TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapter 11


__ADS_3

Alex dan Jesse memutuskan untuk berbicara disebuah restaurant ternama. Sebenarnya ini adalah keputusan sepihak yang diambil Jesse. Alex menerimanya karena ia pikir memang sudah waktunya untuk menyelesaikan hubungan mereka berdua. Agar dirinya bisa terbebas dari Jesse, dan kembali kepada kekasihnya.


“Sekarang jelaskan. ” titah Alex dingin, menatap tajam Jesse yang tersenyum penuh arti kearahnya.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Sayang. Aku sudah kembali, mari kita membangun rumah tangga yang harmonis. ” balas Jesse centil, dengan gayanya yang dibuat-buat. Alex membuang nafasnya gusar, ia harus bijak dalam mengambil langkah untuk keluar dari dalam kehidupannya dengan Jesse.


“Jangan berbicara omong kosong Jesse! Atau kau akan menerima akibatnya! ” Ancam Alex tajam, berhasil membuat wajah Jesse yang tadinya masih tersenyum berani menjadi diam tak berkutik. Ancaman Alex tak pernah main-main. Dan itu, yang sudah Jesse ketahui sebagaimana sikap Alex selama ini.


“Seharusnya kau sadar Alex. kau pikir aku tidak tahu hah?? Kau main dibelakang denganku 'kan. ” sergah Jesse berusaha mengalihkan topik.


Alex terkekeh hambar, yang membuat bulu kuduk Jesse meremang karena ketakutan. “Kau pikir kau siapa Jesse? Kita tidak pernah memiliki hubungan. Dan sekarang aku akan mengakhiri nya.” Tegas Alex menunjuk wajah Jesse dengan jari telunjuk nya.


“Alex? Apakah kau lupa? Apa yang kau perbuat kepadaku akan berimbas pada kesehatan Ibumu?! ” Ujar Jesse dengan mata yang membesar, memperingatkan.


“Jika dulu aku tidak menceraikanmu karena Ibuku. Sekarang Ibuku sendiri, yang akan menyetujui perceraian kita.” jawab Alex tajam. Jesse mengepalkan kedua tangan nya erat. Ia sangat kesal sekarang, sejak dulu, ia selalu kalah telak jika memulai perdebatan dengan Alex.


“Terserah kau Alex! Jangan kau pikir, dengan hadirnya bocah manja itu, kau bisa menghindar dariku. TIDAK AKAN! ”


Jesse langsung bangkit dari duduknya dengan cepat. Tangannya menyambar tas selempang mahal yang tergeletak diatas meja bundar dengan kasar. Alex tak mempedulikan pandangan orang-orang yang menuju kearahnya. Tujuan nya saat ini hanyalah ingin pulang, agar bisa bermanja dengan kekasih kecilnya.


...★★★...


Alex memasuki apartement dengan tergesa-gesa. Saat kakinya sudah menapak di ruang tamu, ia segera melemparkan tas kerja dan juga dasi di sembarang tempat. Aroma makanan menyeruak masuk kedalam indra penciuman nya, sangat membuat Alex tergiur untuk merasakan masakan yang pasti kekasih kecilnya buat.


Sebelum melangkah lebih jauh, ia sudah mengunci pintu kembali dengan finger print. lalu Alex membuka kancing kemejanya yang tampak lusuh hingga berhenti diatas perut kotak-kotak miliknya. Seyum tipis Alex mengembang melihat Abigail yang sedang sibuk berlenggok-lenggok dengan alat masakan.

__ADS_1


Alex menjilat bibirnya, menangkap pemandangan bokong Abigail yang tampak bergoyang mengikuti gerakan memasaknya yang seolah seperti seorang profesional. Alex langsung menghampiri Abigail, ia lingkarkan kedua tangannya di perut Abigail. Tubuh Abigail sempat menegang kaget, namun tahu siapa yang memeluk nya, Abigail kembali relaks.


“Bubu....” Alex menyingkap juntaian rambut Abigail yang menutupi leher gadis itu. Ia menyampirkan seluruh rambut Abigail untuk berada di sisi kanan leher Abigail. Sedangakan di sisi kiri, Alex biarkan terbuka, agar bibirnya dapat mengeksplor leher jenjang Abigail dengan mudah.


“Tadi siapa. ” tekan Abigail tanpa basa-basi sedikitpun. Abigail berusaha tidak menarik ulur waktu, hanya untuk membuat Alex peka. Ia hanya ingin langsung bertanya, dan menerima jawaban dari Alex.


Alex menyeringitkan keningnya bingung. Namun bibirnya semakin merembet kebawah pundak, melewati permukaan depan Abigail. Tinggi Alex sangatlah kontras dengan Abigail, yang pendek dan juga mungil, namun dengan bentuk tubuh bak gitar Spanyol. Membuat Alex mudah mengecupi kulit Abigail yang mengenakkan dress rumahan. Kalau orang Indonesia sebut sih, namanya daster.


“Tadi siapa!” Abigail meninggikan volume bicaranya, saat wajah Alex sudah mendusel diatas permukaan dadanya yang tertutupi apron.


“Siapa apasih, Bu? ” Alex mengangkat wajahnya dari permukaan kulit Abigail. Ia memutar pundak Abigail, sambil mematikan keran cuci piring yang menyala dibelakang tubuh Abigail. Abigail tak menjawabnya, namun ia tetap memasang wajah cemberut.


“Bubu....” rayu Alex menggendong Abigail di depannya. Ia menaruh tubuh Abigail diatas meja makan yang masih kosong. “Ada apa hmm? ” tanya Alex menaikkan kedua alisnya sekilas.


Abigail mengalihkan pandangannya. Ia tiba-tiba menjadi malu, merasakan jarak kedekatan diantara wajah mereka. “Hubby enggak usah pura-pura nggak tau deh! Tadi yang dikantor siapa! Pantesan gak bangunin bubu kerja! Orang dikantor aja lagi main-main sama cewe! ” gumam Abigail mengerucutkan bibirnya kesal.


“Kalau hubby jujur, emang bubu bakalan enggak cemburu??” Alex mencondongkan wajahnya tepat didepan wajah Abigail. Bibir mereka hampir bersentuhan, namun Alex menarik bibirnya kembali. Tanpa sadar hal itu membuat Abigail semakin cemberut saja.


“Whatever!” Abigail berusaha mendorong dada bidang Alex yang sangat dekat dengannya.


“Bubu-ku sangat sensitif sekali. Ada apa, Bubu?” Alex menangkup rahang Abigail dengan kedua tangannya. Abigail menggeleng tegas, dengan bibirnya yang terkatup rapat. Menahan isakan yang rasanya ingin lolos.


“Kalau tidak mau jawabannya yasudah.” Alex memutar balik tubuhnya untuk menjauh. Namun Abigail langsung mencegahnya, dengan melingkarkan kedua kakinya di sisi pingggang Alex. Hingga Alex tertarik mundur.


“Iihh! Bubu lagi serius juga. Taadi cewe yang cium hubby siapa??” Hentak Abigail melingkarkan kedua tangan nya pada perut Alex dari belakang. Wajahnya ia benturkan hijgga berulang kali pada punggung Alex.

__ADS_1


Tidak membuat Alex merasa kesakitan. Namun membuat pria itu khawatir jika kekasihnya lah yang akan merasa kesakitan.


Alex memutar tubuh kembali. langsung ia tenggelamkan wajah Abigail yang basah karena air mata di dekapannya. Alex mengusap punggung Abigail yang bergetar secara naik turun.


Keningnya menyeringit heran saat bubu-nya sangat mudah menangis akhir-akhir ini. Alex yakin bukan karena faktor umur Abigail yang masih muda membuat Abigail jadi mudah menangis, apalagi jika berada di dekat nya. Pasti ada suatu hal yang membuat Abigail menjadi semakin sensitif. Dan mudah marah akhir-akhir ini.


“Hubby selingkuh kan.”


“Tadi di kantor hubby lagi ciuman.”


“Hubby udah berpaling kan dari bubu!”


“Ssttt. ” desis Alex mengakhiri racauan Abigail yang terus saja merengek sambil menyusut cairan lengket yang keluar dari hidung, menggunakan kemeja yang ia kenakan.


“Bubu tidur aja ya? Yang tadi itu ga seperti sama apa yang Bubu pikirkan.” ujar Alex dengan suaranya yang maskulin. Abigail juga mengantuk, dirinya yang terlalu naif dan lugu, samasekali tak ingin membantah atau memperpanjang topik ini.


Alex pun mengangkat tubuh Abigail dalam gendongannya. Erangan Abigail perlahan mulai mengecil, digantikan oleh dengkuran halus gadis itu. Abigail sudah tertidur, dan Alex masih sibuk dengan fikirannya. Entah kenapa perasaannya merasa janggal. Sikap Abigail membuatnya curiga. Bahwa gadisnya itu sedang,


Alex menggelengkan wajahnya cepat.


Tubuhnya bangkit dari kasur setelah meletakkan Abigail diatas ranjang. Ia masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Dibawah guyuran shower, pikirannya masih terus menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Pada akhirnya, tekadnya sudah bulat untuk membawa Abigail ke Dokter, esok hari.


...★★★...


Jesse : Jessie

__ADS_1


Satu orang yang sama. Hanya saja author kadang suka nge-bug pas nulis, jadinya kadang jadi Jesse bukan malah Jessie.


__ADS_2