
Kepalan tangan Alex semakin mengeras, apalagi saat orang yang ia sayangi, tengah meronta-ronta minta dilepaskan oleh para orang suruhan Roy, terlihat sekali bahwa Abigail menolak keras saat dirinya ditarik dengan paksa oleh para perempuan itu.
Abigail terlonjak-lonjak ingin menggapai tangan Alex, namun kedua tangannya di cekal abis oleh dua orang wanita, Dadanya naik Turun seiring hembusan nafasnya yang tak bergembira, Abigail terus meneriaki Nama Alex, namun pria itu seolah tak mendengarkannya sama sekali.
“HUBBY! BUBU! HUHUUU! ” Abigail terus berteriak dengan tangis yang pecah, Kepalan tangan Alex mengeras, mendengar tangis Abigail yang tergugu-gugu.
“BUBU ENGGA MAU HIKS! ” Abigail berhasil melepaskan cekalan di kedua tangannya, ia beralih ingin menggapai Alex, namun pinggang beserta tangannya di kurung keras oleh pria yang sejak kecil ia panggil papah.
“HUBBY KOK DIEM SIH! BUBU ENGGA MAU! ” Teriak Abigail menghentak-hentakkan tubuhnya, Roy semakin erat mengukung tubuh anaknya dari belakang, ia menyeret Abigail keluar dengan susah payah.
Wajah Alex sudah merah padam, ia tengah dilanda dilema sekarang, melepaskan Abigail bukan berarti ia tidak mencintai gadis itu, namun diluar ia mencintai Abigail, kedua orangtua nya lebih penting.
“ENGGA MAU! ENGGA MAU! ENGGA MAU! ” Abigail mengulurkan tangannya, seolah ingin sekali Alex menjeputnya, namun semuanya telah terlambat, tubuhnya telah dimasukkan paksa kedalam mobil, Abigail masih berusaha meloloskan diri, walau dirasa tak mungkin.
Tubuhnya di apit oleh kedua orang wanita yang tak ia kenali samasekali, wajah mereka sangat datar dan mengerikan menurut Abigail, Abigail menutup mulutnya marah, ia marah saat tangisnya masih pecah walau mobil sudah dijalankan.
Dada nya sesak sekali karena banyak menangis, ia kecewa saat Alex hanya diam tak menanggapi, Abigail masih terus menangis dengan pikiran kosong, ayahnya berada di mobil lain, tangannya buru-buru memegang perutnya, wajahnya menunduk berusaha meyakinkan bahwa bayi nya baik-baik saja.
“engga papa kan disana! nanti ayah pasti jemput kita! oke... oke... ” ujar Abigail menenangkan dirinya sendiri, tangannya mengusap perutnya dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
••••
__ADS_1
Disisi Lain...
Alex melangkahkan kakinya kearah kamar, ia hanya akan mengambil kunci mobil untuk pergi kerumah ibunya, karena disaat pikirannya sedang runyam begini, satu-satu nya solusi untuk mencari jalan keluar adalah, saran dan kasih sayang seorang ibu.
Hidungnya kempas kempis, namun ia menarik nafasnya dalam, ketika aroma tubuh Abigail masih membekas didalam kamarnya, Tangannya meraih kunci mobil diatas nakas, namun matanya tertuju kepada bingkai yang menampakkan fotonya dengan Abigail.
Alex menatap sekeliling kamarnya, dan benar saja, bahwa banyak foto di dinding kamar yang samasekai tak pernah ia isi dengan bingkai, ia tak tahu sejak kapan banyak foto-foto seperti ini, namun ia Meyakini, bahwa Abigail lah yang pasti melakukan ini semua.
Ia dan Abigail memang seringkali berselfie, walau harus memakai paksaan untuk mengajak nya berfoto, namun Alex sama sekali tak pernah menolak ajakan Abigail, justeru ia menyesuaikan keinginan kecil Abigail, yang dilakukan di usia remaja kekasih kecilnya itu.
Sejenak Alex merasa bingung, ia bingung harus melakukan langkah selanjutnya, namun tekad nya sudah bulat, mundur satu langkah, untuk melompat sejauh mungkin.
••••
Sampai dirumah ibunya yang jauh lebih besar, Alex disambut dengan keluarga besar yang ternyata tengah berkumpul, Alex tersenyum ramah, ia ber highfive dengan keponakan-keponakan nya yang masih kecil.
Keluarga nya memang sangat hangat sedari dulu, ia bersyukur telah dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. wajah Alex menjadi kembali murung, mengingat kasih sayang, mengantarkan pikirannya tentang Abigail yang sangat memanjakannya dengan segala sikap aktif dan agresif yang Abigail miliki.
“Hei! anak kesayangan Mona udah dateng nih?!!! ”
Alex tersenyum, ia menghampiri satu-satu para tante, omah, nini, atau segala macam keluarganya, terakhir ia menghampiri sang ibu, yang sederhana dan jauh dari kata glamour. “Alex bu. ” Alex memeluk ibunya, ia tersenyum hangat, walau sang ibu tak dapat melihatnya.
__ADS_1
“Alex mau makan apa nak? biar bibi siapin?” tanya sang bibi perhatian dengan hadirnya Alex, alex terkekeh sejenak hingga akhirnya ia membalas ucapan sang bibi.
“Pizza dan shackburger. ” Jawab Alex dengan nada Jenaka, sang bibi langsung mengangguk dan melenggang pergi untuk menyiapkan.
Alex menuntun ibunya untuk duduk diatas sofa, semua yang sedang berada di sofa, langsung menyingkir dengan peka, para keponakan nya berpindah menjadi duduk diatas karpet berbulu yang elegant dan mewah, begitupun dengan Alex yang sedang santai membicarakan pekerjaan dengan sepupunya.
“Alex udah cari calon baru? ” celetuk gretta kepo yang langsung membuat suasana menjadi hening.
Yaps, seluruh keluarga Alex memang sudah mengetahui perceraian nya dengan Jesse, karena ia sendiri yang secara diam-diam membicarakan itu dengan ibunya, walau awalnya sempat kecewa, sang ibu menjadi mengerti dengan penderitaan anaknya yang salah memilih pasangan hidup, dulu.
“Hust, Alex juga baru cerai gretta, masa mau nikah lagi, ada-ada aja kamu. ” balas kartika, yang adalah adik dari ibu Alex. “Tapi kalau Alex mau cari, tinggal calling-calling tante aja oke?! tante punya banyak kenalan loohh” lanjut kartika menggoda, dengan logat nya yang kekinian.
Alex hanya tersenyum menanggapi itu, jangan harap ia akan bersikap kasar dan otoriter jika bersama keluarganya, karena sikap Alex akan berubah 180° jika sudah bersama keluarganya, ia akan menjadi pribadi yang hangat dan juga sopan.
•••••
Aku sangat berterimakasih buat yg udh luangin waktunya untuk komen😅
1 kata untuk sikap alex sejauh ini tuh gimana?
__ADS_1