TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapter 06


__ADS_3

Kedua mata Abigail yang terpejam mulai menyeringit terbuka. Kedua mata indahnya mulai menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melewati celah-celah jendela. Ia menggeliat kecil sambil mengusap bagian kasur di sisi kirinya. Mencari keberadaan pria yang sudah tidur dengannya tadi malam. Tanpa Abigail sadari Alex tengah berdiri tegap hanya dengan handuk yang melilit pada pinggangnya.


“Alex.” panggil Abigail manja. Alex terkekeh sekilas, lalu ia hampiri Abigail yang tertidur miring dengan posisi memunggunginya.


Setelah sampai di sisi ranjang Alex langsung saja menyadarkan Abigail dengan keberadaannya. “Kau mencari ku? ” tanya Alex ringan. Abigail menoleh dengan kaget, matanya langsung membulat sekilas disaat Alex mulai mengusap pipinya.


“Kamu mau kemana? ” tanya Abigail setelah Alex menjauh, menghampiri lemari besar di sudut ruangan.


“Mau kerja. ” jawab Alex singkat sambil memakai kemejanya dengan acuh. Abigail menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap penuh kearah Alex yang mengancingi kemeja dengan gerakan lambat.


“Air liur mu Abigail.” goda Alex masih fokus terhadap kegiatannya mempersiapkan diri. Buru-buru Abigail langsung saja meraba mulutnya. Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu saja terfokus kan pada Alex. Abigail mencebikkan bibirnya sebal saat tak mendapati apa yang Alex katakan.


“Bohong!” seru Abigail melemparkan bantal kearah Alex. Alex tertawa sekilas sambil menghampiri Abigail dengan tangan yang masih bertengger pas pada handuk di pinggangnya.


“Abigail.” panggil Alex setelah berdiri di sisi ranjang Abigail. “Bisakah kau keluar terlebih dahulu? aku akan melepaskan handukku.” titah Alex dengan senyuman miring. Abigail langsung mengangguk patuh, dan beranjak turun dari kasur.


Namun pergelangan tangannya di cekal saat Abigail sudah mengambil aba-aba untuk melenggang pergi dari kamar. Alex memegang kedua lengan atas Abigail yang memunggunginya. “Aku tidak berharap jawaban itu yang keluar, Abigail. ” bisik Alex menyusuri lengan abigail dengan dua jarinya hingga ke ujung tangan.


“Tidakkah ini terlalu cepat?” tanya Abigail dengan sekuat tenaga. Ia memejamkan matanya saat tangan Alex beralih memeluk perut nya dari belakang.


“Lebih cepat lebih baik, Abigail.” jawab Alex tenang, menaruh dagunya di atas pundak Abigail yang tertutupi oleh babydoll yang ia kenakan.


“Apanya yang lebih cepat?” tanya Abigail spontan. Hingga merentak maju, melepaskan tubuhnya dari kukungan Alex. Punggungnya berputar hingga wajahnya menghadap pria yang kini sedang menatapnya intens.


“Lebih cepat kau naik keatas puncaknya kenikmatan, Sayang. ” bisik Alex meraih dagu Abigail dengan ibu jarinya. Abigail menyatukan alis tebal nya bingung. Matanya menyipit refleks karena tak paham.


Alex berdecak sekilas saat gadis di hadapannya memang tak mengerti hal-hal semacam itu. Segera Alex bawa punggung Abigail untuk memunggunginya kembali. Lalu Alex gerakkan kedua tangannya yang bertengger manis pada kedua sisi paha Abigail. Abigail melenguh dengan mata yang membesar sekilas. Ia menggigit bibir bawahnya disaat telapak tangan kasar Alex menekan pahanya hingga memutar ke depan.


“J-jangan.. ” Abigail menundukkan wajahnya. Menatap tangan besar Alex, yang mencangkup masing-masing pahanya yang putih mulus. Ia menolehkan wajahnya kebelakang, mendapati senyum licik Alex yang tersungging dengan indah.

__ADS_1


“Kemarin...”


“Aku menyentuh mu di bagian ini.” tangan Alex berpindah tempat menuju **** ***** Abigail yang paling privasi.


Abigail berusaha tersenyum rilex ditengah-tengah kegugupannya yang sedang melanda. Mencoba berani, Abigail membuka suaranya. Walau masih saja gugup. “I-itu kan kemarin, sekarang ng-ngga boleh lagi. ” potong Abigail cepat, sambil berusaha menyingkirkan tangan kekar Alex yang membuatnya merasa risih.


Alex tertawa gemas melihat tingkah laku Abigail yang sangat lucu menurutnya. Abigail bukanlah remaja labil lagi. Ia sudah berumur 19 tahun. Sudah harus mengerti hal-hal semacam ini. Namun Abigail berbeda. Alex yakin Abigail adalah anak yang tidak pernah melihat gemerlap nya dunia luar. Abigil adalah anak yang sangat dilindungi. Tidak mungkin untuknya mengetahui hal sensitif seperti ini.


“Abigail, lebih cepat kau keluar akan lebih cepat aku memakai celanaku, oke?”


Titah Alex menahan sudut bibirnya yang berkedut. Abigail langsung mengangguk cepat. Abigail meninggalkan Alex dengan berlari kecil. Alex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, menghadapi sikap Abigail yang sangat polos menurutnya.


...★★★...


Siang harinya.


(+1) 66******


haii


aku udah siapin makan siang nih


abis ini abi mau jalan jalan


alex, ganggu ya?


Alex menyeringitkan keningnya bingung. Jarinya ingin mengetik pesan, bertanya tentang siapa gerangan. Namun ia terhenti saat pesan kembali masuk.


kok di read aja sih? lagi sibuk ya? yaudah deh, abigail mau tidur lagi. cari kerja nya besok aja, tunggu papa pulang.

__ADS_1


Sebelum Abigail benar-benar tertidur, Alex langsung saja membalas pesan Abigail dengan cepat.


^^^Jgn tdr lg abi.^^^


^^^Km dtg k ktr sy.^^^


^^^Jgn lp bwakan mkn.^^^


Alex menatap tajam layar ponselnya. Ia mengharapkan Abigail tidak benar-benar tertidur. Entah sejak kapan kehadiran Abigail sangat berpengaruh terhadap kondisi hatinya sekarang. Gadis itulah yang selalu membuat Alex merasa senang ditengah-tengah penatnya.


iihh ngetik apasih?


engga kebaca, abi engga tau


abi mau tidur lagi aja.


kalau mau makan, pulang aja ke rumah.


Mata Alex langsung saja melotot. Refleks ia berdiri dari kursi kebesarannya. Wajahnya menunduk memperhatikan huruf-huruf abjad dengan baik dan benar. Sungguh, Alex tak pernah mengirim chat seperti ini sebelumnya.


^^^Maksud saya, kamu jangan tidur dulu Abigail. Kamu datang ke kantor saya, lalu bawakan saya makan.^^^


typing....


Alex melangkah secara tak teratur. Ia memijat keningnya pusing, dengan tangannya yang lain, Alex masih saja menggenggam ponsel sambil sesekali memperhatikan layarnya yang menyala. Ia menunggu jawaban Abigail, namun gadis itu masih belum menjawab pesannya.


oke om!


Alex tersenyum puas, walau tak sepenuhnya senang dengan panggilan yang Abigail berikan untuknya. Alex mengedikkan bahunya acuh dengan tangan yang langsung melempar ponselnya asal kearah sofa. Buru-buru Alex rapihkan berkas yang berserakan di atas meja. Dengan rapih ia rapihkan pakaiannya yang sempat lusuh, untuk kembali sempurna. Lalu Alex mendudukan dirinya cepat. Menunggu kedatan gadis yang saat ini baru hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2