
“ Tolong jaga putriku. ”
Sekian detik mendengar ucapan Roy, mata Alex langsung mengerjap ringan, ia melirik Abigail yang juga mematung, Troy pun sama seperti mereka, ia terdiam mencerna, Roy tidak mengulangi kalimatnya lagi, tangannya terulur mengusap pucuk kepala Abigail pelan.
Mata Abigail tak luput dari tatapan lembut ayahnya, yang sudah jarang sekali ia lihat, Roy yang sedari dulu selalu melimpahkan segala hal untuknya, walau dalam kasih sayang, kedua orangtua nya memang terbilang minus.
“Putriku sudah waktunya kulepaskan. ” bisik Roy lirih, yang masih bisa terdengar ketiga orang tersebut.
Alex menahan nafasnya, rasa marah atas kejadi beberapa jam lalu, langsung digantikan rasa gugup luar biasa atas restu? — bisakan Alex berucap bahwa ini adalah restu?.
Abigail masih terdiam, tenggorkannya seolah tercekat, kedua matanya berkaca-kaca, apalagi melihat tatapan ayahnya yang seakan ingin mereka berpisah, “Kamu adalah satu-satunya perempuan yang membuatku bertahan bersama ibu-mu sayang. ” ucap Roy jujur.
Sudah lama ia ingin menceritakan hubungannya dengan Elliot yang mulai merenggang, sejak Abigail masih duduk dibangku sekolah dasar, hubungannya dengan Elliot renggang, karena keduanya yang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Elliot yang tak mau berhenti bekerja, dan Roy yang memang seharusnya tetap bekerja.
Hingga beberapa pekan ini, ia sudah resmi bercerai dengan Elliot, dan menikahi seorang perempuan yang memang telah menemaninya sejak Abigail masih kecil. Roy takut, takut kalau anaknya tidak bisa membina rumah tangga yang baik, apalagi dengan Alex, yang notabenya sebentar lagi juga akan berpisah.
Ia takut kalau nasib anaknya, sama seperti nasib Jesse, keponakkan nya, anak dari kakak perempuan Alex, yang sudah meninggal sejak Jesse masih kecil.
“Aku harap kau bisa menjaga putriku dengan baik. ” ucap Roy beralih menatap Alex yang juga menatapnya serius, kedua pria workholic inilah yang sering bersaing salam dunia bisnis.
Namun dalam hal ini, Alex akan benar-benar sangat menghormati Roy, ayah dari kekasih kecilnya. Troy meneguk ludahnya kasar, ia sungguh bahagia mendengar ucapan dari mantan tuan-nya itu, ia turut merasakan rasa legah, karena yang ia lihat selama ini, Alex memang benar-benar mencintai Abigail.
__ADS_1
“Tentu Roy— eh! maksudku... ” ucapan salah tingkah dari Alex yang memanggil Roy tanpa sebutan, segera dipotong Roy dengan cepat.
“Tenanglah anak muda.... aku akan lebih menyukai jika kita seperti teman. kau bisa memanggilku Roy, tanpa embel-embel MR. ” ucap Roy terkekeh sejenak, Alex menahan senyumnya, ia bangkit dari duduknya, lalu berhadapan langsung dengan Roy.
Abigail menatap kedua pria di sisi ranjangnya dengan haru, akhirnya
kedua pria yang sangat berarti didalam hidupnya, bisa akur dan damai. ini seperti sebuah mimpi baginya, jika tadi pagi ia masih bersi tegang dengan sang ayah, lalau berusaha kabur melewati tebing, dan hampir saja terjatuh jika Alex tidak menolong, kini justeru semuanya berbanding terbalik.
“Papah.. terimakasih. ” cicit Abigail sambil berusaha menduduki dirinya, Alex membantu Abigail untuk duduk dengan mudah, lalu Roy melangkah mendekat, ia menunduk mensejajarkan tingginya dengan Abigail, Roy tersenyum dan memeluk putrinya penuh kasih sayang.
“Tidak perlu ber-terimakasih sayang, ini sudah kewajiban papah sebagai orangtua mu. ” ucap Roy setelah pelukan keduanya terlepas, sekarang ia beralih memeluk Alex yang juga membalas pelukannya.
Keduanya berpelukan dengan gentle, Roy menepuk punggung Alex sekilas, pelukan mereka terlepas, Alex tidak bisa menyembunyikan rasa senang nya, ia benar-benar senang sekaligus bahagia saat ini.
“Tentu saya tidak ingin membuang-buang waktu untuk menjadi gelandangan Tuan. ” ucap Troy cepat, yang membuat seisi ruangan menjadi tergelak tiba-tiba.
•••••
Abigail sudah diizinan pulang oleh dokter setelah dua hari dirawat disana, selama dirumah sakit, Alex selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang, hubungan dengan ayahnya juga sudah membaik, dan Troy pun kembali bekerja bersama Roy sebagai asisten pribadi pria tersebut.
Abigail sedang sibuk memandang Alex yang berkutat didalam dapur dengan begitu lihai, dirinya sangat legah mendapati suasana yang sudah kembali normal, abigail menggigit bibirnya memandangi tubuh Alex yang menurutnya sangat hot.
__ADS_1
“Yang bener ya masaknya kang! ” seru Abigail jail yang dihadiahi kekehan tampan oleh Alex, Alex bergerak dengan cepat, hingga akhirnya sepiring omelet beserta nasi, sudah tersedia diatas piring kerami seharga ratusan dollar.
Mereka sudah kembali tinggal di apartment Alex, namun hanya sampai dua hari saja, karena selanjutnya, Abigail akan tetap tinggal di mansion nya. dan jika mereka ingin bertemu, Roy hanya mengizinkan saat Alex sudah sepenuhnya bercerai dengan Jesse. berarti, ya tiga bulan lagi.
Alex telah selesai dengan kegiatan memasaknya, ia menjepit ujung piring dengan jempol dan jari telunjuknya, Alex menghempaskan pantatnya diatas sofa samping Abigail, ia sedikit tersentak kaget saat Abigail langsung duduk diatas pangkuannya.
“Abi! hati-hati! ” sergah Alex kesal saat Abigail mengagetkannya, Abigail meringis dengan senyuman, “Kalau piring nya jatoh, terus kena kamu gimana Abi?! jangan kaya gitu lagi! ” lanjut Alex tajam.
Abigail mengangguk lesu, niatnya yang ingin mengunyel-unyel pipi Alex menjadi urung, ia merubah posisinya menjadi kembali duduk disamping Alex, tidak dipangkuannya lagi. Alex juga tampak acuh, tidak memperhatikan mimik wajah Abigail yang sudah tidak bersemangat.
“Aaa ” bibir Abigail refleks terbuka, ia menerima suapan Alex pada mulutnya, Abigail mengunyah dengan sangat intens.
Rasa omelet ini sangat enak menurutnya, walau hanya sebuah omelet, namun rasanya berbeda dengan omelet-omelet yang pernah ia makan, Abigail menegakkan punggungnya, ia menyampingkan badannya, wajahnya mencondong tak sabar menerima suapan Alex disampingnya.
Melihat omelet itu yang ingin habis, Abigail menjadi meringis pelan, ia tak ingin merepotkan Alex lagi, sudah cukup sikapnya yang menyusahkan ini, membuat Alex meninggalkan perusahaan selama beberapa hari.
“Aaa ” suapan terakhir itu masuk kembali kedalam bibir Abigail, Alex tertawa sejenak, ia sungguh gemas dengan wajah mupeng Abigail, yang menginginkan sesuatu.
“Mau lagi? ” tanya Alex mengangkat sebelah alisnya, Abigail mengangguk dengan cepat.
Tanpa instruksi apapun, tangan kanan Alex yang berada dekat dengan tubuh Abigail yang sedang duduk menyamping disisinya, menjadi melingkar pada pinggang Abigail, Abigail yang peka pun, langsung melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Alex, dengan mudah pria itu mengangkat tubuh Abigail yang melingkar menyamping di tubuhnya.
__ADS_1
Sedangkan tangannya yang bebas, masih menjepit ujung piring dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Kedua tangan Abigail melingkar pada leher Alex, ia menepelkan pipinya pada pundak Alex yang tegap dan proposional.