Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 10 - Masa Lalu Algar II


__ADS_3

"Hm?" pembunuh itu menolehkan pandangannya karena merasakan sesuatu. Ia mengangkat tangan kanannya yang seketika membatalkan serangannya.


CIUUTT! TAK!


Sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat ke arahnya, tapi ia sudah membaca gerakan panah tersebut seperti sebuah buku dan menangkapnya.


"Akhirnya kau muncul juga.." sang pembunuh mematahkan panah di tangannya dan hendak mengambil sebuah pisau di sabuknya.


Sang pemanah yang merupakan seorang elf berambut putih melirik Algar dan memberi tanda padanya dengan tatapan matanya.


"Aku sudah muak mengotori tangan ku dengan membunuh elf seperti kalian." pisau berwarna hitam legam telah ditarik dari sarungnya.


"Cepat beritahu sekarang.." tubuhnya berkedip dan menghilang. Pria elf yang sedang menunggangi seekor beruang besar terpental tiba-tiba setelah sang pembunuh menghilang.


"Kolliet..." Algar menatap khawatir pria elf itu namun ia harus melihat panah yang ditembakkan oleh elf bernama Kolliet itu.


Terdapat sebuah tulisan yang diukir pada panah yang sudah terbelah dua itu dan Algar langsung bergegas pergi meninggalkan lokasi tersebut tanpa mengatakan apapun.


Selama berlari ia menemukan beberapa pembunuh yang seperti sedang mencari sesuatu di sekitar mansion.


Keberadaan Algar mengalihkan perhatian mereka dan sekarang mereka mulai mengejar Algar satu persatu.


"Aku tidak bisa membiarkan mereka tahu keberadaan pintu rahasia. Namun aku juga harus segera menghampirinya." batin Algar setelah menoleh ke belakang, melihat belasan pembunuh mengejarnya.


Algar sebenarnya dapat menciptakan energi tajam dari unsur petir pada telapak tangannya dan menggunakannya selayaknya sebuah pedang untuk memotong, namun teknik itu adalah teknik yang baru saja ia kembangkan selama beberapa minggu.


Menggunakannya untuk bertarung dalam pertarungan yang bisa saja merenggut nyawanya sangat beresiko, tapi disisi lain Algar tidak punya pilihan lain.


Pisau yang dibawa oleh para pembunuh terlalu pendek untuk Algar, dia tidak terbiasa dengan cara bertarung seperti itu. Apalagi Algar adalah seorang petarung yang mengandalkan tombak.


Karena tidak punya pilihan lain, Algar memutuskan untuk bertarung dengan teknik yang tidak sempurna itu, "Setidaknya aku sudah menguasai dasar teknik ini walau hanya dapat digunakan untuk memotong, tidak seperti pedang yang bisa digunakan untuk menangkis dan bertahan."


Kedua tangan Algar mengeluarkan cahaya kuning dan percikan petir kecil. Setelah itu dia berhenti berlari dan dengan cepat berbalik badan, mengayunkan kedua tangannya beberapa kali pada belasan pembunuh yang mengejarnya.


Ayunan tangan Algar menghasilkan bilah angin berisi petir yang menebas beberapa pembunuh, namun tak langsung membunuh mereka yang terkena.


Algar mendecih, ia lupa bahwa kekuatan serangan tersebut akan berkurang semakin jauh serangan itu bergerak dari tempat awal ia menebas.


Pada akhirnya, Algar harus bertarung jarak dekat melawan para pembunuh itu. Ia terkadang menggunakan tinju, tendangan dan tebasan dengan ujung jarinya sebagai serangan fatal.

__ADS_1


Setelah membunuh tujuh atau delapan orang, seorang pembunuh dengan pakaian yang sedikit berbeda melompat dan mulai menyerangnya.


Algar terkejut karena pembunuh ini lebih cepat dan serangannya lebih mematikan daripada pembunuh yang ia lawan sebelumnya, "Sepertinya para pembunuh ini mempunyai sistem pangkat.." batinnya.


Di dahi topeng pembunuh itu terdapat batu zamrud berbentuk tengkorak, berbeda dengan belasan pembunuh lainnya dimana mereka mempunyai batu berwarna hitam di dahi topeng mereka.


"Mundur!" pembunuh itu berteriak yang ditujukan pada pembunuh lainnya di sekitarnya.


Ia mengambil pedang dengan bilah bergerigi yang digantung di punggungnya kemudian melompat mundur, memperlebar jarak dirinya dan Algar.


Algar tidak mengejarnya karena dia ingin mengambil beberapa napas setelah tanpa henti melawan belasan pembunuh, "Apa yang akan ia lakukan?"


Pembunuh itu memutar-memutarkan pedangnya ke udara dan perlahan membentuk pusaran angin yang mengelilingi tubuhnya. Algar tak tinggal diam, dia langsung melesat mendekati pembunuh itu dan menebasnya dengan tangannya.


Tapi serangannya langsung lenyap begitu saja dan lapisan angin yang tertebas kembali seperti semula.


Tak berhenti sampai disitu, dari pusaran angin itu keluar puluhan bilah angin yang menyebar ke segala arah. Bilah angin tersebut sangat tajam terbukti dari bekas sayatan besar yang ditinggalkannya saat mengenai tanah.


"Aku tak bisa membuang lebih banyak waktu!" pikir Algar sembari menangkis bilah angin dengan punyanya sendiri dan juga menghindar sembari mundur perlahan menjauh dari jangkauan serangan sang pembunuh.


Algar menatap ke sekitarnya, ada beberapa orang pembunuh yang sedang melihatnya. Tapi ia tak memedulikan mereka dan mulai berlari dari sana menuju suatu tempat.


"Bagaimana caranya melepaskan diri dari kejaran mereka? Mereka ada dimana-mana!" batin Algar berteriak frustasi di dalam hati.


"Roooaarrr!" terdengar raungan keras entah darimana.


BDUMMM!


Sebuah benda besar jatuh dan menimpa beberapa pembunuh yang mengejar Algar, "Searbear.." gumam Algar melihat beruang besar yang ditunggangi oleh Kolliet menghadang para pembunuh.


Searbear berbeda dengan beruang pada umumnya. Ia memiliki kaki depan yang lebih panjang dan memiliki jari layaknya manusia. Searbear merupakan binatang sihir dengan kekuatan unsur api.


Ia dapat menyemburkan api berbentuk cair atau mengubah bulu di tubuhnya menjadi kobaran api sesuai keinginannya, dan diatas itu semua Searbear adalah binatang sihir yang punya kecerdasan tidak selayaknya hewan.


***


Di kedalaman hutan yang jauh dari mansion, Algar berhenti berlari di depan sebuah pohon yang tampak biasa saja.


Namun terdapat sebuah jalan tersembunyi di sekitar akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah.

__ADS_1


"Baiklah.. Kurasa tak ada yang mengikuti ku.." Algar mengangkat sebuah pintu batu yang menutupi akses ke jalan tersebut.


Algar mengepalkan tinjunya dan cahaya kuning keluar dari kepalan tangannya, membuat lorong yang gelap gulita menjadi sedikit terang.


Pria itu mengelus dagunya, "Ada tujuh puluh tiga lorong yang saling berhubungan dan salah satu lorong itu adalah tempat ia seharusnya berada."


"Aku tak terlalu hafal dengan jalannya, tapi masih ada waktu untuk mencoba jika jalannya salah." lanjutnya.


Berikutnya Algar menyusuri lorong bawah tanah itu selama puluhan menit, mencari sebuah ruangan yang berada di antara lorong-lorong tersebut.


"Akhirnya!" Algar menemukan sebuah lorong yang lebih luas dari yang lainnya.


Ia terus berjalan di lorong itu hingga berakhir di depan sebuah pintu kayu dan memasuki nya, "Ah!" seorang wanita elf terkejut saat mengetahui pintu terbuka tiba-tiba.


Pencahayaan di luar ruangan yang begitu minim membuatnya tak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di luar ambang pintu.


"Oh, ternyata.." elf itu menghela nafas lega saat sosok yang merupakan Algar berjalan masuk.


Algar juga merasa lega melihat wanita elf itu dalam keadaan baik-baik saja, "Coba kulihat.. Anak yang sangat cantik.. Dia sangat mirip denganmu." ucap Algar saat mengamati seorang bayi yang berada dalam dekapan wanita itu.


Wanita elf itu tertawa mendengar pujian Algar, "Percaya tak percaya dia laki-laki.." ujarnya yang seketika membuat Algar mengerutkan keningnya.


"Laki-laki?" Algar yang tak percaya menatap wajah bayi itu untuk memastikan kembali.


Ia menggeleng dan tersenyum, "Kau pasti bercanda, Roirenna.." ucapnya masih tak percaya.


Roirenna tertawa kecil, ia tak ingin membuktikan ucapannya, "Bagaimana kondisi diatas?" tanya Roirenna dengan wajah serius.


"Aku.. Sangat kacau.. Kolliet sedang bertarung dengan seorang pria kurasa yang merupakan pimpinan.. Kurasa lagi.." Algar menjawab dengan tak yakin, tapi Roirenna mengangguk mengerti.


"Sedangkan tuan Arloi.. Mungkin saja ia telah meninggal." mendengarnya membuat Roirenna menarik nafas perlahan.


Ia menggigit bibirnya, merasa tak berdaya, "Ayah.. Maaf aku tak bisa melakukan apapun."


"Roirenna, masih ada waktu untuk lari. Aku harus menyelamatkan nyawa kalian terlebih dahulu." ucap Algar tiba-tiba.


Tak ada yang akan menyangka bahwa kehidupan dua keluarga elf yang damai di sebuah mansion akan hancur dalam satu hari.


"Baik.." Roirenna mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2