa tujuan pertamanya akan terwujud, tapi senyuman Kyle itu disalahartikan oleh Hexa sehingga gadis itu merona dan salah tingkah.


"Gu- Ah.. A-ayo duduk.. Akan ku-kubuatkan kan teh." setelah mempersilahkan Kyle untuk duduk Hexa ingin pergi untuk membuatkan Kyle teh.


Namun Kyle menahannya dengan menarik lengan gadis tersebut, "Tunggu, tak perlu repot-repot. Aku hanya ingin menemui mu seperti yang kau katakan kemarin." ucapnya.


Melihat Hexa terdiam tanpa ada respon Kyle memanggil namanya, "Hey? Hexa?" Tiba-tiba Hexa menarik tangannya dengan cepat dan berkata, "Ti-tidak apa-apa, tu-tunggu sebentar.." sahut gadis itu tanpa menatap wajah Kyle.


Tindakan itu membuat Kyle tak bisa berkata-kata, "Apa yang terjadi? Dia tampak lebih gugup dari yang kemarin.. Tidak mungkin kan dia menyukai ku, aku tak melakukan apapun untuknya.." batin Kyle penuh tanda tanya.


Di tengah pemikiran Kyle, pintu masuk kedai tiba-tiba terbanting dengan keras, Kyle pun membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah membanting pintu.


"Nyonya Pixtia!" seorang pria dengan zirah kulit masuk dan berteriak lantang memanggil sebuah nama.


Wanita yang ternyata bernama Pixtia itu keluar dari ruangannya dengan wajah kesal, "Sudah kukatakan selama puluhan kali! Aku tidak akan memberikannya pada mu! Aku sudah bosan mengulangi hal" ia meneriaki balik pria itu dengan suara yang tak kalah lantangnya.


"Aku juga sudah bosan mengulangi permintaan yang sama! Berikan saja pedang itu padaku, itu tidak berguna jika hanya dipajang saja!" ia memaksa.


"Tidak akan!" Pixtia menolak keras.


"Err... Aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah memohon dengan baik dan sopan, tapi kau menolaknya dengan kasar! Aku.." pria itu berjalan ke arah rak buku dengan kotak kaca yang tadi ingin Kyle sentuh.


"Jangan!" Pixtia dengan gesit memukul perut pria itu dengan gagang sapu.


Tapi pukulan tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada pria itu, "Kau tak bisa menghentikan ku!" ia mengarahkan cengkraman tangannya pada Pixtia.


Hexa yang baru keluar dari salah satu ruangan membawa dua cangkir teh terkejut dan berteriak panik, "Tidak! Ibu!"


PAK!

__ADS_1


Untungnya, Kyle menahan tangan pria tersebut sebelum ia dapat menggapai Pixtia, "Kau ini kenapa?" tanya Kyle sambil mengangkat alisnya.


Pria itu mendengus marah, "Jangan ikut campur bocah! Lepaskan tanganku!" ia meneriaki Kyle.


"Wo wo wo, apa sebenarnya yang terj-"


Kyle tak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba pria itu melepaskan tinjunya ke pipi Kyle, tinju itu cukup kuat sehingga Kyle yang tidak siap dibuat terhempas dan menabrak meja dan kursi hingga hancur berantakan.


"Hmph, jangan mempersulit ku! Aku tidak akan bermain tangan jika kalian tidak menghalangiku!" ucap pria itu dengan tegas sambil menatap Pixtia yang berdiri cukup jauh karena ditarik oleh Hexa.


Setelah itu, sang pria menatap kembali pedang yang tersimpan rapi di dalam kotak kaca. Ia perlahan menyentuh kotak kaca itu sambil bergumam, "Pedang yang membasmi kejahatan.."


"Jauhkan tangan kotor mu dari pedang itu!" Pixtia berteriak keras. Ia memberontak dari pegangan Hexa karena melihat kotak kaca itu ingin dibuka.


"I-ibu! Tolong ja-jangan gegabah, kita tak bisa melakukan apapun.." ucap Hexa berusaha menenangkan ibunya.


"Pedang itu... Sangat... Berarti bagiku! Jangan sentuh!" Pixtia terus berteriak penuh emosi.


Di samping itu, Kyle yang terbaring ternyata masih dapat bangkit dan berdiri seperti semula, pemuda itu tampak memegangi pipinya, "Yang tadi itu sakit, tapi aku tidak pingsan setelah terkena pukulan seperti itu.."


Kyle mengalihkan fokusnya pada Pixtia yang berteriak sambil memberontak dan ditahan oleh Hexa, setelah itu fokusnya berpindah pada pria berzirah kulit yang ingin membuka kotak kaca.


"Cih, gembok tidak berguna." pria itu meremas gembok besi yang mengunci kotak itu hanya dengan satu tangannya.


"Hey, urusan kita belum selesai.." tegur Kyle yang berjalan perlahan kearah pria itu. Sang pria menatap Kyle dan melepaskan tangannya dari kotak kaca.


"Aku tidak keberatan untuk menghajar mu sekali lagi, bocah! Bahkan jika kau mau, aku akan menghajar puluhan kali! Namun, jika kau tidak ingin dihajar, jadilah anak baik dan segera tinggalkan tempat ini. Keberadaan mu seperti hama yang tidak berguna!" ucapnya merendahkan Kyle.


Ucapan itu membuat alis Kyle berkedut karena geram, "Mari kita lihat siapa yang akan dihajar sekarang.." Kyle menekuk buku-buku jarinya hingga mengeluarkan suara renyah.


"Bocah tak tahu batasan." pria itu merasa tertantang dan ikut bergerak maju berhadapan dengan Kyle.


"Tu-tuan! Jangan menantangnya! Kau bisa terluka!" Hexa berteriak khawatir karena menganggap Kyle bertindak tanpa berpikir dengan melawan seseorang yang terlatih dalam bertarung.


Namun Kyle tidak ingin mundur sekarang, "Bagaimana aku bisa menyelamatkan dunia jika melawan orang seperti ini saja aku tidak bisa?" batinnya.


Tangan Kyle sudah terkepal erat, ia sudah sangat siap untuk menyerang atau menerima serangan, begitu juga dengan pria berzirah kulit, dia sudah sangat siap untuk mengeluarkan tinju terkuatnya agar Kyle langsung tumbang tanpa bisa menyentuhnya.


Begitu jarak keduanya hanya tersisa sekitar dua meter, sang pria tiba-tiba melebarkan kakinya dan mengayunkan tinjunya ke pipi Kyle..


BUUUKK!


Terdengar suara teredam dari pukulan itu, tapi yang membuat dirinya terkejut adalah Kyle tidak bergerak sedikitpun kecuali salah satu kakinya yang bergerak kebelakang untuk menyeimbangkan diri, selebihnya Kyle tampak baik-baik saja.


BUAAKK!


Tanpa diketahui olehnya, tangan kiri Kyle yang mengeluarkan uap tipis sudah berada di bawah dagunya, siap untuk membuatnya melayang ke atas.

__ADS_1


Tubuh pria itu terbang ke atas hingga menembus langit-langit kedai, dan hanya sebagian tubuhnya yang tampak sementara sebagian lainnya terbenam di sana.


Melihat itu, dua perempuan yang menonton melebar, "Apa?!" baik Hexa dan Pixtia terkejut.


__ADS_2