TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapte 15 : meresapi


__ADS_3

Disepanjang perjalanan, Abigail samasekali tidak berbicara atau membuka suara, Alex juga tidak ingin memancing Abigail, karena Lebih baik jika Abigail mengatur rasa emosional nya terlebih dahulu, baru ia jelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya, terhadap kedua orangtua Abigail, dan mengapa itu terjadi.


Seharusnya Abigail belum mengetahui ini semua, motif dibalik ia di titipkan oleh dirinya, Alex adalah seorang pengusaha, yang memiliki banyak jaringan, Alex sudah mengetahui bahwa kedua orangtua Abigail memang masing-masing tidak akur, hingga membuat keduanya ingin berpisah, Jadilah iming-iming pekerjaan diluar negeri, yang disebutkan kedua orangtua Abigail itu, bohong. mereka melakukan perceraian dengan proses yang panjang, hingga membuat Paman nya itu, Yang tak lain adalah ayah dari Abigail, menitipkan anaknya itu, pada dirinya.


Alex samasekali tidak terlibat dalam perceraian itu, namun ketika paman nya itu memberikan perintah untuk mencarikannya sebuah pengacara, tentu saja Alex akan laksanakan, keraguan dalam hatinya belum terlihat saat tahu bahwa paman nya itu ingin bercerai.


Jadi ia biarkan saja, tanpa harus membujuk paman nya agar tidak bercerai, ataupun mempertahankan ikatan suci itu. Ia sedikit menyesal jika tahu kekasih kecilnya akan terpukul seperti ini, tapi ia juga menyayangkan, jika dua orang yang bersatu, masing-masing sudah memiliki hati yang lain, itu sudah masuk tahap toxic relationships. Kali ini, Alex membawa Abigail kerumah nya, Rumah pribadi. Bukan ke apartment nya kembali.


“Udah sampai bubu.. ” Alex menoleh kesamping, Abigail sepertinya masih tak sadar dengan keberadaan mereka, Abigail masih terdiam, sama seperti apa yang terjadi di restaurant.


“Bubu... ”


“Eh! ” Abigail langsung tersentak kaget, Lamunan nya langsung buyar seketika, walau ia sempat ingin mengecup pipi Alex, tapi ia mengurungkan nya kembali, teringat apa yang sudah terjadi.


Abigail melengoskan wajahnya, ia merasa bahwa Alex telah membohonginya, ia merasa bahwa Alex lah dalang dibalik perceraian kedua orangtua nya, ia merasa bahwa Alex mendukung proses perceraian kedua orangtua nya, andai saja Alex mengatakan hal yang sedang terjadi diantara kedua orangtua nya, Abigail yakin, dirinya bisa membuat kedua orangtua nya kembali bersama lagi.


Namun semuanya sudah terlambat, bahkan kedua orangtua nya masing-masing sudah memiliki pengganti dan juga seorang anak, yang pastinya akan menyingkirkan posisi Abigail di hati mereka.

__ADS_1


Abigail sudah merasa cukup dengan semuanya, namun mengetahui hal ini, ia merasa rendah, karena tak memiliki kedua orangtua yang masih bersama. Abigail merasa, dirinya tak berharga, hingga tidak bisa membuat kedua orangtua nya agar tetap bertahan.


Abigail menundukkan wajahnya dalam, air menggenang di pelupuk matanya, bibirnya bergetar seperti menggigil, ia sungguh merasa tidak berguna sebagai anak. Alex yang ternyata sudah berada diluar mobil, baru saja ia ingin mengajak Abigail untuk turun dari mobil, setelah berhasil membuka pintunya, menjadi tersentak kaget, melihat wajah abigail yang sudah menangis.


“Bubu.. ” Alex mendesah pelan, ia mengangkat tubuh Abigail untuk berada di gendongannya, Abigail tidak menolak, ia sedang sibuk menangis.


Alex menutup pintu mobil dengan kaki nya, satu tangan nya berada melingkar di pantat Abigail, sedangkan tangan nya yang lain, memeluk punggung Abigail agar tak terjatuh. Abigail mencengkram erat pundak Alex, tanpa sadar giginya menggigit kemeja kerja yang alex kenakkan. Abigail terus terisak, hingga Alex sudah membawanya keruang tengah.


“Hiks.. ”


“Bubu, tenang. ”


“Bubu.. ”


“Hiks, Hiks.. ”


“Abigail ! ”

__ADS_1


“Hiks! ”


Abigail mendorong Dada Alex yang menempel, ia menurunkan sendiri tubuhnya dari gendongan Alex dengan kasar, Ia tersinggung saat Alex bukan menenangkannya, melainkan malah membentak nya. pandangannya mengedar, ia baru sadar jika ini bukan apartment Alex, Jalan satu-satu nya keluar adalah pintu utama yang terbuka.


“Hiks! ” Abigail mengelap kasar hidungnya, ia berusaha berlari untuk keluar dari rumah yang asing baginya. Ia malu, jika harus tetap bertahan dengan Alex. Ia merasa bagaikan benalu bagi semua orang. Ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi sekarang.


Alex langsung cepat menghampiri Abigail dengan memeluk nya erat dari belakang, abigail terus terisak, bersamaan dengan rontaan-rontaan yang semakin melemah. Ini yang Alex takutkan, Jika saja Abigail mengetahui kebenarannya, secara tiba-tiba. Ia pasti akan terpukul. memangnya siapa yang tidak akan terpukul, jika saja kedua orangtua pamit untuk pergi secara bersama, namun saat kembali, mereka sudah berpisah tanpa ikatan.


“s-sakiitt!!!! ”


Tubuh Abigail langsung meluruh, Ia memegang perut nya sambil meringis kesakitan. Alex langsung panik, bingung untuk melakukan apa. segera ia berteriak, untuk memanggil para pekerja Rumah.


Alex langsung menggendong abigail dengan cekatan,


“Sssssaaakiiitttt... S-sakiitt! ”


Alex membawa Abigail tetap didalam gendongannya, ketika ia sudah berada di jok belakang, sedangkan supir sedang mengendarakan mobil dengan tergesa-gesa. Alex tak henti-henti nya menenangkan Abigail, di lubuk hatinya yang paling dalam, Alex merapalkan doa disepanjang jalan.

__ADS_1


“Aku mohon Tuhan. Kau yang paling tau segalanya, jangan renggut kebahagian ku dengan Abigail...Baru kali ini, aku merasakan bahagia dan hidup didalam perjalananku. kau telah memberikanku banyak rezeki. namun kali ini, aku hanya mengharapkan kesehatan anakku, serta wanita yang sedang mengandung benih ku. ” - Rapal Alex dalam batinnya.


Abigail terus mengerang, sambil meremas kemeja Alex yang sudah sangat lusuh. Alex hanya terdiam dalam kecemasan, sambil terus mengusap perut Abigail naik turun, bersamaan dengan bibirnya yang mengecup pucuk kepala Abigail.


__ADS_2