
"Aku harus memindahkan semuanya ke gerobak?" tanya Kyle.
"Yap.. Tak usah takut alat sihirnya rusak karena alat-alat itu sangat tahan terhadap kerusakan fisik."
"Oo.. Baiklah, aku akan mulai bekerja." ucap Kyle.
"Ya! Lakukan dengan baik ya. Aku pergi dulu!" wanita itu melambaikan pergi sambil melambaikan tangannya pada Kyle.
Kyle membalas lambaian tangannya, "Bahkan aku tidak tahu namanya." gumam Kyle.
Wanita tersebut bisa dibilang cantik, dia tinggi dan ramping dan secara fisik ia sudah menginjak usia 30an tahun.
Cukup langka untuk melihat wanita seusianya yang masih belum menikah, bahkan di mana-mana wanita akan menikah paling telat di usia 24 tahun.
"Apa mungkin dia sudah menika.." Kyle menghentikan pemikirannya yang tidak berguna. Sejak kapan dia peduli dengan status hubungan orang lain? Yang harus ia pedulikan sekarang adalah menjadi kuat.
Kyle masuk ke tenda di belakangnya, melihat kembali beberapa kotak berisi alat-alat dengan bentuk yang sangat beragam, sangat jauh berbeda dari alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kyle melepas ransel serta mantel kulitnya, kemudian ia meregangkan tubuhnya selama beberapa detik, "Huft, mari kita bekerja." gumamnya.
Setelah hampir satu jam mengemasi alat-alat sihir yang tergeletak dan juga memindahkan kotak berisi alat sihir ke dalam gerobak kereta, hanya tersisa satu kotak lagi sebelum pekerjaan Kyle selesai.
"Kenapa aku merasa penasaran dengan kotak ini?" dari semua kotak yang ada di tenda itu, hanya kotak tersebutlah yang ditutup sehingga membuat Kyle penasaran dengan isinya.
KREK..
Kyle memasukkan jarinya ke celah tutup kotak dan mengangkatnya, "Batu apa ini?" gumam Kyle bertanya-tanya saat melihat batu-batu sedikit transparan berwarna abu-abu gelap yang jumlahnya ratusan.
Kyle mengambil salah satu batu itu yang memiliki ukuran setengah dari telapak tangannya kemudian mengamatinya dengan seksama.
"Ah!" Kyle terkejut saat tangan kirinya yang menggenggam batu tiba-tiba mengeluarkan garis-garis cahaya di bagian bawah kulit nya yang sontak membuatnya melempar batu itu.
"Apa yang terjadi?" ia menyadari bahwa garis-garis cahaya itu menjalar dari tangan bagian atasnya dan sekarang bergerak mundur dari telapak tangannya.
"Kondisi ini sangat mirip seperti saat aku dihidupkan kembali dan saat pertama kali aku menggunakan mana.." pikir Kyle.
Kyle meyakini bahwa garis cahaya tersebut merupakan aliran mana di tubuhnya yang mengeluarkan cahaya saat ia mengalirkan mana dengan intens ke titik tertentu.
Namun dalam kasus ini, Kyle tidak mengontrol aliran tersebut melainkan aliran mana di tubuhnya bergerak sendiri menuju ke telapak tangannya yang menggenggam batu abu-abu itu.
Kyle pun mengambil batu yang ia jatuhkan tadi karena ingin mencoba apa yang akan terjadi jika ia membiarkan aliran itu sampai ke telapak tangannya.
__ADS_1
"Ini..." Kyle tidak mampu berkata-kata saat aliran di ujung jarinya mulai menyebar ke permukaan batu tersebut. Tidak hanya itu, batu yang berwarna gelap mulai bercahaya seiring garis bercahaya bertambah banyak.
Dalam waktu singkat batu itu menghilang setelah mengecil dengan kasat mata, "Apa yang terjadi?" tanya Kyle pada dirinya sendiri sambil menatap aliran mana di tubuhnya yang perlahan meredup mulai dari telapak tangannya hingga ke lengan atasnya.
"Sepertinya tubuhku menyerap batu itu." gumam Kyle menarik kesimpulan walau sebenarnya ia tidak yakin apa yang terjadi padanya tadi dan batu apa yang berada di dalam kotak itu.
Kyle ingin mengetahui lebih banyak tentang batu yang berada di dalam kotak terakhir, tapi mereka bukan miliknya sehingga Kyle harus mengurungkan niatnya untuk menelitinya dan membawa kotak tersebut ke dalam gerobak kereta yang diparkirkan di luar tenda.
"Hah.. Akhirnya selesai juga." Kyle duduk di atas sebuah batu di dekat kereta sambil mengibaskan tangannya.
"Hm?" Kyle menolehkan kepalanya kebelakang karena menyadari seseorang melangkah di belakangnya.
Tapi dia tidak menemukan seseorang di belakangnya, "Aneh.." batin Kyle.
"Ahh!" Kyle melompat mundur begitu menoleh ke depan karena seseorang berdiri tepat di hadapannya.
"Hmm.. Kau bahkan tidak bisa merasakan kehadiran ku yang berdiri tepat di hadapanmu. Kau tidak layak untuk berpergian bersama kelompok kami dan menghadapi bahaya!" cemoohnya.
Kyle menunjukkan ekspresi jengkel, tapi ia menahan diri untuk mengeluarkan kata-kata balasan karena masih tidak ingin memiliki permusuhan di kelompok.
"Maaf, memang tidak terlalu waspada saat merasa berada di tempat aman." ujar Kyle.
"Apa? Bongkar muatan? Apa bedanya dengan aku bekerja sebagai kuli di kota?" Kyle tentu saja kurang menerima posisinya di dalam kelompok tersebut.
Posisi tersebut sangat jelas telah merendahkan Kyle, "Jika kau ingin protes, protes saja pada Jose. Aku hanya menyampaikan apa yang ia katakan, wlee!" ucap Sanny sebelum menjulurkan lidahnya pada Kyle.
Sanny berbalik badan dan meninggalkan Kyle sendirian dengan hati yang puas, "Ahh, sudah lama sekali aku tidak mengejek orang sepuas ini." ucapnya dengan riang di dalam hati.
Sementara itu Kyle kembali duduk di atas batu sambil mengelus dagunya, "Bagiku ini memang sudah keterlaluan. Tapi mereka tidak mengetahui kekuatan ku jadi yah.. Namun aku ingin mengikuti alurnya saja." batin Kyle.
Kyle punya rencana tersendiri untuk melampiaskan kekesalannya atas posisi yang begitu rendah dalam kelompok Achille, dan salah satu bagian dari rencananya adalah dengan mengikuti alur yang telah ditetapkan atau dengan kata lain melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa protes.
"Hehehe..." Kyle menggosok-gosok telapak tangannya sambil tersenyum sendiri.
...\=\=\=...
Malam harinya, setiap anggota kelompok Achille berkumpul mengelilingi api unggun. Biasanya mereka akan bernyanyi bersama untuk mengiringi petualangan di alam mimpi mereka saat tidur. Seperti itulah yang Achille jelaskan.
Tapi kegiatan malam ini tidak hanya bernyanyi saja, melainkan upacara bersulang untuk merayakan kehadiran anggota baru dalam kelompok petualang. Ucapara bersulang adalah kegiatan yang dapat ditemukan di kelompok petualang manapun. Karena kegiatan ini sudah seperti tradisi yang tak bisa dilepaskan dari para petualang.
"Berta! Siapkan minuman kerasnya!" teriak Achille yang berdiri di depan api unggun.
__ADS_1
"Baik!" seorang gadis yang membawa sebuah tong berisi minuman keras mulai menuangkannya pada cangkir yang terdapat di depan tiap-tiap anggota kelompok kecuali Kyle, karena tidak ada cangkir yang diletakkan di depannya.
Tapi setelah semua cangkir anggota kelompok telah terisi, Berta kembali pada Kyle dan meletakkan tong itu di depannya.
Melihat persiapannya sudah selesai, Achille pun angkat bicara, "Malam ini, adalah malam yang spesial untuk kesekian kalinya. Tapi, inilah kehidupan kita para petualang. Mencari sesuatu yang spesial di dunia ini.. Kemudian menikmatinya bersama-sama, memperjuangkannya bersama-sama, melindunginya bersama-sama. Untuk itu, maukah kita bersumpah untuknya? Untuk bersama-sama berjuang, dan sama-sama melindungi? Kita semua spesial, maka dari itu kita harus menemukan hal spesial lainnya agar tidak menganggap diri kita lebih spesial! Itulah petualang! Selamat datang di dunia petualang!" Achille mengangkat cangkirnya setinggi mungkin, diikuti dengan sorakan oleh anggotanya.
Kyle yang bingung memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, "Perlu bantuan?" Achille tiba-tiba sudah berdiri di depan Kyle.
"Y-ya.. Apa yang harus ku lakukan?" tanya Kyle kebingungan.
"Hahaha! Cepatlah bangun dan bersulang dengan kami semua! Kau adalah anggota baru! Cepat-cepat!" pria cungkring berambut mohawk berbicara dengan nada tinggi sambil tertawa keras.
"Begitu.." Kyle pun berdiri. Tapi ia masih bingung, bagaimana cara bersulang sedangkan dirinya tidak memiliki cangkir.
Melihat kebingungan Kyle, Achille tersenyum tipis, "Kau harus mengangkat tongnya dan bersulang dengan anggota. Tapi jika kau tidak sanggup bisa gunakan cangkirku.." ucapnya sambil menggerak-gerakkan cangkir di tangannya.
"Terimakasih, tapi.." Kyle mencengkram tepian tong itu dan mengangkatnya hanya dengan jarinya saja.
Beberapa anggota kelompok menyadari hal itu, tapi sisanya sibuk bersenda gurau satu sama lain.
"Hey! Sulang aku dulu!" Alvaro yang berdiri tidak jauh menyodorkan cangkirnya, tapi pria di sampingnya juga menyodorkan cangkirnya tidak mau kalah.
"Jangan! Sulang denganku terlebih dahulu!"
"Aku!"
"Tidak! Aku!
"Aku saja, Kyle!"
"Umm.." Kyle menggaruk pipinya karena antusiasme mereka.
"Sudah-sudah! Ayo kita bersulang bersama!" pria yang sebelumnya membawa pedang besar berinisiatif untuk menyelesaikan rebutan sulang itu.
"Setuju!" setiap anggota mulai berdiri dan mengerumuni Kyle.
"Eh!" Kyle mengangkat tongnya, tak ingin minuman di dalamnya tumpah.
"Benar! Angkat setinggi mungkin!" mereka mulai mengetuk tong tersebut dengan pinggir cangkir masing-masing.
"Bersulang!"
__ADS_1