
Ustad Janu berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Jalanan dimana Santo diperkirakan melewati jalan itu. Di samping kanan dan kiri jalan itu ternyata banyak lelembut yang bermain main menggoda ustad Janu. Tampak nya lelembut penghuni jalan itu tidak ada sangkut pautnya dengan sang kuntilanak yang saat ini dicari ustad Janu.
Hanya saja ustad Janu masih saja meladeni beberapa lelembut yang menyapa nya ketika dirinya melewati jalan itu.
"Pak ustad, mampirlah sebentar di gubuk kami?" Kau sedang mencari siapa?" tanya salah satu lelembut dengan tubuh cebol
"Aku sedang mencari Santo" Kau mau bantu mencarikan?" tanya ustad Janu sedikit kesal.
Lelembut itu akhirnya berputar-putar mengelilingi ustad Janu yang saat itu sedang berjalan tergesa-gesa.
"Hem, kenapa kau menghalangi jalan ku?" Waktuku tak banyak" Lebih baik kau pergi dari sini" Jika tidak, mantra doa ku akan memnuat tubuh mu jadi panas" ujar ustad Janu sedikit mengancam.
"Ustad, aku akan membantu mencari keberadaan Santo kalau kau mau" Tapi aku mau minta imbalan" jawab lelembut itu mulai merayu ustad Janu.
"Apa imbalan yang kau ingin kan?" tanya ustad Janu kesal
"Yah, ustad" Beberapa hari ini, aku sudah tak punya majikan lagi" Majikan ku telah meninggal" Dan beberapa hari ini aku tak makan" Aku hanya butuh makan saja" jawab lelembut cebol itu.
__ADS_1
Ustad Janu mengangguk kan kepalanya dan tampak nya mengerti apa yang diinginkan oleh lelembut cebol itu.
Dengan akal nya, ustad Janu pergi ke sebuah toko dimana di toko itu dijual berbagai macam kemenyan dan barang klenik lain.
Pak tua Seno, yang menjaga toko itu.
"Permisi, pak Seno, aku ingin membeli dupa dan kemenyan" ucap ustad Janu pada pak Seno
"Oh ya ustad, masuklah" pilih saja barang nya" jawab Seno sambil menunjukkan barang dagangannya
"Cebol, aku uda membeli bahan untuk kau makan" Sekarang, kau tunggu di sini" Aku akan pergi ke warung bi ipah untuk membeli ayam goreng" ujar ustad Janu.
Lelembut cebol pun terlihat senang karena ada manusia yang sudah berbaik hati kepadanya. Dengan setia lelembut cebol itu menunggu kedatangan ustad Janu yang saat itu masih mau membeli ayam goreng.
Tak menunggu lama, ustad Janu kembali menemui demit cebol yang rupanya dengan setia menanti kedatangannya.
"Cebol, berdirilah di sana" ujar ustad Janu sambil menunjuk ke sebuah pohon besar dimana di sana tampak suasananya sepi dan gelap.
__ADS_1
tanpa banyak bertanya, demit cebol itu berlari menuju ke bawah pohon beringin itu. Sementara itu ustad janu mulai melakukan ritual yaitu meletakkan ayam goreng dan di samping nya ada kemenyan dan dupa yang sudah mulai dinyalakan.
Asap mulai mengepul dan bau harum mulai sampai ke hidung demit cebol.
"Cebol, makanlah sampai kenyang" Makanan mu sudah siap tuh" ujar ustad Janu pada demit cebol.
Betapa bahagianya sang demit melihat makanan yang sangat lezat ada di depannya. Tanpa menunggu waktu lama demit cebol mulai memakan makanan ayam goreng yang dihidangkan oleh ustad Janu.
"Gimana rasanya?" enak?" tanya ustad Janu pada sang demit
"Hem, enak ustad, aku sudah mulai kenyang nih" jawab demit cebol tersenyum senang.
"Yaudah, kalau kenyang, sekarang tunjukkan keberadaan Santo" Apakah kau melihatnya?" tanya ustad Janu pada demit cebol.
Demit cebol mulai melihat ke sekitar nya dan rupanya demit cebol mulai tahu keberadaan Santo yang tak jauh dari tempat itu.
"Ustad, aku melihatnya, Santo berada di bawah pohon itu" ujar demit cebol sambil menunjuk ke arah pohon yang mirip dengan pohon tempat dimana demit cebol dan dirinya berada.
__ADS_1