
Mereka berbincang dengan ketiga pria tersebut soal ciri-ciri dari binatang sihir yang mereka buru. Ketiga pria itu menggambarkan bahwa makhluk itu memiliki wajah yang mirip dengan seekor gorila dengan bulu lebat berwarna putih.
Gorila itu memiliki telapak tangan yang sangat besar dan tangannya bahkan lebih panjang dari tubuhnya, selain itu makhluk tersebut juga memiliki kemampuan menghembuskan udara dingin dari mulutnya, cukup dingin untuk langsung membekukan seekor rusa dalam belasan detik.
"Apa dan berapa banyak yang ia makan dalam sekali perburuan?" tanya Sanny penasaran. Berdasarkan laporan dari regu pengintai, binatang sihir tersebut memiliki tinggi 4 meter, pastinya ia harus makan dalam porsi besar.
Pria dengan bekas luka menjawab, "Ia memburu dan memakan hewan apa saja yang ia temukan di hutan seperti rusa, babi hutan, bahkan serigala. Untuk sekali berburu.. Setidaknya perlu 12 hingga 20 ekor mangsa untuknya kembali lagi sarang."
Dro-bo yang sedari tadi menyimak tampak mengelus kumisnya, "Jika berlanjut seperti itu, maka hewan-hewan di hutan akan terus berkurang. Desa-desa yang tak jauh dari hutan akan dalam bahaya jika binatang sihir itu tak dapat lagi menemukan mangsa di dalam hutan." Dro-bo menganalisa.
Achille tampak menghela nafas panjang, "Teman-teman, persiapkan diri kalian.. Kita tidak boleh gagal dan waktu yang tersisa sungguh sedikit..." ucapnya dengan serius.
Kyle menatap wajah Achille sekilas sebelum pandangannya lurus pada api unggun sambil memikirkan sikap Achille yang sangat berbeda dari saat mereka bertemu pertama kali.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Kyle merasa ada sesuatu yang terjadi di kelompok ini, namun dengan posisinya sekarang Kyle tak yakin untuk bertanya.
"Tentu saja bung.. Kita pasti berhasil." ucap tegas Alvaro, ingin membuat Achille tambah yakin pada kelompoknya.
"Terimakasih." Achille tersenyum hangat, apalagi melihat anggotanya yang lain juga memberinya senyuman yang berarti.
"Baiklah jika begitu aku akan mempersiapkan diri juga.." Achille bangkit dari duduknya, sebelum melangkah ia mengatakan sesuatu pada Berta yang berdiri tak jauh darinya kemudian beranjak dari sana.
Kyle menatap kepergian Achille dengan perasaan campur aduk, sulit baginya untuk menggambarkan perasaannya pada Achille sekarang. Pada awalnya Kyle merasa sangat jengkel dengan sosok Achille, tapi perlahan ia merasakan sosok Achille menggendong beban yang begitu berat di hatinya dari ekspresi yang ditunjukkannya akhir-akhir ini.
Sanny menyadari kebingungan di wajah Kyle, ia pun berpindah tempat duduk ke samping Kyle, "Hoaam.. Kami sangat mengantuk, ayo pergi.." pria berbandana sontak berdiri dan menarik kedua temannya.
Alvaro yang sedang santai sambil menikmati minumannya mulai bersiul dan meninggalkan tempatnya, menyisakan Kyle dan Sanny berdua di depan api unggun sementara itu Dro-bo sudah menghilang sebelum Achille pergi.
__ADS_1
"Kau ingat dengan orang yang kukatakan sangat mirip denganmu?" tanya Sanny membuka pembicaraan, Kyle menyambutnya dengan anggukan pelan.
Setelahnya Sanny menghela nafas panjang, "Sebenarnya aku.. Tidak, kami tidak ingin mengingat kejadian ini lagi. Tapi, kau adalah anggota baru jadi kurasa kau setidaknya mengerti mengapa kami tampak emosional pada saat-saat tertentu agar kau merasa nyaman bersama kami."
Tanpa disadari Sanny tersenyum tipis, setelah memandangi wajah Kyle selama beberapa detik.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Kau menyukai ku?" tanya Kyle dengan nada yang agak tinggi.
Sanny mengangkat wajahnya, "Apa?! Bukannya kau juga memandangiku seperti itu juga?! Kurasa itu adalah hal biasa yang kau lakukan di kampung halaman mu saat baru bertemu dengan orang lain untuk pertama kalinya." ia menyahut dengan nada yang bahkan lebih tinggi.
"Ya.." Kyle menggaruk pipinya tidak tahu harus menjawab apa karena ia memang pernah menatap Sanny seperti itu, tapi ia tidak tersenyum seperti yang Sanny lakukan, jadi sangat wajar Kyle mengira Sanny menyukainya.
Kyle punya kebiasaan yang entah buruk atau aneh, yaitu sangat sulit untuk mengalihkan wajahnya dari orang lain saat ia menatap mereka untuk beberapa saat.
Sanny mendengus kesal karena pemikiran Kyle terhadapnya, tapi kekesalannya tidak berlangsung lama karena ia ingin melanjutkan cerita tentang sosok yang ia katakan sangat mirip dengan Kyle.
"Beberapa bulan yang lalu, kelompok kami terdiri dari 23 orang.. Sebuah kelompok petualang yang selalu tertawa riang, menolong satu sama lain, dan sangat dekat, kami sudah seperti keluarga saat itu." Sanny tersenyum tipis. Entah kenapa Kyle merasakan jejak kesedihan pada ukiran senyum Sanny.
Sanny tampak mengepalkan tangannya, merasa sangat bersalah seiring ia bercerita, "Singkat cerita.. Karena kebodohan kami dan juga karena kami terlalu sombong, 5 orang harus kehilangan nyawa. Dan.. Dia mengorbankan dirinya agar.. Agar.."
Dengan suara yang bergetar, Kyle tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Sanny selanjutnya. Tapi ia menangkap apa yang telah terjadi setelahnya sehingga turut prihatin dan tidak menyangka hal seperti itu terjadi pada kelompok ini.
Padahal ia melihat kelompok petualang ini terlihat sangat bahagia dan tidak ada jejak kesedihan di wajah mereka, "Sepertinya mereka menyembunyikan kesedihan mereka."
Kyle merasa sedikit yakin bahwa perubahan sifat yang dialami oleh Achille, ketua kelompok yang sekarang itu disebabkan pada kejadian yang diceritakan oleh Sanny. Sifat menjengkelkannya itu pasti untuk menutupi apa yang ia rasakan, walau pada akhirnya Achille tak mampu untuk menutupinya lagi.
Kyle sebenarnya penasaran dan ingin menanyakan kejadian apa yang menewaskan pria tersebut dan 5 anggota lainnya, tapi mengurungkan niatnya setelah melihat Sanny yang berlarut-larut dalam emosinya.
__ADS_1
"Kami akan membunuhnya.." gumam Sanny dengan suara yang sangat kecil, namun Kyle dapat mendengarnya akibat jarak mereka yang tak terpisah jauh.
"Huh?" Kyle tersentak kaget saat Sanny tiba-tiba bangkit dan berdiri tegak, wajahnya sangat tegas dan segala kesedihan serta rasa bersalah sudah menghilang.
Sambil menatap Kyle dengan tajam, "Jika kau benar-benar dapat bertarung, mohon pinjamkan kekuatan mu. Biarpun kau tak bisa bertarung, tolong kami untuk menyiapkan perangkap untuk membunuh binatang sihir ini." ucap Sanny dengan membara.
Kyle sedikit heran dengan suasana yang sebelumnya memprihatinkan mendadak menjadi seperti penuh semangat, "Kau terlihat begitu membenci binatang sihir ini. Apa yang terjadi?"
Sanny menghela nafas, "Kau akan tau nanti.." Sanny tak ingin langsung menjawab pertanyaan Kyle.
"Sanny.. Kyle.." Berta mendatangi kedua orang itu sambil membawa dua buah mangkuk kayu yang mengeluarkan uap dari dalamnya.
"Apa ini?" Kyle bertanya setelah menerima mangkuk yang ternyata berisi cairan berwarna cokelat dengan suhu yang sangat panas.
"Itu adalah jamu agar kalian dapat bergerak di malam hari.." jawab Berta sambil tersenyum manis, setelah menjawab pertanyaan Kyle berlari kecil untuk mengantarkan jamu pada anggota yang lain.
"Sungguh, kalian seperti orang yang tidak pernah mengalami hal sedih sama sekali." komentar Kyle dengan spontan melihat gadis itu berlari dengan rasa bahagia yang ditunjukkan oleh wajahnya.
Sanny yang baru duduk kembali di samping Kyle menatapnya dengan tajam. Kyle merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya karena merasa telah mengatakan sesuatu yang menyinggung.
Saat Kyle sudah siap-siap Sanny akan mencaci atau setidaknya meneriakinya, Sanny malah menghela nafas sambil tersenyum tipis, "Baguslah jika kau merasa begitu. Kami tak ingin menunjukkan hal seperti itu karena kami berpikir kehilangan pasti akan dirasakan oleh semua orang pada masanya. Yang bisa kita lakukan adalah merasa senang saat bersama, bukan sedih saat berpisah."
Kyle terdiam mendengar ucapan penuh makna itu, sebenarnya ia lebih ke merasa lega karena Sanny tidak bertindak sesuai ekspektasinya.
Setelahnya Sanny dan Kyle berbincang beberapa hal, biarpun Kyle hanya mendengar Sanny yang menceritakan tentang pengalamannya selama berada di kelompok petualang ini dan kenapa ia memutuskan untuk berpetualang.
Dari cerita Sanny, Kyle menemukan fakta bahwa Sanny masih berusia 26 tahun, ia kira Sanny setidaknya berusia 20 tahun ke bawah berdasarkan penampilannya yang begitu muda. Memang di dunia ini penampilan bisa menipu karena seseorang yang memiliki mana yang cukup di tubuhnya akan awet muda dan usianya menjadi lebih panjang daripada orang biasa.
__ADS_1
Tapi Kyle merasa tidak adil, ia tahu mana di tubuhnya lebih banyak dari pada semua orang di kelompok petualang mereka, tapi usianya ratusan kali lebih pendek dari mereka.
Namun Kyle juga merasa ini adalah sebuah keuntungan juga baginya, karena ia bisa terus menambah umurnya dengan menggunakan inti sihir atau kristal unsur.