Tales Of The Void

Tales Of The Void
Ch. 11 - Masa Lalu Algar III


__ADS_3

Baru beberapa langkah berjalan, Algar berhenti berjalan karena Roirenna menarik lengan bajunya secara tiba-tiba dan menyodorkan bayinya.


"Ap-" Algar tampak kebingungan dan ingin mengutarakan pertanyaan, namun ia terlambat saat melihat sebuah bilah bergerigi menembus dada Roirenna, menyipratkan darah ke wajah Algar yang shock.


Mata Roirenna melebar, ia melepaskan bayi di tangannya dan Algar dengan sigap menangkap nya walau shock yang ia rasakan belum pulih.


Setelah melepas bayi di tangannya Roirenna menggenggam bilah pedang di tangannya, menahannya dengan tenaganya yang tersisa agar pedang itu tidak dapat ditarik dari tubuhnya.


"Lepaskan.." pembunuh dengan batu zamrud di keningnya berucap dengan gusar.


"Algar lari!" Roirenna berteriak kencang pada Algar yang berdiri membeku, diam menatap dirinya yang bersimbah darah.


Algar tersentak, ekspresi nya berubah dari yang awalnya kaget menjadi tidak percaya, "Roirenna?" ia bergumam.


"Lari.. Algar!" Roirenna berteriak lagi tapi suaranya lebih lemah.


"Tch! Berikan aku bayi itu." sang pembunuh melepaskan pedangnya dan berjalan kearah Algar sementara Roirenna jatuh berlutut.


"Algar dia menginginkan anakku! Lari.. Kumohon.. Anakku!" dengan suara parau Roirenna berteriak lagi dan memohon.


Terjadi konflik batin di hati Algar, ia tidak ingin meninggalkan Roirenna dan membiarkannya mati di tempat ini. Algar sudah kehilangan cukup banyak pada saat ini..


Namun di sisi lain, Roirenna sudah sekarat. Ia tidak yakin dapat menyelamatkan nyawa Roirenna dan bayinya jika ia benar-benar bertarung di ruangan itu.


"Maaf Roirenna.." Algar berbalik badan dan berlari sekencang mungkin, meninggalkan Roirenna yang bersimbah darah beserta sang pembunuh di belakangnya.


Roirenna hampir terjatuh tapi ia berhasil menopang tubuhnya dengan tangannya, "Aku.. Tidak akan.. Membiarkan mu menyentuh anakku!" teriak Roirenna.


Wanita elf itu menghentakkan kedua tangannya ke tanah, menciptakan getaran hebat di dinding ruangan dan lorong.


Sang pembunuh terkejut dan melirik sekilas ke arah Roirenna, "Kau ingin mati?!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Ya! Dan aku akan membawamu bersama ku!" sahut Roirenna dengan tanpa ragu.


...\=\=\=...


Saat berlari Algar dapat merasakan dinding dan langit-langit lorong bergerak dan bergetar, ia Roirenna yang melakukan nya dan ia hanya bisa pasrah.


Terdengar samar-samar suara tangisan bayi di pelukannya yang membuat Algar meneteskan sedikit air mata.


"A-aku tidak mengerti... Semuanya terjadi begitu cepat.. Apa yang harus kulakukan lagi? Kemana aku harus pergi?" batin Algar.


Algar tak bisa menggambarkan lagi emosi seperti apa yang harus ia rasakan, ia sudah kehilangan hampir segalanya.


Sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan, sosok teman, dan orang-orang yang telah merawatnya sejak kecil.. Semuanya sudah tiada.

__ADS_1


Lantas, apa yang tersisa pada dirinya saat ini? Yang tersisa hanyalah penyesalan dan keinginan balas dendam.


Pada akhirnya amarah menyeruak di dada Algar, ia berhenti berlari dan melompat ke atas, meninju langit-langit lorong sekuat tenaga hingga hancur dan tembus ke permukaan tanah.


"Huft.." Algar menghembuskan nafas berat karena kepalan tangannya terasa remuk.


Algar membaringkan bayi laki-laki Roirenna di atas sebuah batu kemudian berlari ke arah mansion dengan gila.


Emosi tak tertahankan miliknya mengakibatkan kekuatan unsurnya tidak stabil, tanpa ia sadari tubuhnya mengeluarkan percikan petir.


"Aaarrgghh!" ia berteriak sangat keras saat melihat mansion yang sudah hancur setengah.


"Apa?!" mendengar teriakan menggelegar itu para pembunuh terkejut dan kebingungan.


Mereka menatap ke sumber suara dan menemukan sekelebat cahaya kuning berkedip menuju ke arah mereka dengan sangat cepat.


"It- Akkhhh!" pembunuh tersebut belum sempat menunjuk dan lehernya telah ditebas menggunakan tangan.


"Pria yang tadi! Bunuh dia!"


CRAASSHHH!


Algar mengayunkan tangannya dengan membabi buta, ia tidak memikirkan serangan yang datang padanya, alhasil beberapa serangan berhasil mengenai tubuhnya tapi ia tidak berhenti sama sekali.


Gerakan Algar semakin cepat dan mengerikan setiap pembunuhan yang ia lakukan.


Beberapa kelompok pembunuh mendatangi nya setelah keributan yang dihasilkan, tapi tidak ada satupun dari mereka yang maju untuk menyerangnya.


Mereka semua menatap Algar dengan bekas teror dan ketakutan di wajah yang mereka sembunyikan, di mata mereka Algar yang berdiri di antara puluhan mayat sudah tampak seperti seorang dewa kematian.


"..Mati.." Algar yang sedari tadi hanya diam membisikkan sesuatu yang tak dapat didengar dengan jelas.


Tapi satu hal yang pasti, tatapan kosongnya tampak begitu mengerikan di balik darah pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


...\=\=\=...


Puluhan menit kemudian, ratusan pembunuh di sekitar mansion sudah terbabat habis oleh Algar sendirian.


Tak tampak ada sosok lain yang berdiri di sana kecuali dirinya sendiri, "Aku masih hidup?" Algar menatap telapak tangannya. Ia tak bisa melihat kulitnya sendiri karena darah.


"Aku mengerti kenapa pembunuh kami tidak dapat bekerja secara maksimal.." suara seseorang terdengar, namun Algar menghiraukannya.


"...Karena mereka masih memiliki sesuatu yang berharga. Mereka masih ingin melindungi hal tersebut dan tidak merelakan nyawa mereka untuk yang lainnya." lanjutnya.


"Hoeeekk! Hooeekk!" Algar dengan cepat menolehkan wajah ke asal suara tangisan bayi.

__ADS_1


Ia melihat seorang pembunuh yang sebelumnya bertarung dengan Kolliet, "Kau.." Algar menatap tajam pembunuh itu.


"Apa yang kau cari? Kenapa semua ini harus terjadi?" tanya Algar dengan suara bergetar karena menahan amarah.


"Aku hanya ingin kalung di bayi ini saja.." sang pembunuh menunjukkan kalung yang terbuat dari semacam kayu berwarna hijau gelap.


Setelah menunjukkannya sesaat pada Algar ia memasukkan kembali kalung tersebut ke saku jubahnya.


"Sekarang saatnya mati!" ia menjetikkan jarinya sekali, memunculkan setitik api di atas kepalanya.


"Aku sudah sangat lelah.." Algar yakin dirinya tak akan mampu untuk bergerak dan menghindar dari serangan yang mungkin akan dilakukan oleh pembunuh bertopeng itu.


Titik api mulai bergerak perlahan, sementara Algar hanya menatap api tersebut tanpa ada niatan untuk menjauh sedikitpun karena berdiri saja sudah sangat sulit baginya apalagi menggerakkan kakinya.


Api yang sebelumnya hanya sebesar kuku kelingking pria dewasa langsung berubah menjadi kobaran besar yang melahap Algar secara keseluruhan, "Aaaarrgghhh!" Algar langsung berteriak keras begitu api melahap tubuhnya.


"Hoeeek! Hoeekk!" putra Roirenna yang berada di tangan pembunuh menangis lebih kencang, membuat sang pembunuh jengkel.


"Diam! Sekarang giliran mu.." ia mengangkat tangannya.


"Apa.." bayi di tangannya tiba-tiba menghilang dan ia hanya melihat sekelebat kilat berwarna merah melintas di depan matanya.


Saat ia melihat ke depan, siluet Algar sudah menghilang dari dalam kobaran api yang ia ciptakan.


"Hmm.." ia menghembuskan nafas ringan sambil membalikkan badannya, ia dapat melihat cahaya merah perlahan menjauh darinya dengan kecepatan tinggi.


"Tugasku sudah selesai. Pria itu juga sudah hampir sekarat, dia tidak akan bisa bertahan lama di tengah hutan." batinnya.


Di sisi lain Algar yang telah berhasil merebut bayi Roirenna sudah berada sangat jauh dari area mansion dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa dari dirinya dan juga dorongan terakhir.


"Roirenna.. Aku hanya bisa... Sampai di sini.. Mungkin.. Aku.." gerakan Algar terus melambat dan ia terjatuh dengan bayi yang menangis di pelukannya.


...\=\=\=...


"Grrhh.."


Samar-samar terdengar suara geraman saat Algar perlahan meraih kesadarannya kembali, "Oeekk.. Hooeekk.." ia juga mendengar suara tangisan bayi.


"Bayi.. Monster?" batin Algar masih dengan mata yang tertutup.


Setelah beberapa saat Algar teringat tentang tangisan anak bayi Roirenna dan ia langsung membuka matanya dan bangkit.


Algar terlihat kebingungan dan matanya menyisir ke sekitarnya, "Aku sepertinya pernah berada di tempat ini?" Algar berusaha berdiri dengan menjadikan dinding gua sebagai topangannya.


"Grrhh.."

__ADS_1


"Searbear?" di depan gua Algar melihat Searbear yang sedang menatap bingung ke bayi yang menangis keras.


Tanpa dirinya sendiri sadari, sebuah senyuman menghiasi wajahnya, "Syukurlah kau masih hidup! Searbear!"


__ADS_2