
Author Point of view.
Abigail merekatkan kedua tangannya pada bahu Alex, ia memeluk Alex begitu erat, senyum samasekali tak luntur dari bibirnya yang merah merekah, kedua kakinya ia jinjitkan hingga bibirnya yang tersenyum mengecup pipi Alex lembut.
Abigail mengelilingi pandangannya, ia berdiri diatas podium yang akan menjadi tempatnya menikah nanti. Padahal hari sudah malam, hanya tinggal beberapa orang lagi yang sedang mengerjakan banyak hal disana.
Tapi keduanya enggan untuk beranjak, keduanya masih ingin menikmati mata mereka dengan euphoria-euphoria yang sedang terjadi hari ini, hingga kedepannya.
Setelah dirasa cukup berada disini hingga malam hari, Alex menarik kekasih kecilnya itu, untuk kembali masuk kedalam mobil, karena letak tempat resepsi yang di selenggarakan di hotel ini, berdekatan dengan komplek elite perumahan mereka.
Abigail mencebikkan bibirnya kesal, ia menyenderkan kepalanya pada dada bidang Alex dengan tangan yang melingkar pada pria itu dari samping, tidak memperdulikan adanya supir yang sedang mengemudi di depan.
Ditengah perjalanan hanya ada keheningan, karena Abigail yang mudah sekali tertidur dibawah usapan tangan Alex pada pucuk kepalanya.
30 Menit Kemudian....
Alex menggendong Abigail untuk masuk kedalam rumah, ia melangkah memasuki kamar Abigail yang nantinya akan kekasih kecilnya ini tinggalkan, karena setelah menikah, tentu Alex akan membawa Abigail pergi kerumah mereka, yang sudah Alex persiapkan sedari dulu,
untuk calon istri sesungguhnya. Yang benar ada, dan mencintainya.
Alex membaringkan Abigail di atas ranjang, lalu ia kecup kening Abigail lembut, sebelum beranjak pergi dari kamar calon istrinya itu. Alex lebih memilih untuk singgah di kamar tamu sementara, sebelum akhirnya mereka berdua resmi, Alex samasekali tidak menginginkan hubungan badan.
“Cinta. ”
Alex terkekeh sendiri dengan bisikannya barusan, kedua tangannya menggenggam railing balkon, sedangkan matanya menatap langit-langit malam yang menampakkan bintang. pikirannya tertuju pada banyak kenangan manis yang mereka berdua lalui, tidak ada yang sulit untuk perjalan cinta mereka, semuanya serba sederhana namun bemakna.
Alex tersenyum tipis, mengingat awal pertemuan mereka, yang Abigail anggap, hanya ketika dirinya datang ke rumah untuk menjaganya. padahal tidak, Alex sudah mengenal Abigail sejak lama, sejak Abigail masih tumbuh kembang dulu, walau memang perempuan itu pasti tidak mengingatnya.
karena memang dirinya sendiri, yang masih tidak menyadari keberadaan Abigail sebagai seorang perempuan kecil yang sudah beranjak dewasa. hingga saat keduanya dipertemukan lagi, dalam rencana tuhan yang sesungguhnya.
Troy membuang bolpoin nya asal, tidak ada gairah untuknya bekerja, jabatannya yang naik pesat, tidak membuat Troy senang samasekali, justeru ia muak dengan banyaknya lembaran ini, tapi mau bagaimana lagi, atasannya — Roy, memperintahkannya untuk mengatur keuangan perusahaan, karena hanya dirinya lah yang dipercaya, setelah ada insiden korupsi di perusahaan Roy.
“Kenapa semuanya serba membosankan?! astaga! bisa gila aku lama-lama, jika seperti ini terus! lebih baik menguntit orang, daripada harus berhadapan dengan monitor sialan ini! ”
Rutuk Troy menggebrak meja kerjanya kesal, ia tidak peduli dengan suaranya, lagipula ini adalah ruangan pribadinya, ia bebas melakukan apapun.
__ADS_1
Kedua matanya terpejem erat, ia mencengkram ujung meja dengan kesal, dirasa tubuhnya sudah ingin bermanja dengan ke-malasan, Troy langsung pergi melenggang dari ruangan nya.
“Tuan! ”
Troy menghembuskan nafas kesal, ia tersenyum walau tak mau. ia ingin menghargai teman se-bayanya. “Ada seorang wanita yang menunggu anda. ” titah wanita ber-name tag Lidya itu.
“Siapa? ” tanya Troy merasa gusar, perasaannya menjadi tak enak secara tiba-tiba, seolah akan terjadi suatu hal yang tidak di inginkan.
“Efsun tuan, ia bilang kalau dirinya adalah istri anda. ”
Hal itulah yang terakhir Troy dengan dari bibir layla, karena selanjutnya ia langsung berjalan cepat menyusuri perusahaan, Troy langsung menuju lobby utama, yang ia yakini adalah tempat berdiri istrinya saat ini.
“Kak! ” pekikan lembut itu menyapa telinga Troy, kedua tangannya mendekap pelan istrinya yang juga memeluknya saat ini.
Keadaan lobby memang ramai, namun Troy tidak memperdulikkan itu, hingga akhirnya ia membawa Efsun, istrinya, keluar dari perusahaan, lalu berhenti di parkiran karyawan yang tidak terlalu jauh.
“Kak.. ” panggil Efsun menghentikkan Troy yang ingin membuka pintu mobil untuknya, Efsun menahan tangan suaminya itu, untuk ia genggam dengan kedua tangannya.
Troy mengangkat satu alisnya sambil tersenyum, “Apa Efsun-ku sayang? ” tanya Troy lembut, diselingi godaan yang membuat Efsun tersipu.
Efsun mendekat, ia menjinjitkan kakinya, lalu bibirnya bergerak menyerupai bisikkan, Troy masih terdiam, hingga ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja istrinya katakan.
Seperkian detik, entah kapan akhirnya Troy bergerak dari keterdiamannya, namun saat guncangan pada bahunya terjadi, Troy langsung menarik tubuh istrinya dengan penuh rasa semangat yang ada. Dia benar-benar bahagia, dan amat sangat bahagia.
Sedangkan sesosok manusia, yang berdiri dari kejauhan, hanya bisa tersenyum miris, lalu menghela nafas sambil mengusap perutnya juga, sebutir air mata jatuh di pelupuknya, saat melihat keadaan ayah dari bayi yang sedang ia kandung, tengah mengusap perut wanita lain, yang memang istri sebenarnya.
“Kita akan mencari kebahagiaan sendiri sayang. Jangan merasa sedih, karena takdirnya orang baik memang bahagia, dan orang yang berusaha menjadi baik, akan mendapatkannya juga, walau secara perlahan. ”
bisik wanita itu lirih, ia langsung membalikkan tubuhnya, langkah kakinya pergi membawa tubuhnya yang berbadan dua.
21 April - 2020
Abigail memeluk lengan pria yang sudah resmi menjadi suaminya dari samping, tubuh mereka yang memunggungi para sanak saudara dan juga tamu, kini ditunggu untuk terbalik setelah saat melempar sebucket bunga mawar putih.
“Satu! ” seru pembawa acara yang menuntun rasa resepsi kali ini.
__ADS_1
“Dua! ” serunya lagi semakin membuat para tamu bersiap dan mengambil ancang-ancang.
“Tiga! ”
Semuanya tiba-tiba menjadi hening, hingga saatnya satu tangan Abigail yang tidak memeluk lengan Alex melayang, diikuti juga satu tangan Alex yang bebas tak dipeluk Abigail, kini ikut melemparkan bucket bunga itu.
“Aaaa!!!! ”
Sorakan gembira dari salah satu tamu terdengar, bertepatan dengan kembalinya posisi pengantin menghadap para tamu. Alex dan Abigail tersenyum, ternyata yang mendapatkan bunga itu adalah sekretaris Alex, perempuan yang mengganti
kan posisi Abigail yang berhenti berkerja, sejak ia hamil.
Alex memutar tubuhnya menjadi kesamping menghadap Abigail yang juga menghadapnya. tangannya terangkat menyentuh wajah Abigail yang sangat cantik dan bersinar, bibirnya tersenyum membentuk sebuah kebahagiaan, hingga akhirnya para tamu kembali bertepuk tangan, melihat mempelai pria yang mengecup bibir pengantinnya.
Kedua mata Abigail terpejam, kedua tangannya terangkat untuk mengalung indah pada leher pria yang baru saja, resmi menjadi suaminya.
Jalan takdir memang sungguh tak terduga, Abigail mengingat saat pertama kali kontak interaksi yang dilakukan dirinya dan Alex pada malam itu. menonton televisi bersamaan dengan popcorn yang memisahkan keduanya di atas sofa, hingga pahanya yang tak sengaja merasakan cipratan air dari susu cokelat yang dibuatkan Alex untuknya. berakhir di kamar pria itu yang akhirnya mencurahkan segala keresahan di hatinya.
“Mr. Alexander. my hubby, my husband, my love. Bagiku, kau adalah cintaku hari ini dan juga hari-hari berikutnya. Dan akan seperti itu selamanya.”
Ujar Abigail setelah penyatuan bibir mereka terlepas, Alex menahan air matanya yang akan jatuh karena ke-terharuan. bibirnya tak ingin kalah dalam berucap kata cinta, yang terucap tulus dari dalam hati dan benaknya.
Mc memberikan mic pada Alex, keduanya mundur satu langkah untuk memisahkan jarak mereka yang berpelukan tadi, tangan Alex menggenggam badan mic dengan begitu tenang. se-tenang ucapan, yang ia lontarkan saat ini.
“Aku menikahimu untuk menjadi sahabat terbaikku, pasanganku yang setia, dan cinta sejatiku satu-satunya.” ujar Alex bersungguh-sungguh, yang di pandangi seluruh kru, keluarga, dan juga para tamu.
“Aku berjanji untuk selalu mendukungmu dan menjadi inspirasi untukmu serta mencintaimu dengan tulus dalam suka dan duka.” Alex menghentikkan ucapannya, hingga kedua belah bibirnya kembali terbuka untuk berucap.
“Aku akan selalu di sisimu untuk tertawa bersamamu, menghiburmu ketika kau bersedih, dan mencintaimu dengan tulus dalam setiap petualangan hidup yang kita lalui bersama.”
Dalam sekali tarikan nafas, Alex berhasil mengutarakan isi hatinya. semuanya langsung bertepuk tangan menyambut keselarasan cinta bagi keduanya, nyonya Elliot yang tak lain adalah ibu dari Abigail, tersenyum lebar bersamaan dengan Roy yang berdiri disamping Troy, asistennya.
“I love you bubu.. ”
“I love you to hubby! ”
__ADS_1