
Bos Amel berusaha memberanikan diri berkomunikasi dengan wanita kuntilanak itu. Bos Amel berkata
" Apa yang kau inginkan dariku?" tanya bos Amel dengan suara bergetar
"Ha ha ha, kau ingin tahu apa yang aku inginkan?" Lihatlah dulu apa yang terjadi terhadapku disini" Jawab sang kuntilanak sambil menunjukkan kukunya yang sangat panjang.
Sang kuntilanak akhirnya mengajak bos Amel ke sebuah tempat yang tak asing baginya. Sebuah tempat yang ada di pojok pabrik dan ada rumah di sana. Sebuah rumah yang sangat megah dan sangat bagus perabotannya.
__ADS_1
"Loh, ini kan letaknya dibelakang pabrik milikku, kenapa ada rumah semegah ini tanpa aku tahu." Setahuku saat aku kesurupan, aku diberitahu salah satu karyawanku bahwa di tempat ini ada sebuah batu nisan. Apakah wanita ini pemilik Nisan itu." Gumam bos Amel bertanya tanya. Dengan masih menggenggam tangan sang nenek, bos Amel akhirnya ikut ke rumah megah milik sang kuntilanak itu.
Sang kuntilanak mulai memandang ke arah bos Amel dan berkata
"Ingat, ini adalah rumahku, jangan ganggu kebahagian ku dengan menghilangkan rumahku" Jika itu sampai terjadi, aku akan menghabiskan karyawan mu satu persatu. Jika mereka bertahan tetap bekerja di sini, mereka akan sakit sakitan, dan yang sadar akan kehadiran ku, mereka akan keluar dari pabrik ini" ucap sang kuntilanak geram.
Beberapa lama setelah sang nenek dan bos Amel berbincang dengan sang kuntilanak, muncul beberapa kuntilanak lain yang tiba tiba saja hadir dan mendekati nenek tua dan bos Amel. Mereka seakan ingin mencakar tubuh sang nenek hingga membuat bos Amel semakin sulit untuk konsentrasi.
__ADS_1
Sang nenek mulai duduk dan bersemedi. Sang nenek tua berkata pada bos Amel
" Bos Amel, tampaknya dupa yang telah kita hidupkan telah habis" Ayo secepatnya kita pergi dari sini" ajak sang nenek tua. Nenek tua langsung menarik tangan bos Amel agar secepatnya bisa pergi dari alam demit.
Kuntilanak yang awalnya hanya diam saat melihat ke arah Bos Amel, kini mulai mengganas karena sesajen makanan dupa sudah mulai habis. Dengan terburu-buru, nenek tua dan bos Amel berlari menuju ke sebuah celah kecil yang merupakan perbatasan antara dunia dedemit dan dunia manusia. Secara tak sengaja, alas kaki milik bos Amel tertinggal di alam dedemit dan hal itu tak dihiraukan oleh bos Amel karena waktu mereka sudah tinggal sedikit lagi. Hingga akhirnya tubuh bos Amel dan sang nenek terpental dan jatuh kembali ke dunia manusia, dan tepatnya mereka berada di kantor milik bos Amel.
Tak lama kemudian bos Amel mulai sadar dari pingsan nya. Bos Amel mulai melihat ke sekeliling ruangan dan ternyata benar dugaannya. Dirinya saat ini berada di ruang kerjanya semula. Asap dupa yang mengepul di sekitar ruang kerjanya sudah mulai habis. Sesajen yang telah disediakan oleh nenek tua, sudah hilang entah kemana. Yang ada hanya sisa tulang belulang
__ADS_1
"Nek, kau tidak apa apa?"tanya bos Amel yang saat itu mulai bisa berdiri. Terlihat sang nenek tua masih memecahkan matanya tanpa bergerak sama sekali.
Bos Amel segera menghampiri sang nenek tua untuk membangunkannya